Usaha Memajukan Bahasa Indonesia di Era Milenial bukan lagi sekadar wacana di ruang kelas, melainkan gerakan kreatif yang hidup di ujung jari. Bayangkan, bahasa yang dulu mungkin terasa kaku di buku pelajaran, kini menjelma dalam dentuman lirik lagu, visual meme yang jenaka, hingga obrolan seru di podcast. Di tengah gempuran bahasa global, generasi digital justru punya kekuatan untuk membawa bahasa Indonesia ke panggung yang lebih dinamis, relevan, dan tentu saja, asyik untuk diikuti.
Upaya ini melibatkan kolaborasi unik antara kecerdasan buatan platform media sosial, strategi konten kreator, inovasi pembelajaran berbasis game, dan semangat komunitas daring. Intinya, memartabatkan bahasa Indonesia kini berarti bertemu audiens milenial dan Gen Z di habitat mereka, dengan bahasa mereka, tetapi tanpa mengorbankan kekayaan dan kaidah yang menjadi jati diri. Ini adalah momen di mana tradisi bertemu tren, dan setiap like, share, atau thread bisa menjadi kontribusi nyata.
Peran Media Digital dalam Pemartabatan Bahasa
Media digital bukan sekadar tempat berselancar, tapi telah menjadi ruang kelas bahasa yang paling luas. Di tangan generasi milenial dan Gen Z, platform seperti Instagram dan TikTok berubah menjadi kanvas untuk kampanye kreatif yang membuat bahasa Indonesia terasa relevan, hidup, dan asyik untuk dipelajari. Kuncinya adalah mengemas kaidah yang baik dan benar dalam format yang ringan, mudah dibagikan, dan sesuai dengan bahasa visual audiens muda.
Keberhasilan memartabatkan bahasa di era digital sangat bergantung pada pemilihan format konten yang tepat. Setiap format memiliki kekuatan dan cara penyampaian yang unik untuk menyentuh segmen milenial yang berbeda, dengan dampak pemahaman yang beragam.
Strategi Konten Digital untuk Audiens Milenial
Pemetaan strategi konten membantu dalam merancang kampanye yang terukur. Tabel berikut membandingkan beberapa jenis konten utama yang efektif digunakan.
| Jenis Konten | Format Penyampaian | Sasaran Audiens Milenial | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Video Pendek (TikTok/Reels) | Tips singkat 15-60 detik dengan musik tren, teks bergerak, dan visual dinamis. | Gen Z yang menyukai konten cepat, menghibur, dan mudah dicerna. | Meningkatkan kesadaran akan kesalahan umum dan memperkenalkan kosakata baru dengan cara yang viral. |
| Thread (Twitter/Threads) | Uraian bertahap yang mendalam, diselingi gambar atau GIF untuk menjelaskan satu topik bahasa. | Milenial yang gemar membaca, berdiskusi, dan menyelami suatu topik secara detail. | Memperdalam pemahaman struktur bahasa, sejarah kata, dan nuansa makna dengan argumentasi yang runtut. |
| Infografis (Instagram/ Pinterest) | Data dan penjelasan kompleks disajikan dalam visual yang menarik, padat, dan terstruktur. | Milenial visual learner yang senang konten rapi, informatif, dan layak disimpan. | Mempermudah mengingat kaidah tata bahasa, pola pembentukan kata, dan perbandingan bahasa. |
| Podcast (Spotify/ YouTube) | Obrolan santai namun berbobot dengan narasumber seperti linguis, sastrawan, atau content creator. | Komuter, pekerja, dan pelajar yang mengonsumsi konten secara audial saat beraktivitas. | Mengembangkan apresiasi terhadap keindahan dan keragaman bahasa Indonesia melalui diskusi yang kontekstual. |
Contoh nyata kesuksesan kampanye digital adalah gerakan #KataBaru yang diinisiasi oleh akun-akun literasi. Mereka aktif memperkenalkan padanan kata yang lebih “Indonesia” untuk istilah asing yang sering digunakan. Kata “unggah” dan “unduh” yang kini sangat lahir adalah hasil sosialisasi masif melalui berbagai kanal digital. Sebuah kutipan kunci dari kampanye semacam ini sering berbunyi:
Bahasa itu hidup. Ia harus bisa menamai hal-hal baru di sekitarnya. Memilih kata ‘surel’ untuk ’email’ atau ‘luring’ untuk ‘offline’ bukan sekadar mengganti label, tapi tentang menjaga kedaulatan cara kita berpikir.
Usaha memajukan Bahasa Indonesia di era milenial tak cuma soal kata-kata, tapi juga bagaimana kita memahami dinamika ekonomi yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Seperti kebijakan Bank Sentral Tambah Cadangan Rp60 Triliun, Rasio 20% Tingkatkan Uang Beredar , yang dampaknya perlu kita diskusikan dengan bahasa yang tepat dan mudah dicerna generasi sekarang. Dengan begitu, literasi finansial dan kecintaan berbahasa bisa tumbuh beriringan, memperkuat pondasi bangsa di tengah arus globalisasi yang kian deras.
Untuk tema spesifik seperti “Ungkapan Tradisional Nusantara”, platform YouTube cocok untuk konten yang lebih mendalam. Strategi konten satu bulan bisa dirancang dengan empat episode tematik. Episode pertama membahas ungkapan dari budaya Jawa dan Sunda beserta filosofinya, disajikan dengan animasi ilustratif. Episode kedua mengangkat peribahasa Melayu dan Batak yang relevan dengan dinamika sosial masa kini. Episode ketiga bisa berupa kolaborasi dengan seniman visual untuk membuat “video lirik” yang menampilkan puisi atau tembang berisi ungkapan tradisional.
Episode penutup mengambil format tanya jawab langsung dengan ahli linguistik dan budayawan, membahas bagaimana mengaktualisasikan ungkapan lama dalam percakapan digital anak muda.
Inovasi Pembelajaran Bahasa untuk Generasi Z
Source: mediasulsel.com
Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang interaktif dan gamified. Metode pembelajaran bahasa yang statis dan satu arah sudah tidak lagi memadai. Inovasi diperlukan untuk mengubah penguasaan tata bahasa dan kosakata dari kewajiban yang membosankan menjadi petualangan yang menantang dan memuaskan. Pendekatan melalui game, aplikasi, dan konten yang relatable dengan dunia mereka adalah kunci membangkitkan ketertarikan.
Gamifikasi dalam pembelajaran bahasa tidak sekadar memberi kuis dengan poin. Ia menciptakan sistem di mana kegagalan mencoba kata yang tepat justru menjadi bagian dari proses belajar yang menyenangkan, dengan umpan balik instan dan mekanisme reward yang memacu adrenalin untuk mencoba lagi.
Tools Digital untuk Mengasah Kemampuan Berbahasa
Beruntungnya, banyak tools digital yang bisa dimanfaatkan, baik yang dirancang khusus untuk belajar bahasa maupun yang dapat diadaptasi. Berikut lima aplikasi atau alat yang berguna untuk berbagai aspek kebahasaan.
- Duolingo: Meski untuk bahasa asing, pola gamification-nya (nyawa, streak, liga) bisa diinspirasi untuk membuat modul serupa bagi pelajar asing yang ingin belajar Bahasa Indonesia, atau untuk latihan antonim/sinonim.
- Quizlet: Sangat efektif untuk memperkaya kosakata. Pengguna bisa membuat set kartu flash digital sendiri untuk menghafal istilah serapan baru, padanan kata, atau definisi majas, lalu belajar dengan berbagai mode permainan.
- Google Dokumen dengan Saran: Fitur pemeriksaan ejaan dan tata bahasa (grammar check) yang terus berkembang bisa menjadi asisten menulis pertama. Ia membantu mengidentifikasi kesalahan ketik, struktur kalimat yang janggal, dan pilihan diksi yang lebih baik.
- Storybird: Platform yang memungkinkan pengguna menulis cerita pendek berdasarkan ilustrasi yang disediakan. Tools seperti ini memacu kreativitas menulis naratif dan eksplorasi diksi dalam konteks bercerita.
- Mentimeter atau Kahoot!: Untuk membuat kuis interaktif langsung di kelas atau webinar. Sangat cocok untuk melatih ketelitian berbahasa dengan batas waktu, membuat sesi belajar menjadi kompetitif dan menyenangkan.
Membuat kuis daring sederhana bisa dimulai dengan permainan kata seperti “Tebak Kata Salah”. Prosedurnya, buatlah slide berisi kalimat yang sering salah dalam penulisan, seperti “Saya napak tilas ke tempat bersejarah” (seharusnya: bernapak tilas). Beri peserta waktu 10 detik untuk mengidentifikasi kesalahan dan mengetik jawaban benar di kolom chat. Poin diberikan untuk kecepatan dan ketepatan. Game ini mengasah ketelitian terhadap morfem dan prefiks yang sering tertukar.
Integrasi Tren Internet dalam Modul Pembelajaran
Meme dan tren internet adalah bahasa universal Gen Z. Memanfaatkannya sebagai alat bantu ajar dapat menjembatani kesenjangan antara materi formal dan dunia nyata mereka. Sebuah modul singkat tentang majas, misalnya, bisa dimulai dengan menampilkan meme viral yang menggunakan hiperbola, seperti gambar seseorang berkata “Aku belajar sampai tengah malam” dengan jam yang menunjukkan pukul 21.05. Dari situ, diskusi dialihkan kepada pengertian hiperbola sebagai majas yang melebih-lebihkan kenyataan.
Kemudian, peserta diajak mencari atau membuat meme sendiri yang menggunakan majas lain seperti metafora atau personifikasi. Pendekatan ini membuat konsep abstrak menjadi konkret dan mudah diingat karena dikaitkan dengan emosi dan konteks yang familiar.
Adaptasi Bahasa Indonesia terhadap Perkembangan Teknologi
Setiap kemunculan teknologi baru hampir selalu dibayangi oleh istilah-istilah asing yang mendominasi percakapan. Tantangan terbesar adalah menciptakan padanan dalam bahasa Indonesia yang tidak hanya akurat secara makna, tetapi juga terasa “klop” dan natural di lidah pengguna, khususnya milenial yang akrab dengan istilah aslinya. Peluangnya justru ada di sini: jika berhasil, proses ini akan memperkaya khazanah bahasa dan membuktikan kelenturan bahasa Indonesia dalam merespons zaman.
Penyerapan istilah asing sebenarnya hal yang wajar, namun upaya mencari padanan adalah bentuk perlawanan kreatif untuk menjaga kemandirian berkomunikasi. Istilah seperti “gawai” untuk “gadget” mungkin awalnya terasa asing, tetapi penggunaannya yang konsisten di ruang publik digital lambat laun akan membuatnya mengendap dalam kesadaran kolektif.
Usulan Padanan Istilah Teknologi Populer
Proposal padanan kata memerlukan pertimbangan yang matang, mulai dari kedekatan makna, kemudahan pengucapan, hingga kesan yang ditimbulkannya. Tabel berikut menawarkan beberapa contoh yang bisa didiskusikan lebih lanjut.
| Istilah Asing | Usulan Padanan Indonesia | Alasan Pemilihan | Contoh Penggunaan dalam Kalimat |
|---|---|---|---|
| Gadget | Gawai | Sudah tercantum dalam KBBI, ringkas, dan mencakup berbagai alat elektronik pintar. | Banyak gawai terbaru yang diluncurkan memiliki fitur kamera yang sangat canggih. |
| Startup | Rintisan | Menggambarkan esensi perusahaan yang baru dirintis, lebih deskriptif daripada sekadar “perusahaan pemula”. | Perusahaan rintisan di bidang edukasi teknologi semakin menjamur di Indonesia. |
| Feed (media sosial) | Sumbangan | Menerjemahkan konsep “umpan” informasi yang terus mengalir dan “disumbangkan” oleh berbagai akun yang diikuti. | Sumbangan Instagram-ku hari ini dipenuhi oleh konten mengenai pelestarian lingkungan. |
| Scroll | Gulir | Merupakan terjemahan langsung yang sudah sangat umum digunakan dan diterima dalam antarmuka pengguna. | Ia menghabiskan waktu hanya untuk menggulir linimasa tanpa tujuan yang jelas. |
Komunitas daring memegang peran sentral dalam menyebarluaskan suatu istilah baru. Prosesnya bisa dimulai dari diskusi di forum seperti Reddit atau grup Facebook khusus bahasa. Anggota komunitas mengusulkan beberapa pilihan padanan, lalu mendiskusikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Istilah yang paling disepakati kemudian dipromosikan melalui konten kreatif di Twitter, Instagram, atau TikTok oleh anggota komunitas yang juga content creator. Mereka membuat video penjelasan, infografis, atau bahkan challenge yang memaksa penggunaan istilah baru tersebut dalam konteks yang fun.
Jika istilah itu catchy dan memenuhi kebutuhan, ia akan mulai digunakan oleh media-media mainstream yang meliput dunia teknologi, yang akhirnya mempercepat adopsi secara luas.
Perjalanan Sebuah Istilah dari Forum ke Mainstream, Usaha Memajukan Bahasa Indonesia di Era Milenial
Ilustrasi perjalanan sebuah istilah teknis baru, misalnya “palagan digital” sebagai padanan untuk “cyber warfare”, bisa digambarkan demikian. Awalnya, istilah itu muncul di thread diskusi panjang di sebuah forum teknologi nasional, dilontarkan oleh seorang anggota yang memiliki latar belakang sejarah. Ia berargumen bahwa “palagan” (medan pertempuran) lebih bernuansa lokal dan kuat dibanding “cyber”. Diskusi itu mendapat ratusan respons, ada yang setuju, ada yang mengusulkan alternatif lain seperti “pertempuran siber”.
Beberapa peserta yang aktif di Twitter lalu membawa wacana ini ke platform tersebut dengan polling dan utas ringan. Seorang ilustrator yang mengikuti diskusi membuat kartun ilustratif tentang “palagan digital” yang kemudian viral. Media online yang meliput isu keamanan siber kemudian mulai menggunakan istilah “palagan digital” dalam artikel-artikel analitis mereka, seringkali dengan memberikan catatan kaki tentang asal-usul diskusinya. Pada akhirnya, istilah itu masuk ke dalam glosarium resmi suatu institusi, mengubah statusnya dari sekadar usulan komunitas menjadi istilah yang sah untuk digunakan.
Kolaborasi Komunitas dan Influencer dalam Pelestarian Bahasa
Pemertahanan bahasa di era digital adalah upaya gotong royong. Influencer dan content creator, dengan jangkauan dan daya pengaruhnya yang masif, berperan sebagai amplifier yang menyuarakan pentingnya kebanggaan berbahasa Indonesia dengan cara yang cool dan relatable. Sementara itu, komunitas online berfungsi sebagai ruang inkubator tempat ide-ide kreatif tentang bahasa diuji, didiskusikan, dan disempurnakan sebelum diluncurkan ke khalayak yang lebih luas.
Kolaborasi antara pihak yang memiliki kredibilitas keilmuan (ahli bahasa, universitas) dengan pihak yang memiliki kemampuan komunikasi massa (figur publik) menghasilkan konten yang tidak hanya akurat tetapi juga memiliki daya jangkau dan engagement tinggi. Seorang dosen linguistik bisa menjadi narasumber dalam podcast vlogger yang populer, menjelaskan sejarah kata-kata slang dengan data, sementara vlogger tersebut mengemasnya dalam bingkai cerita yang menghibur.
Langkah Membangun Komunitas Daring Kreatif Berbahasa
Membangun komunitas yang solid dan aktif memerlukan strategi yang jelas. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan.
Upaya memajukan Bahasa Indonesia di era milenial ternyata bisa dimulai dari hal sederhana, lho, seperti memahami metodologi riset yang tepat. Nah, salah satu alat yang bisa dipelajari untuk meneliti tren bahasa adalah dengan menyusun laporan mini riset. Sebelum terjun, yuk kenali dulu Kelebihan dan Kekurangan Laporan Mini Riset agar analisis kita tentang dinamika bahasa anak muda bisa lebih fokus dan berdampak.
Dengan begitu, kontribusi kita untuk kemajuan bahasa nasional pun jadi lebih berbasis data dan terarah.
- Tentukan Niche dan Visi yang Jelas: Apakah komunitas fokus pada penulisan kreatif, diskusi tata bahasa, penerjemahan, atau eksplorasi dialek? Visi yang spesifik menarik anggota yang benar-benar berminat.
- Pilih Platform yang Tepat: Untuk diskusi mendalam, grup Facebook atau forum dedicated seperti Discourse bisa jadi pilihan. Untuk kegiatan real-time dan berbagi cepat, server Discord atau Telegram sangat efektif.
- Buat Aturan Main dan Moderasi yang Konsisten: Aturan harus menjamin diskusi tetap sehat, menghormati perbedaan pendapat, dan bebas dari ujaran kebencian. Moderator dari anggota yang dihormati perlu ditunjuk.
- Adakan Kegiatan Rutin yang Mengikat: Misalnya, “Challenge Menulis Mingguan”, “Bedah Buku Bulanan”, atau “Live Session dengan Ahli” secara berkala. Kegiatan ini menjaga komunitas tetap hidup dan dinamis.
- Berikan Apresiasi dan Ruang untuk Anggota: Soroti karya atau kontribusi anggota, buatkan fitur “Anggota Bulan Ini”, atau berikan akses khusus. Rasa dihargai meningkatkan loyalitas.
Untuk mengampanyekan pentingnya menghindari campur kode berlebihan, seorang influencer bisa membuat konten video pendek dengan narasi seperti ini: “Pernah nggak sih, lagi cerita seru, tiba-tiba nyangkut karena harus nyari padanan bahasa Inggris buat satu kata yang lagi nggak keinget? Atau lagi bahas proyek serius, tapi campurannya ‘which is’, ‘actually’, ‘basically’ lebih banyak daripada bahasa Indonesianya sendiri. Kayak lagi masak rendang, tapi bumbu utamanya saus tiram impor.
Rasanya jadi aneh, kan? Bukan berarti nggak boleh sama sekali ya, tapi kalau kebanyakan, identitas bahasa kita pelan-pelan tergerus. Yuk, sesekali kita challenge diri buat ngomong atau nulis satu paragraf penuh pake bahasa Indonesia yang keren, yang bertenaga. Percaya deh, kita nggak akan kehilangan kecanggihan, justru jadi lebih punya jati diri.”
Bahasa Indonesia dalam Konten Kreatif dan Industri Populer: Usaha Memajukan Bahasa Indonesia Di Era Milenial
Lagu, film, serial, dan novel bukan hanya produk hiburan; mereka adalah cermin dan sekaligus pemahat citra suatu bahasa. Representasi bahasa Indonesia dalam karya-karya populer yang dikonsumsi milenial sangat mempengaruhi persepsi mereka terhadap kekayaan dan keluwesan bahasa ibunya. Ketika bahasa digunakan dengan kreatif, penuh permainan, dan mendalam dalam karya-karya tersebut, ia naik pamor dari sekadar alat komunikasi harian menjadi medium ekspresi seni yang membanggakan.
Analisis terhadap karya populer menunjukkan bahwa bahasa yang jujur, kontekstual, dan tidak dibuat-buat justru yang paling berhasil menyentuh hati generasi muda. Bahasa gaul yang otentik, permainan kata yang cerdas, atau pengembalian pada diksi-diksi klasik yang penuh makna, semua bisa menjadi kekuatan jika disajikan dengan tepat.
Karya Populer yang Memajukan Citra Bahasa Indonesia
Beberapa karya dianggap berhasil menjadikan bahasa Indonesia sebagai bagian integral dari daya tariknya. Berikut lima contoh beserta alasannya.
- Lagu “Zona Nyaman” oleh Fourtwnty: Liriknya menggunakan metafora yang puitis namun relatable (“Membuat kotak-kotak di tanah lapang, menyebutnya rumah”) untuk menggambarkan kejenuhan. Ia menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bisa mengungkap kompleksitas perasaan dengan indah dan mendalam.
- Film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”: Dialog-dialog dalam film ini minim namun sarat makna, menggunakan struktur dan logat bahasa yang khas Timur Indonesia. Film ini memamerkan keragaman linguistik dan kekuatan naratif bahasa Indonesia di luar Jawa.
- Serial Web “Twisted”: Meski berkisah tentang remaja, serial ini menggunakan permainan kata (wordplay) dan referensi budaya pop Indonesia dengan cerdas dalam dialog-dialognya, membuat bahasa terasa fresh dan sesuai dengan karakter gen Z tanpa terkesan dipaksakan.
- Novel “Negeri Para Bedebah” oleh Tere Liye: Meski genre thriller, novel ini diselipi kritik sosial dengan bahasa yang tajam, keras, dan penuh idiom yang kuat. Ia membuktikan bahasa Indonesia bisa digunakan untuk narasi yang cepat, tegang, dan penuh daya gebrak.
- Lagu “Bahasa” oleh Payung Teduh: Secara literal, lagu ini adalah puji-pujian pada keindahan bahasa Indonesia. Liriknya yang sederhana namun tulus (“Kau bagai puisi yang indah terdengar”) berhasil mengingatkan pendengarnya untuk mencintai bahasanya sendiri.
Konsep serial podcast tentang slang Indonesia bisa sangat menarik. Podcast berjudul “Asal Usul Garing” ini bisa membahas sejarah dan evolusi kata-kata slang dalam beberapa episode tematik. Episode pertama membahas slang era 90-an seperti “jomblo” dan “jaim”. Episode kedua mengulik slang yang berasal dari bahasa daerah, seperti “cuy” (Sunda) atau “laras” (Jawa). Episode ketiga fokus pada slang yang tercipta dari plesetan dan akronim, seperti “gabut” atau “mantul”.
Episode keempat membahas adaptasi slang dari istilah asing dan game online. Setiap episode menghadirkan narasumber seperti ahli linguistik, sosiolog, dan tentu saja, representasi anak muda yang aktif menggunakan slang tersebut.
Kutipan dari karya sastra kontemporer sering kali menjadi bukti nyata dinamika bahasa. Perhatikan potongan dari novel “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori ini:
Kita adalah kata-kata yang belum selesai diucapkan laut. Kita adalah kalimat-kalimat yang ditelan ombak sebelum sampai ke pantai. Kita adalah cerita-cerita yang tersembunyi di bawah terumbu karang, menunggu sentuhan cahaya untuk dibaca.
Keunggulan kutipan ini terletak pada penggunaan metafora berlapis yang elegan dan puitis. Bahasa Indonesia digerakkan untuk menyampaikan konsep abstrak tentang ingatan, perjuangan, dan sejarah dengan sangat visual dan emosional. Ia menunjukkan bahwa bahasa kita mampu menanggung beban makna yang filosofis tanpa kehilangan keindahan ritmisnya.
Akhir Kata
Pada akhirnya, memajukan bahasa Indonesia di era milenial adalah tentang membangun narasi bahwa berbahasa Indonesia yang baik dan kreatif itu keren, relevan, dan penuh identitas. Perjalanan ini tidak berhenti pada penciptaan kosakata baru atau kampanye sesaat, tetapi pada bagaimana bahasa menjadi bagian dari percakapan sehari-hari yang otentik dan bermakna. Setiap konten yang dibuat, setiap diskusi di forum, dan setiap kolaborasi dengan influencer adalah jahitan dalam tenun kebahasaan yang lebih besar.
Mari kita terus rawat, kreasikan, dan sebarkan, karena bahasa yang hidup adalah bahasa yang tak pernah berhenti bertumbuh bersama pemakainya.
Pertanyaan dan Jawaban
Apakah mempopulerkan bahasa Indonesia berarti menolak bahasa asing sama sekali?
Tidak sama sekali. Usaha ini lebih pada penguatan identitas dan pemartabatan. Tujuannya adalah mencari padanan yang tepat untuk konsep asing agar dapat dipahami dengan konteks lokal, serta menggunakan bahasa Indonesia dengan percaya diri dalam ranah yang tepat, bukan menutup diri dari globalisasi.
Bagaimana cara sederhana yang bisa saya lakukan sebagai individu?
Mulailah dari kesadaran berbahasa di media sosial pribadi. Gunakan istilah Indonesia yang sudah ada, periksa kembali tulisan sebelum dibagikan, dan ikut serta dalam diskusi atau tantangan kreatif berbahasa. Mendukung konten kreator yang fokus pada bahasa juga merupakan kontribusi yang berharga.
Apakah bahasa gaul (slang) merusak bahasa Indonesia?
Slang adalah fenomena alami yang menunjukkan dinamika bahasa. Ia tidak serta-merta merusak, selama penggunaannya memahami konteks dan situasi. Kuncinya adalah memiliki kesadaran berbahasa untuk membedakan penggunaan bahasa santai di media sosial dengan bahasa formal dalam karya tulis atau situasi resmi.
Bagaimana peran pemerintah dalam usaha ini?
Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator dan kolaborator, misalnya dengan mendukung risist padanan istilah, bekerja sama dengan platform digital dan kreator konten untuk kampanye yang masif, serta mengintegrasikan pendekatan modern ke dalam kurikulum pendidikan.
Apakah usaha ini realistis mengingat dominasi bahasa Inggris di dunia teknologi?
Sangat realistis. Banyak negara dengan bahasa non-Inggris sukses mengadopsi teknologi sambil memperkaya bahasanya sendiri. Teknologi justru menjadi alat untuk memajukan bahasa, seperti melalui aplikasi belajar, konten edukatif, dan komunitas daring yang memungkinkan penyebaran istilah baru dengan cepat.