5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh Panduan Lengkap Ibadah

5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh bukan sekadar kumpulan teks agama biasa, melainkan peta navigasi spiritual yang langsung bersumber dari Rasulullah SAW. Dalam hiruk-pikuk persiapan fisik dan administratif, esensi dari perjalanan suci ini seringkali terabaikan. Padahal, memahami fondasi syar’i melalui hadis dan dalil adalah bekal utama untuk meraih kemabruran, mengubah ritual menjadi pengalaman transformatif yang meninggalkan bekas di hati.

Ibadah haji, sebagai rukun Islam kelima, dan umrah yang memiliki keutamaan luar biasa, dibangun di atas tuntunan yang jelas. Mulai dari kisah Nabi Ibrahim yang heroik sebagai fondasi sejarah, hingga detail tata cara yang dicontohkan Nabi Muhammad dalam Haji Wada’, semuanya tercatat rapi dalam sunnah. Artikel ini akan mengupas tuntas lima hadis pilihan tentang keutamaannya, menguraikan dalil-dalil pokok pelaksanaannya, serta membedah perbedaan mendasar antara haji dan umrah untuk memberikan perspektif yang komprehensif.

Mempelajari 5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh bukan sekadar menghafal teks, tapi memahami panggilan spiritual yang mendalam. Dalam perjalanan pencarian ini, kita sering menemui pertanyaan kompleks yang membutuhkan Jawaban untuk yang Bisa , sebuah referensi yang mengurai kebingungan dengan landasan kuat. Dengan begitu, pemahaman kita terhadap ibadah haji dan umroh menjadi lebih kontekstual dan aplikatif, jauh melampaui ritual semata.

Pengertian dan Kedudukan Haji serta Umrah dalam Islam: 5 Hadis Dan Dalil Tentang Haji Dan Umroh

Dalam khazanah ibadah Islam, haji dan umrah menempati posisi yang sangat spesial. Keduanya bukan sekadar ritual perjalanan, melainkan panggilan spiritual langsung ke Baitullah, rumah Allah yang pertama kali dibangun untuk manusia. Memahami hakikat, kedudukan, serta perbedaan mendasar antara keduanya adalah langkah awal untuk menghayati makna perjalanan suci ini.

Definisi Syar’i Haji dan Umrah

Secara terminologi syariat, haji didefinisikan sebagai sengaja mengunjungi Ka’bah di Makkah untuk melaksanakan rangkaian ibadah tertentu pada waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada bulan-bulan haji (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah) dengan memenuhi syarat dan rukun yang telah ditentukan. Sementara umrah berarti mengunjungi Ka’bah untuk melaksanakan thawaf, sa’i, dan tahallul tanpa terikat waktu tertentu, dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Intinya, umrah bisa diibaratkan sebagai “haji kecil” yang pelaksanaannya lebih sederhana.

Landasan Kewajiban Haji dalam Rukun Islam

Kewajiban haji merupakan konsensus ulama dan ditetapkan sebagai rukun Islam yang kelima. Landasan utamanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang sangat jelas. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya menjadi dasar utama kewajiban ini.

“… Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97)

Rasulullah SAW juga menegaskan posisi haji dalam sabdanya yang masyhur, “Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kata “mampu” dalam ayat tersebut menjadi kunci; ia mencakup kemampuan finansial, fisik, keamanan perjalanan, serta adanya mahram bagi wanita.

Hikmah dan Keutamaan Ibadah Haji dan Umrah

Di balik ritual fisik yang terlihat, haji dan umrah sarat dengan hikmah yang mendalam. Ibadah ini adalah simbol persamaan derajat manusia di hadapan Allah; semua jamaah berpakaian ihram yang sama, melaksanakan ritual yang sama, mengingatkan pada hari kebangkitan. Ia juga merupakan latihan spiritual besar: mengendalikan hawa nafsu, bersabar atas segala kesulitan, mengikis kesombongan, dan melatih solidaritas sosial dengan berbaur dengan jutaan manusia dari berbagai bangsa.

Pembahasan mendalam tentang 5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh menekankan pentingnya kejelasan niat dan perbuatan. Prinsip kejelasan ini juga relevan dalam konteks lain, misalnya saat menyusun Contoh Kalimat Efektif tentang Banjir untuk edukasi kebencanaan. Kembali ke topik utama, hadis-hadis tersebut secara otoritatif menjadi landasan hukum dan spiritual bagi setiap muslim yang menunaikan rukun Islam kelima ini.

Pahala yang dijanjikan pun luar biasa, dimana haji yang mabrur tidak ada balasannya selain surga.

BACA JUGA  Waktu Tempuh Bus 8 m/s untuk Jarak 1 km Hitungan dan Realitanya

Perbandingan Inti antara Haji dan Umrah

5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh

Source: anyflip.com

Meski memiliki kesamaan dalam beberapa rukun, haji dan umrah memiliki perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Berikut tabel perbandingan singkatnya.

Aspek Haji Umrah Keterangan
Hukum Wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu (Rukun Islam ke-5). Sunah muakkadah (sangat dianjurkan), bisa berkali-kali. Umrah wajib hanya bagi yang menazarkannya.
Waktu Pelaksanaan Pada bulan-bulan haji, dengan puncaknya di tanggal 9-13 Dzulhijjah. Dapat dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun, kecuali pada hari Arafah dan hari Tasyrik. Pelaksanaan pada hari terlarang untuk umrah diperselisihkan ulama, namun kebanyakan memakruhkannya.
Rukun Ihram, Wukuf di Arafah, Thawaf Ifadhah, Sa’i, Tahallul, dan Tertib. Ihram, Thawaf, Sa’i, Tahallul, dan Tertib. Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling utama dan pembeda utama.
Lama Pelaksanaan Minimal 4-5 hari pada puncak rangkaiannya. Dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Durasi ini tidak termasuk perjalanan dari dan ke negara asal.

Hadis-Hadis tentang Keutamaan Ibadah Haji

Motivasi untuk menempuh perjalanan spiritual haji tidak hanya datang dari kewajibannya, tetapi juga dari janji-janji agung yang disampaikan Rasulullah SAW. Hadis-hadis tentang keutamaannya bagai cahaya yang menerangi langkah calon jamaah, menguatkan tekad, dan memurnikan niat. Mari kita simak beberapa hadis utama yang menggambarkan betapa mulianya ibadah ini di sisi Allah.

Lima Hadis Utama tentang Keutamaan Haji

Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan menjelaskan keistimewaan ibadah haji. Berikut adalah lima hadis yang sangat populer dan menjadi rujukan utama.

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Dari Aisyah RA, ia berkata: Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita wajib berjihad?’ Beliau menjawab, ‘Iya. Jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya: haji dan umrah.'” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

“Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Ikutkanlah umrah dengan haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana ubupan (tukang pandai besi) menghilangkan kotoran besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.'” (HR. At-Tirmidzi, ia menghasankannya)

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Para jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, pasti dikabulkan. Jika mereka memohon ampunan, pasti diampuni.'” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Pahala dan Ganjaran bagi Haji yang Ikhlas

Dari hadis-hadis di atas, dapat dirinci pahala besar yang Allah janjikan. Pertama, pengampunan dosa total, hingga seseorang kembali seperti bayi yang baru lahir. Kedua, ganjaran surga yang pasti bagi haji yang mabrur. Ketiga, dihapuskannya kemiskinan, baik secara materi maupun spiritual. Keempat, kedudukan sebagai tamu Allah yang doanya mustajab.

Kelima, pahala setara jihad, yang bagi wanita menjadi peluang meraih derajat tinggi tanpa peperangan fisik. Semua ini hanya dapat diraih dengan keikhlasan dan menjaga diri dari perbuatan dan perkataan yang merusak ibadah.

Hakikat dan Ciri-Ciri Haji Mabrur

Konsep “haji mabrur” sering didengungkan sebagai puncak kesuksesan ibadah haji. Secara bahasa, “mabrur” berarti diterima dan dipenuhi dengan kebaikan. Ulama mendefinisikannya sebagai haji yang dilaksanakan dengan sempurna sesuai tuntunan Nabi, dibiayai dari harta yang halal, dan diiringi dengan penghindaran maksiat selama pelaksanaannya. Ciri-cirinya dapat dilihat setelah kepulangan: terjadi perubahan positif pada diri seseorang. Perilakunya menjadi lebih baik, ibadahnya semakin khusyuk, akhlaknya semakin mulia, dan hubungannya dengan sesama dan lingkungan menjadi lebih harmonis.

Singkatnya, haji mabrur meninggalkan bekas kebaikan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kenangan dan foto di tanah suci.

Dalil dan Tata Cara Pelaksanaan Rukun Haji

Keabsahan ibadah haji sangat bergantung pada pemahaman dan pelaksanaan rukun-rukunnya dengan benar. Rukun haji adalah rangkaian amalan yang jika ditinggalkan, baik sengaja atau lupa, menyebabkan hajinya tidak sah. Berbekal dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, para ulama telah merumuskannya dengan detail untuk menjadi panduan bagi setiap muslim.

Rukun Haji Berdasarkan Dalil Syar’i

Berdasarkan ijma’ ulama, rukun haji ada enam: Ihram (niat), Wukuf di Arafah, Thawaf Ifadhah, Sa’i, Tahallul (mencukur), dan Tertib (berurutan). Dalil untuk wukuf sangat kuat, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. At-Tirmidzi). Sementara thawaf dan sa’i berlandaskan pada firman Allah tentang Nabi Ibrahim dan Ismail serta praktik langsung Rasulullah SAW. Ihram sebagai niat adalah pembeda antara haji dengan perjalanan biasa, sedangkan tahallul menandai dibolehkannya kembali melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram.

Tata Cara Pelaksanaan Setiap Rukun

Pelaksanaan setiap rukun memiliki tuntunannya masing-masing. Ihram dimulai dengan mandi, memakai pakaian ihram, shalat sunah, lalu mengucapkan niat. Wukuf di Arafah dilaksanakan sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah hingga fajar tanggal 10, dengan banyak berdoa, dzikir, dan istighfar. Thawaf Ifadhah dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad. Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, mengingatkan pada perjuangan Siti Hajar.

BACA JUGA  Mengapa beberapa pokok betik tidak berbuah dan solusi praktisnya

Tahallul dilakukan dengan mencukur atau memotong rambut minimal tiga helai setelah melempar jumrah Aqabah pada hari Idul Adha.

Prosedur Singkat Pelaksanaan Ibadah Haji

Secara kronologis, rangkaian ibadah haji dapat disusun dalam poin-poin berikut:

  • Memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan, sebelum tanggal 8 Dzulhijjah.
  • Masuk ke Makkah dan melaksanakan thawaf qudum (thawaf selamat datang) bagi yang mampu.
  • Pada tanggal 8 Dzulhijjah (Tarwiyah), berangkat ke Mina sebelum zhuhur dan bermalam di sana.
  • Tanggal 9 Dzulhijjah, setelah matahari terbit, berangkat ke Arafah untuk wukuf hingga maghrib.
  • Setelah maghrib, berangkat ke Muzdalifah untuk bermalam dan mengambil kerikil untuk jumrah.
  • Tanggal 10 Dzulhijkah (Idul Adha), sebelum terbit matahari berangkat ke Mina untuk: Melontar Jumrah Aqabah, menyembelih hewan kurban (bagi yang wajib/qurban sunah), tahallul awal (mencukur), kemudian pergi ke Makkah untuk thawaf ifadhah dan sa’i.
  • Tanggal 11, 12, (dan 13 bagi yang Nafar Tsani) Dzulhijjah, melontar tiga jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) setiap hari di Mina.
  • Sebelum meninggalkan Makkah, melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan).

Contoh Praktis Wukuf dan Lempar Jumrah

Wukuf di Arafah tidak mensyaratkan aktivitas tertentu selain hadir di area Arafah, meski berada dalam kendaraan atau tenda. Akan tetapi, sunnahnya adalah menghadap kiblat, banyak berdoa dengan mengangkat tangan, membaca talbiyah, istighfar, dan membaca Al-Qur’an. Suasana hening dan khusyuk sangat dianjurkan. Untuk lempar jumrah, contoh praktisnya adalah melempar tujuh batu kecil ke tugu Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Setiap lemparan disertai dengan takbir.

Batu diambil dari Muzdalifah, dan disunnahkan untuk melempar pada waktu dhuha, meski boleh dilakukan kapan saja sepanjang siang hingga malam. Melempar harus mengenai lubang tugu, dan dilakukan sendiri, bukan dilempar sekaligus seperti melempar kerikil.

Panduan Umrah Berdasarkan Hadis Nabi

Ibadah umrah, meski lebih ringkas dari haji, tetaplah sebuah ibadah yang memiliki tata cara baku yang bersumber dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Melaksanakan umrah sesuai petunjuk beliau bukan hanya tentang keabsahan, tetapi juga tentang meraih keutuhan makna dari setiap ritual yang dilakukan, dari miqat hingga tahallul.

Tata Cara Umrah Lengkap Menurut Sunnah

Pelaksanaan umrah dimulai dari miqat. Calon jamaah mandi, memakai wewangian, lalu mengenakan pakaian ihram. Setelah shalat sunah ihram dua rakaat, ia berniat umrah dengan mengucapkan, “Labbaikallahumma ‘umratan”. Selama perjalanan ke Makkah dianjurkan memperbanyak talbiyah. Setiba di Masjidil Haram, ia langsung melaksanakan thawaf umrah sebanyak tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad dengan menghadapnya dan bertakbir.

Setelah thawaf, shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan. Kemudian melanjutkan ke sa’i dari Shafa ke Marwah tujuh kali. Rangkaian ditutup dengan tahallul, yaitu mencukur atau memendekkan seluruh rambut kepala. Bagi pria, mencukur habis lebih utama.

Waktu Pelaksanaan Umrah yang Disyariatkan

Mayoritas ulama berpendapat bahwa umrah dapat dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun. Namun, terdapat waktu-waktu yang dimakruhkan, yaitu pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Pendapat ini didasarkan pada hadis yang melarang thawaf di Baitullah bagi yang belum melontar jumrah pada hari-hari tersebut, yang secara implisit menunjukkan tidak dianjurkannya memulai umrah pada hari-hari itu. Meski demikian, jika seseorang sudah berada dalam keadaan ihram untuk umrah pada hari-hari tersebut, umrahnya tetap sah.

Perbedaan Tiga Jenis Haji: Tamattu’, Qiran, dan Ifrad

Dalam pelaksanaan haji, dikenal tiga jenis cara yang dicontohkan Nabi: Tamattu’, Qiran, dan Ifrad. Memahami perbedaannya penting untuk menentukan niat dan tata cara yang tepat.

Jenis Pengertian Tata Cara Dalil Pendukung
Haji Tamattu’ Melakukan umrah di bulan-bulan haji, lalu bertahallul, kemudian berihram lagi untuk haji pada tahun yang sama. Umrah dulu (dengan ihram dari miqat), tahallul. Tanggal 8 Dzulhijjah ihram haji dari Makkah. Wajib membayar dam (menyembelih kambing). Anjuran Nabi dalam hadis, “Siapa yang berihram untuk haji dan umrah sekaligus…” serta perintah untuk bertahallul dari umrah dan menjadikannya haji tamattu’. (HR. Bukhari-Muslim).
Haji Qiran Melakukan ihram untuk haji dan umrah secara bersamaan dengan satu niat, dan tidak bertahallul hingga selesai semua rangkaian haji. Berniat “haji dan umrah” sekaligus dari miqat. Melakukan semua rukun haji, dan satu thawaf serta satu sa’i sudah mencukupi untuk haji dan umrah. Wajib membayar dam. Praktik Nabi SAW dalam Haji Wada’ menurut satu riwayat, serta sabda beliau tentang menggabungkan haji dan umrah.
Haji Ifrad Melakukan ihram untuk haji saja dari miqat, kemudian setelah selesai haji baru melakukan umrah (bisa di tahun yang sama). Berniat haji saja dari miqat. Setelah tahallul dari haji (tanggal 10 Dzulhijjah), boleh berihram untuk umrah dari Tan’im atau Ji’ranah. Tidak wajib dam. Riwayat dari Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Nabi SAW dan para sahabatnya berhaji ifrad. (HR. Muslim).

Adab-Adab yang Dianjurkan Selama Umrah

Selain melaksanakan rukun dan wajib umrah, terdapat adab-adab yang menyempurnakan ibadah. Pertama, menjaga lisan dari perkataan kotor, debat kusir, dan ghibah. Kedua, bersikap rendah hati dan membantu sesama jamaah, terutama yang lemah. Ketiga, tidak menyakiti orang lain saat thawaf atau sa’i, seperti mendorong atau berjalan dengan tergesa. Keempat, memperbanyak dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an, terutama di Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah) dan di Hijr Ismail.

BACA JUGA  Luas lingkaran dengan keliling 6π cara cepat hitung

Kelima, menjaga kebersihan tempat ibadah dan tidak membuang sampah sembarangan. Intinya, adab terbaik adalah meneladani akhlak Rasulullah SAW selama di tanah haram.

Kisah dan Teladan dalam Ibadah Haji

Setiap debu di tanah suci, setiap batu di Mina, dan setiap sudut di sekitar Ka’bah menyimpan narasi sejarah yang panjang. Ibadah haji dan umrah bukanlah ritual yang tiba-tiba turun dari langit, melainkan napak tilas dari perjuangan, ketabahan, dan kepasrahan total seorang kekasih Allah, Nabi Ibrahim AS, beserta keluarganya. Memahami kisah di balik ritual membuat setiap langkah kita penuh makna.

Kisah Nabi Ibrahim dan Keluarga sebagai Fondasi Ritual, 5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh

Seluruh rangkaian haji berakar dari ujian agung yang dihadapi keluarga Nabi Ibrahim. Perintah meninggalkan istri tercinta, Siti Hajar, dan bayi mereka, Ismail, di lembah tandus Makkah adalah ujian pertama. Saat air habis, Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah mencari pertolongan, yang kini diabadikan dalam ritual sa’i. Kemudian, munculnya mata air Zamzam dari hentakan kaki Ismail menjadi simbol rezeki Allah yang tak terduga.

Ujian puncak adalah perintah menyembelih Ismail, yang menunjukkan ketaatan mutlak, dan digantikan dengan seekor domba, menjadi asal-usul kurban Idul Adha. Pembangunan Ka’bah oleh Ibrahim dan Ismail menjadi titik sentral ibadah, dan doa Ibrahim agar Makkah menjadi negeri yang aman serta agar diutus seorang rasul dari keturunan Ismail terkabul dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127-128)

Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Haji Wada’

Teladan praktis paling sempurna dalam melaksanakan haji adalah Haji Wada’ (Haji Perpisahan) yang dilakukan Rasulullah SAW pada tahun 10 Hijriyah. Dalam haji ini, beliau mengajarkan tata cara haji secara langsung di depan ribuan sahabat. Beliau berihram dengan niat haji Qiran (menurut pendapat terkuat), mengajarkan cara talbiyah, tata cara wukuf di Arafah dengan khutbah agung yang berisi pesan-pesan fundamental tentang hak asasi manusia, larangan riba, dan kesetaraan.

Beliau juga mempraktikkan lempar jumrah, thawaf ifadhah, dan seluruh ritual lainnya dengan detail. Haji Wada’ adalah manifestasi nyata bahwa haji adalah ibadah yang terikat dengan waktu, tempat, dan tata cara yang telah ditetapkan syariat.

Narasi Peristiwa di Lokasi Utama Haji

Setiap lokasi dalam haji adalah panggung sejarah. Padang Arafah, tempat jamaah berkumpul dari zuhur hingga maghrib, adalah simbol pertemuan hamba dengan Tuhannya, tempat pengampunan dan doa dikabulkan. Gambaran jutaan manusia dari segala penjuru berdiri, duduk, dan bersimpuh di tanah lapang yang sama, mengingatkan pada padang mahsyar. Muzdalifah, tempat bermalam sejenak dan mengumpulkan batu kerikil, adalah tempat istirahat singkat untuk persiapan menghadapi ujian berikutnya.

Mina, lembah tempat melontar jumrah, merepresentasikan perlawanan terhadap godaan setan yang pernah menggoda Nabi Ibrahim. Melempar tugu-tugu itu adalah deklarasi permusuhan abadi terhadap segala bentuk kejahatan dan hawa nafsu yang menyesatkan.

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat, lalu membanggakan mereka (jamaah haji) di hadapan para malaikat.” (HR. Muslim)

Terakhir

Demikianlah penjelasan mengenai 5 Hadis dan Dalil tentang Haji dan Umroh. Dari serangkaian pembahasan ini, menjadi jelas bahwa ibadah ini adalah mahkota perjalanan spiritual seorang Muslim, yang pahalanya dijanjikan tidak kurang dari surga. Namun, esensinya melampaui sekadar pahala; ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kesetaraan, ketundukan, dan pengorbanan hakiki. Memahami tuntunan Nabi melalui hadis dan dalil adalah kunci untuk tidak hanya sekadar ‘pergi’, tetapi untuk ‘pulang’ sebagai manusia yang lebih baik, dengan haji yang mabrur sebagai capaian tertinggi.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah ada hadis yang menganjurkan umrah di bulan Ramadan?

Ya, terdapat hadis shahih dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Umrah di bulan Ramadan (pahalanya) setara dengan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan keutamaan khusus umrah di bulan suci tersebut.

Bagaimana jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat menunaikan haji padahal sudah mampu?

Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i dan lainnya, kewajiban haji gugur dan ahli waris tidak wajib menghajikannya. Namun, dianjurkan bagi ahli waris untuk menghajikan almarhum/ah dengan biaya dari harta peninggalannya sebagai bentuk ihsan, meski pahalanya akan sampai dengan izin Allah.

Apakah wanita boleh berhaji atau umrah tanpa mahram?

Mayoritas ulama, berdasarkan hadis, melarang wanita melakukan perjalanan jauh (seperti haji) tanpa disertai mahramnya karena pertimbangan keamanan. Namun, beberapa ulama kontemporer memberikan rukhsah (keringanan) dengan syarat-syarat ketat, seperti pergi dalam rombongan wanita yang terpercaya dan aman. Penting untuk berkonsultasi dengan otoritas keagamaan yang kompeten.

Apakah pahala haji dan umrah bisa dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal?

Ya, pahalanya dapat dihadiahkan dan akan sampai kepada mayit berdasarkan dalil-dalil umum tentang sedekah jariyah dan doa. Nabi SAW pernah memerintahkan seorang wanita untuk menghajikan ibunya yang telah wafat. Ini berlaku baik untuk haji yang pertama kali (haji wajib) bagi si mayit, atau haji sunnah.

Apa yang dimaksud dengan “haji mabrur” dan apakah tandanya bisa dirasakan sendiri?

Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, yang ciri utamanya adalah perubahan positif pada diri seseorang setelah pulang. Tandanya tidak selalu berupa perasaan spiritual yang meledak-ledak, tetapi lebih pada konsistensi dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, serta akhlak yang lebih baik. Sebagian ulama mengatakan, tanda haji mabrur adalah jika seseorang tidak ingin kembali ke kelalaiannya yang dulu.

Leave a Comment