Energi Satelit Palapa pada Orbit Geostasioner dengan Kecepatan Tetap itu seperti cerita tentang keseimbangan sempurna di atas langit kita. Bayangkan sebuah titik di angkasa, tepat 35.786 km di atas ekuator bumi, di mana satelit bisa bergerak seiring rotasi planet sehingga ia terlihat diam permanen. Di sanalah Satelit Palapa, sang perintis konektivitas Nusantara, tinggal dan bekerja. Ia bukan cuma seonggok logam melayang, melainkan sebuah stasiun luar angkasa canggih yang hidup dari energi matahari, menjaga posisinya dengan ketat, dan menjadi pilar tak terlihat dari kehidupan digital Indonesia.
Konsep orbit geostasioner sendiri adalah sebuah simfoni fisika yang anggun. Orbit ini tercipta ketika gaya sentrifugal satelit yang meluncur persis menyeimbangkan tarikan gravitasi bumi. Hasilnya adalah sebuah lintasan melingkar yang membuat periode orbit satelit sama persis dengan 24 jam, waktu yang dibutuhkan bumi untuk berotasi sekali pada porosnya. Lokasi strategis inilah yang menjadi rumah ideal bagi satelit komunikasi seperti Palapa, karena memungkinkannya “memandang” wilayah cakupan yang sama di bumi secara terus-menerus tanpa perlu pelacakan antena yang rumit.
Simfoni Benda Langit yang Diam Semu dalam Tata Surya
Di antara ribuan satelit yang mengitari Bumi, ada yang tampak diam dan setia di satu titik di langit. Bukan sihir, melainkan sebuah koreografi kosmik yang presisi. Satelit-satelit komunikasi seperti keluarga Satelit Palapa menempati orbit khusus bernama geostasioner, sebuah panggung di angkasa di mana mereka bergerak beriringan dengan rotasi Bumi. Ilusi diam ini adalah hasil dari kesetimbangan fisik yang sangat rapih, menjadikannya menara telekomunikasi ideal yang tak tergoyahkan di langit Nusantara.
Orbit geostasioner (GEO) adalah titik manis yang terletak tepat 35.786 kilometer di atas ekuator Bumi. Pada ketinggian ini, periode orbit satelit—waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Bumi—tepat sama dengan periode rotasi Bumi, yaitu 23 jam 56 menit 4 detik. Hal ini terjadi karena pada jarak tersebut, kekuatan tarik gravitasi Bumi dan gaya sentrifugal yang dihasilkan dari gerakan satelit saling meniadakan dengan sempurna.
Gravitasi menarik satelit agar tidak terlempar ke angkasa lepas, sementara gaya sentrifugal mendorongnya agar tidak jatuh kembali ke Bumi. Kesetimbangan dinamis inilah yang memungkinkan satelit tetap pada jalurnya. Bagi Satelit Palapa, lokasi strategis ini adalah rumah permanennya. Dari sana, satelit memiliki pandangan tetap terhadap sepertiga permukaan Bumi, memungkinkannya untuk menjangkau wilayah Indonesia yang luas secara konstan tanpa perlu pelacakan antena yang rumit di stasiun bumi.
Perbandingan Parameter Orbit Satelit Komunikasi
Tidak semua satelit komunikasi beroperasi di ketinggian yang sama. Pilihan orbit sangat bergantung pada misi dan aplikasinya. Berikut adalah perbandingan parameter kunci antara tiga orbit utama, dengan Satelit Palapa sebagai contoh utama di orbit geostasioner.
| Parameter | Orbit Rendah (LEO) | Orbit Menengah (MEO) | Orbit Geostasioner (GEO) – Palapa |
|---|---|---|---|
| Ketinggian Rata-rata | 160 – 2.000 km | 2.000 – 35.786 km | 35.786 km |
| Periode Orbit | 90 menit – 2 jam | 2 – 24 jam | 23 jam 56 menit 4 detik (Sideral) |
| Kecepatan Orbit | Sangat tinggi (~27.000 km/jam) | Sedang | 11.070 km/jam (tetap relatif terhadap permukaan Bumi) |
| Kemiringan Orbit | Bervariasi, bisa tinggi | Bervariasi, sering untuk navigasi | ~0° (tepat di atas ekuator) |
Dinamika Kecepatan Tetap dan Koreksi Posisi
Konsep “kecepatan tetap” pada satelit GEO seperti Palapa sering disalahartikan sebagai keadaan statis yang pasif. Kenyataannya, ini adalah sebuah dinamika yang sangat aktif dan rumit. Satelit melaju dengan kecepatan linier yang sangat tinggi, sekitar 3,07 kilometer per detik, untuk mempertahankan ketinggiannya. Jika kecepatannya berkurang, gravitasi akan menariknya turun; jika bertambah, ia akan terdorong ke orbit yang lebih tinggi. Namun, orbit yang sempurna itu terus-menerus diganggu oleh anomali gravitasi Bumi yang tidak homogen, tarikan gravitasi Bulan dan Matahari, serta tekanan lembut dari angin matahari dan radiasi.
Gangguan-gangguan kecil ini, jika dibiarkan, akan membuat satelit perlahan-lahan melayang dari posisi slot orbitnya yang ditetapkan, baik secara longitudinal (membujur) maupun latitudinal (lintang).
Oleh karena itu, satelit harus melakukan koreksi posisi secara berkala, yang disebut station-keeping. Manuver kecil ini menggunakan pendorong roket kecil (thruster) yang dinyalakan secara terkontrol untuk mendorong satelit kembali ke posisi yang tepat. Proses ini membutuhkan perhitungan yang sangat cermat dan konsumsi bahan bakar yang menjadi penentu utama umur operasional satelit. Jadi, “diam semu” itu adalah ilusi yang dijaga dengan susah payah melalui serangkaian koreksi dinamis, sebuah tarian halus yang memastikan satelit tetap menjadi titik tetap di langit kita.
Anatomi Energi Nirkabel dari Ruang Angkasa ke Bumi
Sebagai repeater raksasa di angkasa, Satelit Palapa harus memiliki sumber energi yang andal dan berkelanjutan. Tanpa akses ke jaringan listrik konvensional, satelit bergantung sepenuhnya pada kemampuannya memanen energi dari lingkungannya dan mengelolanya dengan sangat efisien. Kehidupan dan fungsinya ditentukan oleh bagaimana ia mengubah sinar matahari yang tak terhingga di ruang hampa menjadi tenaga listrik yang dapat menjalankan semua sistem canggih di dalam tubuhnya.
Sumber energi utama Satelit Palapa adalah Matahari. Di lingkungan orbit geostasioner yang bebas atmosfer, sinar matahari lebih intens dan konsisten dibandingkan di permukaan Bumi. Untuk menangkap energi ini, satelit dilengkapi dengan panel surya (solar array) raksasa yang terbuat dari ribuan sel fotovoltaik. Sel-sel ini langsung mengonversi foton cahaya menjadi arus listrik. Namun, satelit juga mengalami periode gerhana, yaitu ketika Bumi menghalangi sinar matahari yang jatuh ke panel surya.
Peristiwa ini terjadi sekitar dua periode setiap tahun, dengan durasi maksimum sekitar 72 menit per hari. Untuk mengatasi masa kritis ini, satelit dilengkapi dengan baterai isi ulang (rechargeable battery) berkapasitas tinggi, biasanya berbasis nikel-hidrogen atau lithium-ion. Baterai ini diisi penuh oleh panel surya saat satelit terkena sinar matahari, dan kemudian menjadi sumber daya eksklusif selama gerhana, memastikan tidak ada jeda dalam layanan komunikasi yang vital.
Langkah Konversi dan Distribusi Energi di Dalam Satelit
Aliran energi di dalam tubuh satelit adalah proses multi-tahap yang terkoordinasi. Setelah dihasilkan, listrik harus diatur, disalurkan, dan disimpan untuk menjalankan berbagai subsistem dengan kebutuhan yang berbeda.
- Fotovoltaik: Panel surya menghasilkan listrik arus searah (DC) dengan tegangan yang bervariasi tergantung intensitas cahaya.
- Regulator Daya & Manajemen Baterai: Unit ini menstabilkan tegangan yang fluktuatif dari panel surya, mengatur pengisian baterai agar tidak overcharge, dan mengelola peralihan sumber daya antara panel surya dan baterai saat memasuki atau keluar dari gerhana.
- Bus Daya Utama: Listrik yang telah distabilkan kemudian didistribusikan melalui bus daya utama ke seluruh sistem satelit.
- Distribusi ke Beban: Daya dialirkan ke dua kategori beban utama: Payload (muatan), yaitu transponder komunikasi yang menerima, memperkuat, dan mengirimkan kembali sinyal ke Bumi; dan Bus Satelit, yang mencakup komputer, sensor, sistem kendali termal, dan yang paling banyak menghabiskan bahan bakar: sistem propulsi untuk koreksi orbit.
Orientasi Panel Surya dan Antena yang Terkunci, Energi Satelit Palapa pada Orbit Geostasioner dengan Kecepatan Tetap
Bayangkan sebuah satelit yang melakukan dua tugas orientasi sekaligus dengan elegan. Di satu sisi, panel surya yang seperti sayap raksasa harus selalu tegak lurus terhadap arah datangnya sinar matahari untuk memaksimalkan penyerapan energi. Karena posisi matahari relatif terhadap satelit berubah sepanjang tahun akibat revolusi Bumi mengelilingi Matahari, panel surya ini secara perlahan berotasi pada sumbunya, mengikuti pergerakan matahari dengan presisi.
Sementara itu, badan utama satelit harus menghadap Bumi secara permanen tanpa goyah. Semua antena komunikasinya terkunci stabil mengarah ke wilayah cakupan tetap di Indonesia, bagaikan sorot lampu yang tak pernah bergeser dari panggungnya. Pencapaian ini dimungkinkan oleh mekanisme kontrol attitude yang canggih, menggunakan roda momentum (momentum wheel) dan pendorong kecil, memastikan bahwa satelit tetap “terpancang” menghadap Bumi sementara “ladang energinya” terus mengejar matahari.
Keseimbangan Dinamis antara Stabilitas Posisi dan Konsumsi Daya
Mempertahankan ilusi diam di orbit geostasioner adalah pekerjaan yang memakan energi. Slot orbit di ketinggian 35.786 km di atas ekuator adalah aset strategis yang sangat berharga dan terbatas. Setiap satelit, termasuk Palapa, harus mempertahankan posisinya dalam koridor yang sangat sempit, biasanya hanya toleransi ±0,1° dalam bujur dan lintang. Upaya mempertahankan posisi ini, yang dikenal sebagai station-keeping, berhubungan langsung dengan konsumsi bahan bakar yang besar, yang pada akhirnya menentukan batas usia satelit.
Gangguan terhadap keseimbangan ideal satelit datang dari berbagai sumber. Tarikan gravitasi Bulan dan Matahari, meski jaraknya jauh, cukup signifikan untuk perlahan-lahan mengubah kemiringan orbit satelit (drift latitudinal). Sementara itu, bentuk Bumi yang tidak bulat sempurna (geoid) menyebabkan variasi gravitasi yang mendorong satelit melayang di sepanjang garis ekuator (drift longitudinal). Gangguan lain yang lebih halus tetapi konstan adalah tekanan radiasi matahari.
Foton dari matahari yang menabrak badan dan panel surya satelit memberikan tekanan kecil, seperti angin matahari, yang secara kumulatif dapat mengubah orbit. Untuk melawan semua gangguan ini, sistem propulsi satelit harus secara periodik menyalakan pendorongnya. Setiap koreksi kecil membakar sejumlah bahan bakar (biasanya hidrazin atau xenon untuk propulsi ion), dan persediaan bahan bakar inilah yang pada akhirnya habis duluan, mengakhiri masa operasi satelit meskipun semua sistem elektroniknya masih berfungsi dengan baik.
Kecepatan orbit spesifik pada ketinggian geostasioner bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari hukum fisika fundamental. Hukum Ketiga Kepler menyatakan bahwa kuadrat periode orbit suatu benda sebanding dengan pangkat tiga sumbu semi-mayor orbitnya. Sementara itu, Hukum Gravitasi Newton memberikan rumus untuk gaya sentripetal yang diperlukan untuk mempertahankan orbit melingkar. Dengan menyamakan gaya gravitasi dengan gaya sentripetal dan mensyaratkan periode orbit sama dengan periode rotasi Bumi, maka ketinggian dan kecepatan orbit yang unik untuk GEO dapat diturunkan secara matematis: v = √(GM/R), di mana G adalah konstanta gravitasi, M adalah massa Bumi, dan R adalah jarak dari pusat Bumi ke satelit.
Strategi Manajemen Termal untuk Konservasi Energi
Selain bahan bakar untuk propulsi, energi listrik yang dihasilkan panel surya juga harus dikelola dengan hati-hati, dan salah satu tantangan terbesarnya adalah panas. Semua peralatan elektronik di dalam satelit, dari penguat sinyal (transponder) hingga prosesor komputer, menghasilkan panas sebagai produk sampingan yang tidak efisien. Di ruang hampa, panas tidak dapat dilepaskan melalui konveksi (aliran udara) seperti di Bumi. Jika panas ini terperangkap, suhu akan melonjak dan merusak komponen sensitif, atau memaksa sistem pendingin untuk bekerja lebih keras yang justru menghabiskan lebih banyak energi.
Oleh karena itu, manajemen termal yang cerdas sangat penting untuk konservasi energi dan umur panjang misi. Satelit dirancang dengan permukaan yang memiliki koefisien emisivitas dan absorptivitas tertentu. Bagian yang menghadap matahari dilapisi material reflektif untuk memantulkan panas, sementara bagian yang menghadap angkasa yang dingin dilapisi material yang mudah memancarkan panas (high emissivity). Heat pipe (pipa panas) dan radiator digunakan untuk secara pasif memindahkan panas dari komponen penghasil panas ke panel radiator yang kemudian memancarkannya ke angkasa lepas.
Satelit Palapa memancarkan energinya dari orbit geostasioner, di mana ia bergerak dengan kecepatan tetap untuk ‘nongkrong’ tepat di atas titik yang sama di Bumi. Menghitung posisi dan kecepatan ini butuh ketelitian matematis, mirip seperti saat kita perlu Hitung 2 1/3 + 3 3/4 untuk mendapatkan hasil yang presisi. Nah, dari presisi hitungan itulah, satelit bisa tetap stabil menyediakan sinyal komunikasi yang andal bagi kita semua.
Dengan menjaga suhu operasional yang stabil secara efisien, satelit menghemat energi yang seharusnya digunakan untuk pemanas atau pendingin aktif, sehingga lebih banyak daya yang dapat dialokasikan untuk muatan komunikasinya.
Warisan Palapa dalam Konstelasi Satelit Modern yang Ramah Energi
Dari peluncuran Palapa-A1 pada 1976 hingga generasi terbaru satelit high-throughput seperti SATRIA-1, perjalanan teknologi satelit komunikasi Indonesia mencerminkan lompatan besar dalam efisiensi energi dan kinerja. Generasi awal Palapa, meski pionir, memiliki kapasitas terbatas dan efisiensi daya yang relatif rendah. Panel surya dan baterainya lebih sederhana, dan teknologi transponder-nya menghasilkan lebih banyak panas untuk setiap watt daya yang dikirimkan. Seiring waktu, fokus desain bergeser tidak hanya pada peningkatan kapasitas, tetapi juga pada optimalisasi konsumsi energi untuk memperpanjang usia dan meningkatkan layanan.
Satelit modern seperti Palapa-D dan generasi setelahnya telah mengalami transformasi signifikan. Penggunaan sel surya triple-junction yang lebih efisien memungkinkan panel yang lebih kecil menghasilkan daya listrik yang lebih besar. Teknologi bus satelit yang lebih canggih, seringkali menggunakan arus tegangan tinggi (100 Volt), mengurangi kehilangan daya selama distribusi internal. Transponder telah berevolusi dari analog ke digital, dan kini menggunakan amplifier yang lebih efisien seperti Traveling Wave Tube Amplifiers (TWTAs) dan Solid State Power Amplifiers (SSPAs) dengan manajemen termal yang lebih baik.
Kemajuan ini menghasilkan satelit dengan kapasitas bandwidth puluhan kali lipat lebih besar dari pendahulunya, tetapi dengan konsumsi energi per-bit yang jauh lebih rendah, dan masa operasional yang lebih panjang berkat efisiensi propulsi dan manajemen daya yang superior.
Spesifikasi Daya Dua Generasi Satelit Palapa
Perbandingan spesifikasi daya antara generasi awal dan generasi yang lebih baru menunjukkan kemajuan teknologi yang nyata dalam hal efisiensi dan kapasitas.
| Spesifikasi Daya | Palapa-A1 (Generasi Awal, 1976) | Palapa-D (Generasi Modern, 2009) |
|---|---|---|
| Daya Output Panel Surya (Akhir Misi) | ~ 600 Watt | ~ 11.000 Watt (11 kW) |
| Kebutuhan Daya Bus Satelit | Sebagian besar untuk housekeeping | Dioptimalkan, lebih banyak alokasi untuk payload |
| Daya Transponder (RF Output) | 5-10 Watt per transponder (C-band) | Hingga ~120 Watt per transponder (C-band & Ku-band) |
| Total Massa Bahan Bakar (Hidrazin) | ~ 100 kg (estimasi) | ~ 1.400 kg |
Pengurangan Sampah Antariksa dan Manuver Akhir Misi
Sebagai bagian dari tanggung jawab global, satelit modern dirancang dengan mempertimbangkan akhir hidupnya. Konsep “debris mitigation” atau pengurangan sampah antariksa menjadi krusial, terutama di orbit geostasioner yang padat. Satelit seperti generasi terbaru Palapa dirancang dengan cadangan bahan bakar khusus yang tidak digunakan untuk operasi rutin, tetapi disisihkan untuk manuver akhir masa hidup. Ketika masa operasi berakhir atau bahan bakar hampir habis, satelit akan melakukan manuver terakhir untuk mengosongkan slot orbit berharganya.
Ia didorong ke orbit “kuburan” yang lebih tinggi, sekitar 200-300 km di atas orbit geostasioner, di mana ia tidak akan mengganggu satelit operasional lainnya untuk setidaknya 100 tahun ke depan. Cadangan energi untuk manuver vital ini adalah bagian integral dari desain satelit yang berkelanjutan, memastikan warisan konektivitas tidak berubah menjadi warisan bahaya di angkasa.
Resonansi Teknologi Antariksa dengan Kehidupan Digital di Bumi: Energi Satelit Palapa Pada Orbit Geostasioner Dengan Kecepatan Tetap
Stabilitas energi dan posisi Satelit Palapa di angkasa mungkin terasa abstrak, tetapi dampaknya sangat nyata dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan digital di Nusantara. Ia adalah fondasi tak terlihat yang menjembatani ribuan pulau, memampatkan jarak, dan menyamakan akses informasi. Dari siaran berita nasional yang disiarkan serentak, percakapan telepon antar pulau, hingga koneksi internet untuk sekolah terpencil, semua bergantung pada titik diam yang bertenaga surya di langit tersebut.
Keandalan layanan ini bersandar pada dua pilar: pasokan energi yang terus-menerus dari matahari dan baterai, serta posisi yang stabil yang memungkinkan antena parabola di Bumi—dari stasiun televisi besar hingga VSAT di puskesmas pedalaman—hanya perlu diarahkan sekali dan kemudian terkunci permanen. Tanpa perlu melacak target yang bergerak, infrastruktur di bumi menjadi lebih sederhana, lebih murah, dan lebih mudah dirawat. Hal ini menjadikan satelit geostasioner seperti Palapa sebagai solusi yang tak tergantikan untuk negara kepulauan seperti Indonesia, di mana membangun infrastruktur terestrial serat optik ke setiap daerah adalah tantangan logistik dan finansial yang sangat besar.
Alur Sinyal Video dari Studio ke Televisi di Pedalaman
Perjalanan sebuah siaran televisi dari Jakarta hingga ke layar kaca di sebuah desa di Papua menggambarkan peran sentral satelit sebagai repeater di angkasa.
- Siaran langsung atau rekaman dari studio di Jakarta dikodekan menjadi sinyal digital dan dikirimkan ke stasiun bumi uplink via gelombang mikro.
- Stasiun bumi mengarahkan antena besar ke posisi tepat Satelit Palapa di orbit geostasioner, dan memancarkan sinyal kuat (uplink) ke arah satelit.
- Antena penerima di satelit menangkap sinyal yang sudah melemah setelah menempuh 36.000 km. Sinyal ini kemudian diperkuat oleh transponder satelit, yang ditenagai oleh panel surya dan baterai.
- Transponder mengubah frekuensi sinyal (untuk menghindari interferensi) dan memancarkannya kembali (downlink) ke Bumi dengan pola cakupan (footprint) yang sudah dirancang khusus untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
- Antena parabola kecil yang terpasang di rumah-rumah warga di Papua, yang sudah diarahkan ke satelit yang sama, menangkap sinyal downlink ini.
- Sinyal tersebut kemudian diproses oleh receiver (parabola) dan diterjemahkan kembali menjadi gambar dan suara yang ditampilkan di televisi.
Jejak Cakupan Sinyal Payung Digital Nusantara
Bayangkan sebuah payung raksasa yang terbuat dari energi elektromagnetik, membentang lembut di atas kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Itulah gambaran dari “footprint” atau jejak cakupan sinyal Satelit Palapa. Pada peta cakupan teknis, footprint ini digambarkan sebagai serangkaian garis kontur (isofrekuensi) yang menunjukkan kekuatan sinyal di berbagai daerah. Kontur terkuat biasanya berada di sekitar titik tengah cakupan, yang seringkali diatur agar sesuai dengan pusat demografi atau geografis Indonesia.
Semakin jauh dari pusat, sinyal secara bertahap melemah, tetapi masih dirancang untuk tetap dapat diterima dengan baik di wilayah terluar. Pola ini tidak seragam; ia bisa dibentuk (shaped) secara elektronik oleh antena satelit untuk lebih sesuai dengan bentuk kepulauan, memastikan energi yang dipancarkan tidak terbuang percuma ke lautan atau negara tetangga, tetapi terkonsentrasi membangun payung konektivitas digital yang menyatukan nusantara.
Setiap titik dalam footprint itu mewakili sebuah sekolah, kantor pemerintah, stasiun televisi, atau rumah yang tersambung ke jaringan nasional dan global, berkat energi yang dipancarkan dari benda yang tampak diam di langit.
Ringkasan Akhir
Jadi, begitulah kisah di balik layar—atau lebih tepatnya, di balik langit. Energi Satelit Palapa pada Orbit Geostasioner dengan Kecepatan Tetap adalah narasi tentang kecerdikan manusia mengolah hukum alam. Dari panel surya yang menari mengikuti matahari hingga pendorong kecil yang sesekali menyala untuk melawan gangguan gravitasi, setiap joule energi diperhitungkan. Warisan Palapa bukan sekadar tentang menghubungkan pulau-pulau, tetapi tentang meletakkan fondasi bagaimana kita merancang teknologi antariksa yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, untuk menjaga orbit yang berharga sekaligus menjaga Nusantara tetap terhubung dalam satu kesatuan digital.
Panduan Pertanyaan dan Jawaban
Apakah Satelit Palapa benar-benar diam di angkasa?
Tidak. Ia bergerak dengan kecepatan linier sangat tinggi, sekitar 3,07 km per detik, untuk mengimbangi gravitasi bumi. Namun, karena kecepatan orbitnya diselaraskan sempurna dengan rotasi bumi, ia terlihat diam relatif terhadap suatu titik di permukaan bumi.
Bagaimana jika panel surya satelit tertutup debu atau meteor kecil?
Lingkungan orbit geostasioner relatif bersih dari debu berat. Ancaman utama adalah partikel kecil dan radiasi. Panel surya dirancang tahan terhadap degradasi radiasi dalam jangka panjang, dan sistem daya memiliki cadangan untuk mengkompensasi penurunan efisiensi yang bertahap.
Dapatkah satelit geostasioner seperti Palapa bertabrakan dengan satelit lain?
Risiko ada, tetapi sangat kecil. Setiap satelit diorbitkan pada “slot” bujur tertentu yang diawasi ketat. Operator melakukan manuver station-keeping tidak hanya untuk menjaga posisi, tetapi juga untuk menghindari potensi konjungsi (close approach) dengan objek lain yang diketahui.
Apa yang terjadi pada Satelit Palapa ketika gerhana matahari?
Saat bumi menghalangi matahari, satelit memasuki bayangan dan panel surya berhenti menghasilkan listrik. Untuk periode ini (maksimal sekitar 72 menit per hari selama musim gerhana), satelit bergantung sepenuhnya pada baterai onboard yang telah diisi penuh sebelumnya.
Mengapa orbit geostasioner disebut sebagai sumber daya yang terbatas?
Karena hanya ada satu lingkaran ideal di ketinggian 35.786 km di atas ekuator. Untuk mencegah interferensi sinyal, satelit komunikasi harus diberi jarak minimal (biasanya sekitar 0,5-1 derajat bujur). Artinya, hanya ada sekitar 1800 slot potensial, dan slot prime sudah sangat padat.