Difference Between Conjunctions That and Which adalah salah satu tantangan tata bahasa Inggris yang sering bikin kita mengernyit. Keduanya terlihat bisa dipertukarkan, padahal di balik itu ada aturan dan nuansa yang memengaruhi makna kalimat secara signifikan. Pemahaman yang tepat bukan cuma soal benar dan salah secara teknis, tetapi juga tentang menyampaikan pesan dengan presisi dan gaya yang elegan.
Artikel ini akan mengajak kita menyelami dunia kedua konjungsi ini, mulai dari akar sejarahnya yang panjang, bagaimana otak kita memprosesnya, hingga variasi penggunaannya dalam berbagai dialek dan situasi. Dengan memahami perbedaannya, kita bisa menulis dengan lebih percaya diri, baik untuk keperluan akademis yang ketat maupun untuk menulis narasi yang mengalir dan penuh emosi.
Menelusuri Akar Historis Perkembangan That dan Which dalam Bahasa Inggris
Untuk memahami perbedaan yang tampak rumit antara “that” dan “which” hari ini, kita perlu mundur ke masa lalu. Perjalanan kedua kata ini dari bahasa Inggris Kuno hingga modern adalah cerita tentang penyederhanaan, spesialisasi, dan pengaruh norma sosial yang membentuk tata bahasa. Awalnya, keduanya memiliki peran yang lebih luas dan tumpang tindih, dan aturan pembatas yang kita pegang teguh sekarang adalah hasil dari evolusi berabad-abad, bukan hukum yang turun dari langit.
Kata “that” berasal dari kata penunjuk netral dalam bahasa Inggris Kuno, “þæt”, yang berfungsi sebagai artikel, kata ganti, dan konjungsi. Sementara itu, “which” berevolusi dari kata tanya “hwilc” atau “hwylc”, yang berarti “yang mana”. Pada periode Inggris Pertengahan, keduanya sering digunakan secara bergantian untuk memperkenalkan klausa relatif. Batasan yang jelas belum ada. Penggunaan mereka lebih ditentukan oleh ritme kalimat dan dialek penulis daripada aturan preskriptif.
Barulah pada abad ke-18, dengan bangkitnya gerakan preskriptif dan keinginan untuk “memperbaiki” bahasa, para gramarian mulai mengusulkan perbedaan yang lebih ketat, yang akhirnya mengkristal menjadi aturan pembatas versus tidak pembatas yang kita kenal.
Perkembangan Bentuk dan Fungsi dari Masa ke Masa
Tabel berikut merangkum perjalanan historis kedua kata ini, menunjukkan bagaimana bentuk dan fungsi utamanya berubah seiring waktu.
| Periode Waktu | Bentuk Kata | Fungsi Utama | Contoh Kalimat (Dekonstruksi) |
|---|---|---|---|
| Inggris Kuno (ca. 450-1150) | þæt (that), hwilc (which) | “þæt” sebagai penunjuk/netral; “hwilc” sebagai kata tanya. | “Se cyning þæt mæl gecēas” (Sang raja memilih waktu itu). “Hwilc bōc wille þū?” (Buku mana yang kamu inginkan?). |
| Inggris Pertengahan (ca. 1150-1500) | that, which, the which | Keduanya mulai digunakan sebagai kata ganti relatif, sering kali dapat dipertukarkan. | Chaucer: “The book which that I read…” (Buku yang saya baca…). Penggandaan “which that” umum. |
| Inggris Modern Awal (ca. 1500-1700) | that, which | Penggunaan bebas berlanjut. “Which” sering mengacu pada seluruh klausa. | Shakespeare: “The fair and innocent… which is more…” (Yang adil dan tak bersalah… yang mana lebih…). |
| Inggris Modern (ca. 1700-sekarang) | that, which | Spesialisasi: “that” untuk klausa pembatas, “which” (dengan koma) untuk tidak pembatas (terutama dalam gaya AS). | Aturan preskriptif menguat: “The car that I bought is red.” vs. “My car, which I bought yesterday, is red.” |
“This is the forest primeval. The murmuring pines and the hemlocks,
Bearded with moss, and in garments green, indistinct in the twilight,
Stand like Druids of old, with voices sad and prophetic,
Stand like harpers hoar, with beards that rest on their bosoms.”
— Henry Wadsworth Longfellow, Evangeline (Menggunakan “that” untuk deskripsi pembatas yang esensial).Membedakan “that” dan “which” dalam klausa pembatas memang penting untuk presisi. Namun, presisi penerapan nilai juga krusial dalam konteks lain, seperti yang bisa kita simak dalam ulasan mendalam tentang Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Pancasila di Era Orde Baru. Sama halnya, memahami batasan klausa dengan “that” versus “which” membantu kita menyusun pernyataan yang lebih akurat dan bebas ambiguitas dalam komunikasi tertulis.
“And then he drew a dial from his poke,
And, looking on it with lack-lustre eye,
Says very wisely, ‘It is ten o’clock:
Thus we may see,’ quoth he, ‘how the world wags:
‘Tis but an hour ago since it was nine,
And after one hour more ’twill be eleven;
And so, from hour to hour, we ripe and ripe,
And then, from hour to hour, we rot and rot;
And thereby hangs a tale.’ Which he detailed at length…”
— Adapted from William Shakespeare, As You Like It (Di sini, “which” mengacu pada seluruh ide “thereby hangs a tale”).
Pengaruh konteks sosial dan literatur sangat menentukan. Era Pencerahan membawa obsesi pada keteraturan dan logika. Para gramarian seperti Robert Lowth dan Lindley Murray, dalam upaya mereka menstandarisasi bahasa, melihat variasi penggunaan sebagai kekacauan. Mereka meminjam logika dari tata bahasa Latin (yang tidak selalu cocok untuk Inggris) untuk menciptakan aturan yang kaku. Dalam dunia penerbitan, terutama di Amerika, panduan gaya seperti The Chicago Manual of Style mengadopsi dan menyebarkan aturan ini, sehingga membakukan perbedaan tersebut sebagai tanda penulisan yang terdidik dan berhati-hati.
Jadi, aturan itu bukan hanya tentang kejelasan, tetapi juga tentang konformitas sosial dan literer.
Dampak Psikolinguistik dalam Pemahaman Kalimat dengan That dan Which: Difference Between Conjunctions That And Which
Cara otak kita memproses informasi dari sebuah kalimat tidak netral terhadap pilihan kata “that” atau “which”. Bagi penutur asli yang telah menginternalisasi aturan tersebut, pilihan kata sambung ini mengirimkan sinyal pemrosesan yang sangat cepat tentang jenis informasi yang akan datang. Klausa setelah “that” biasanya dipersepsikan sebagai informasi inti yang diperlukan untuk mengidentifikasi subjek, sehingga otak memprioritaskannya. Sebaliknya, koma sebelum “which” bertindak seperti tanda baca dalam lisan—sedikit jeda—yang memberi isyarat bahwa informasi berikutnya adalah tambahan, mungkin menarik, tetapi tidak krusial untuk identifikasi dasar.
Bagi pembelajar bahasa, perbedaan ini bisa menjadi sumber kebingungan. Tanpa kepekaan intuitif terhadap sinyal koma dan pilihan kata, makna kalimat bisa berubah atau menjadi kabur. Otak pembelajar mungkin harus bekerja ekstra untuk mengurai kembali struktur kalimat jika klausa yang seharusnya pembatas disajikan sebagai klausa tidak pembatas, atau sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa aturan “that/which” bukan sekadar hiasan gramatikal, tetapi alat kognitif yang memengaruhi kejelasan dan efisiensi komunikasi.
Kesalahan Pemahaman Umum Akibat Penggunaan yang Keliru
Source: amerilingua.com
Penggantian yang tidak tepat antara klausa pembatas dan tidak pembatas dapat menyebabkan beberapa kesalahan interpretasi yang umum terjadi.
- Ambiguity Identifikasi: Kalimat “The cars which are parked illegally will be towed” bisa diartikan semua mobil yang diparkir (dan kebetulan semuanya ilegal) akan ditarik, atau hanya mobil-mobil yang diparkir secara ilegal saja. Penggunaan “that” (“The cars that are parked illegally…”) menghilangkan ambiguitas ini dengan tegas membatasi subjek.
- Kesalahan Fokus: Menggunakan “which” tanpa koma untuk informasi pembatas dapat membuat pembaca berhenti sejenak, mengira informasi itu opsional, lalu harus membaca ulang ketika menyadari informasi itu penting. Ini mengganggu aliran pemahaman.
- Penafsiran yang Terlalu Luas: Klausa tidak pembatas dengan “which” sering menambahkan komentar atau fakta sampingan. Jika digunakan untuk informasi pembatas, pembaca mungkin keliru menganggap komentar sampingan itu sebagai bagian dari definisi inti subjek.
Naratif Perbandingan: Dua Versi Sebuah Cerita
Bayangkan dua versi dari sebuah kalimat dalam laporan investigasi:
Versi 1 (dengan “that”): “Agency tersebut akhirnya menemukan dokumen that membongkar seluruh operasi itu.” Fokusnya tajam dan dramatis. Hanya ada satu dokumen spesifik—dokumen yang membongkar operasi—dan penemuannya adalah klimaks. Dokumen lain mungkin ada, tetapi tidak relevan.
Versi 2 (dengan “which”): “Agency tersebut akhirnya menemukan dokumen, which membongkar seluruh operasi itu.” Nuansanya berbeda. Kalimat ini terdengar seperti setelah menemukan sebuah dokumen (mungkin yang pertama mereka periksa), ternyata dokumen itu membongkar segalanya. Informasi tentang membongkar operasi terasa lebih seperti akibat atau penjelasan tambahan, bukan definisi dari dokumen itu sendiri. Ritmenya lebih santai, dan ketegangannya sedikit berkurang.
Metafora Visual Klausa That dan Which
Bayangkan sebuah lapangan luas yang mewakili semua kemungkinan dalam pikiran pembaca. Klausa relatif dengan “that” berfungsi seperti pagar pembatas yang kokoh. Pagar itu secara aktif memisahkan sepetak tanah tertentu dari area lainnya. Tanpa pagar itu, wilayah yang dimaksud tidak akan terdefinisi dengan jelas. Pagar (“that”) bersifat esensial untuk menunjukkan mana area yang kita bicarakan.
Sementara itu, klausa dengan “which” (didahului koma) ibarat papan penanda informasi atau papan peringatan yang ditempel di pagar yang sudah ada. Papan itu mungkin memberi tahu kita bahwa tanah di dalamnya subur, atau bahwa pemiliknya seorang pelukis. Informasinya berguna dan menarik, tetapi jika papan itu dicabut, pagarnya tetap ada, dan tanah yang dirujuk tetap sama. Papan itu hanya menambahkan lapisan deskripsi tambahan.
Nuansa That dan Which dalam Ragam Dialek dan Register Bahasa Inggris Global
Aturan baku “that” untuk pembatas dan “which” untuk tidak pembatas, meski banyak diajarkan, tidak diterapkan secara seragam di seluruh dunia berbahasa Inggris. Perbedaan paling mencolok ada antara Inggris Amerika dan Inggris Britania. Dalam bahasa Inggris Amerika, aturan tersebut ditegakkan dengan cukup ketat, terutama dalam penulisan formal dan jurnalistik. Sementara di Inggris Britania, penggunaan “which” untuk memperkenalkan klausa pembatas tanpa koma masih sangat umum dan diterima, bahkan dalam teks terbitan bergengsi.
Bahasa Inggris Australia cenderung mengikuti pola Britania, meski pengaruh global media AS membuat aturan Amerika juga dikenal.
Dalam percakapan informal, perbedaan ini sering kali luruh. Banyak penutur asli, terlepas dari dialeknya, akan menggunakan “that” untuk segala situasi dalam berbicara, atau bahkan menghilangkannya sama sekali (“The book I read was great”). Namun, dalam register formal—seperti akademik, hukum, atau laporan bisnis—pemahaman dan penerapan aturan yang tepat menjadi penanda profesionalisme dan ketelitian.
Rekomendasi dari Panduan Gaya Terkemuka
Panduan penulisan utama memiliki pendekatan yang berbeda-beda terhadap topik ini, seperti yang dirangkum dalam tabel berikut.
| Panduan Gaya | Rekomendasi untuk Klausa Pembatas | Rekomendasi untuk Klausa Tidak Pembatas | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|
| APA (American Psychological Association) | Gunakan “that”. | Gunakan “which” (dengan koma). | Menganut aturan pembedaan yang sangat ketat untuk kejelasan dalam penulisan ilmiah. |
| The Chicago Manual of Style | Lebih memilih “that”. Menerima “which” jika lebih enak didengar. | Selalu gunakan “which” (dengan koma). | Meski lebih memilih “that”, Chicago mengakui bahwa “which” untuk pembatas dapat diterima, terutama jika sudah ada “that” sebelumnya dalam kalimat. |
| Fowler’s Modern English Usage | Mengakui “which” dapat digunakan, tetapi merekomendasikan “that” untuk menghindari ambiguitas. | Selalu gunakan “which” (dengan koma). | Berpijak pada tradisi Britania yang lebih fleksibel, tetapi mendorong kejelasan dengan menggunakan “that” untuk pembatas. |
Kelenturan Aturan dalam Contoh Nyata
Kelenturan aturan ini terlihat jelas dalam berbagai media. Novelis Britania seperti Zadie Smith atau Julian Barnes sering menggunakan “which” untuk klausa pembatas. Sebuah headline di The Guardian (UK) mungkin berbunyi: “The policy which caused the controversy is under review.” Sementara The New York Times (AS) kemungkinan akan menulis: “The policy that caused the controversy is under review.” Dalam transkrip percakapan podcast, Anda akan mendengar: “The thing is, the guy that I was talking to…” atau bahkan “The guy I was talking to…” dengan penghilangan total.
Implikasi Menghilangkan “That” sebagai Kata Sambung
Menghilangkan “that” sebagai kata sambung relatif (biasanya dalam klausa pembatas) adalah praktik umum yang disebut “zero relative pronoun”. Hal ini dapat diterima dan justru membuat bahasa terkesan lebih lincah dan informal, tetapi ada batasannya. Penghilangan ini biasanya aman ketika kata sambung tersebut berfungsi sebagai objek dalam klausa relatif. Contoh: “The book ( that) I recommended is a classic.” Menghilangkan “that” di sini terasa natural.
Namun, ketika “that” berperan sebagai subjek dalam klausa relatif, penghilangan akan menghasilkan kalimat yang salah atau aneh. Bandingkan: “The book that changed my life” (benar) dengan “The book changed my life” (sudah menjadi kalimat lengkap dengan makna berbeda). Jadi, penghilangan “that” dapat diterima selama tidak mengaburkan struktur gramatikal atau makna kalimat.
Interaksi Sintaksis antara That, Which dan Elemen Kalimat Kompleks Lainnya
Pilihan antara “that” dan “which” tidak berdiri sendiri; ia berinteraksi secara kompleks dengan elemen sintaksis lain dalam kalimat. Kehadiran preposisi, jenis konstruksi kata kerja, dan penempatan keterangan dapat mempengaruhi pilihan mana yang terdengar lebih alami atau secara gramatikal lebih disukai. Memahami interaksi ini adalah kunci untuk menulis kalimat majemuk yang tidak hanya benar secara teknis tetapi juga elegan dan mudah dibaca.
Salah satu aturan praktis yang sering didengar adalah “jangan akhiri kalimat dengan preposisi.” Meski aturan ini kini dianggap ketinggalan zaman, ia mempengaruhi pilihan kata sambung. Dalam struktur formal, kita cenderung mengatakan “The means by which he achieved it” daripada “The means that he achieved it by.” Dalam kasus ini, “which” hampir selalu dipilih setelah preposisi. Demikian pula, dengan kata kerja frasal atau konstruksi tertentu, pilihan kata sambung bisa terdengar lebih pas.
Misalnya, “The situation in which we find ourselves” terdengar lebih formal dan halus dibandingkan “The situation that we find ourselves in,” meski keduanya dapat diterima dalam konteks berbeda.
Kemampuan Which Mengacu pada Seluruh Klausa
Salah satu kekuatan unik “which” adalah kemampuannya untuk mengacu pada seluruh ide atau aksi dalam klausa utama, bukan hanya pada satu kata benda sebelumnya. “That” tidak memiliki fungsi ini. Kemampuan ini menambahkan lapisan komentar atau konsekuensi yang sangat berguna.
- Contoh: “She was an hour late for the meeting, which annoyed everyone.” Kata ” which” di sini tidak mengacu pada “meeting,” tetapi pada seluruh fakta bahwa “she was an hour late.”
- Analisis: Penggunaan ini memungkinkan penulis untuk menyampaikan reaksi, hasil, atau komentar tambahan terhadap peristiwa sebelumnya tanpa harus membuat kalimat baru. Ini adalah alat kohesi yang efisien. Klausa dengan “which” seperti ini hampir selalu tidak pembatas, sehingga harus didahului koma.
Prosedur Pemilihan dengan Superlative dan Kata Ganti Tertentu
Ketika kalimat melibatkan bentuk superlatif (ter-) atau kata ganti seperti “all,” “something,” “anything,” “nothing,” “none,” atau “little,” terdapat kecenderungan kuat untuk menggunakan “that.”
- Identifikasi kata kunci: Periksa apakah kata benda didahului oleh “the only,” “the very,” “the first,” “the last,” “all,” “any,” “every,” “no,” atau bentuk superlatif seperti “the best,” “the smallest.”
- Prioritaskan “that”: Dalam hampir semua kasus ini, “that” adalah pilihan yang lebih alami dan idiomatis karena sifatnya yang sangat membatasi dan menentukan. Contoh: “This is the best movie that I’ve ever seen.” “All that glitters is not gold.” “Is there anything that I can do?”
- Uji dengan “which”: Jika Anda mencoba menggunakan “which” (tanpa koma) dalam konteks ini, kalimat akan terdengar janggal atau terlalu formal. Penggunaan “which” dengan koma hanya mungkin jika klausa tersebut benar-benar tidak pembatas, yang jarang terjadi dengan kata-kata penentu seperti ini.
Analisis Kalimat Teknis yang Kompleks, Difference Between Conjunctions That and Which
“The hypothesis that the researchers proposed, and which was subsequently tested in a series of double-blind trials, posits a causal relationship between the variables, a finding which, if corroborated, could revolutionize the field.”
Mari uraikan peran “that” dan “which” dalam kalimat di atas. Kata ” that” digunakan untuk memperkenalkan klausa pembatas esensial: ” that the researchers proposed.” Ini adalah hipotesis spesifik yang diajukan oleh para peneliti tersebut, membedakannya dari hipotesis lain. Kemudian, ” which was subsequently tested…” adalah klausa tidak pembatas yang menambahkan informasi tentang apa yang terjadi pada hipotesis itu setelah diajukan.
Koma sebelum dan sesudah klausa ini menandainya sebagai sisipan. Terakhir, ” which, if corroborated…” kembali menggunakan “which” untuk mengacu pada seluruh ide “finding” (temuan adanya hubungan kausal). Penggunaan ganda ini menunjukkan presisi: “that” untuk mendefinisikan inti, “which” untuk menambahkan lapisan informasi dan komentar terhadap ide yang lebih luas.
Eksperimen Stilistika Menggunakan That dan Which untuk Mengontrol Ritme dan Penekanan
Di luar tata bahasa, “that” dan “which” adalah alat stilistika yang ampuh bagi penulis. Seperti pemain musik yang memilih antara ketukan stabil dan ornamentasi, penulis dapat memanipulasi pilihan kata sambung ini untuk mengatur tempo bacaan, menciptakan suspense, atau mengarahkan fokus pembaca. Klausa pembatas dengan “that” cenderung mempercepat ritme; mereka menyatu dengan klausa utama, mendorong pembaca untuk melanjutkan tanpa jeda. Sebaliknya, klausa tidak pembatas dengan “which” (dan koma yang menyertainya) memperlambat laju, menyisipkan jeda yang memberi ruang untuk informasi tambahan, refleksi, atau komentar sampingan.
Dalam penulisan naratif atau persuasif, kontrol atas ritme ini sangat penting. Sebuah argumen yang ingin terdengar langsung dan tak terbantahkan mungkin lebih banyak menggunakan struktur dengan “that”. Sementara sebuah esai reflektif atau deskripsi yang kaya mungkin memanfaatkan “which” untuk menambahkan nuansa dan detail yang memperkaya gambaran mental pembaca. Dengan sadar memilih di antara keduanya, Anda bukan hanya mematuhi aturan, tetapi juga membentuk pengalaman membaca.
Pola Ritmis dalam Pidato dan Prosa Puitis
Perhatikan kutipan dari pidato atau prosa puitis. Pidato Martin Luther King Jr.’s “I Have a Dream” penuh dengan klausa paralel yang sering menggunakan struktur pembatas untuk membangun momentum dan kepastian: “…a nation that will rise up…” Kontras dengan prosa Virginia Woolf, yang sering menggunakan klausa tidak pembatas untuk menyelipkan aliran kesadaran dan observasi mendalam: “The room, which was square and high-ceilinged, seemed to hold the silence like a bowl holds water.” Ritme yang pertama seperti mars berirama; yang kedua seperti gelombang yang naik turun dengan lembut.
Analogi Musik untuk That dan Which
Bayangkan sebuah kalimat sebagai sebuah melodi. Klausa dengan “that” berperan seperti ketukan tetap (beat) atau not-not utama dalam melodi. Mereka adalah tulang punggung ritmis yang menentukan struktur dasar dan mendorong lagu (atau kalimat) untuk bergerak maju. Tanpa mereka, lagu kehilangan arah dan definisi. Sementara itu, klausa dengan “which” (dan koma) ibarat ornamentasi, improvisasi, atau harmoni penyerta.
Mereka adalah trill, slide, atau not-not passing yang menambah warna, kompleksitas, dan keindahan ekstra. Mereka memperkaya pengalaman mendengarkan, tetapi jika digunakan berlebihan, dapat mengaburkan melodi utama. Keseimbangan yang tepat antara beat yang solid dan ornamentasi yang menarik menciptakan komposisi yang memukau.
Latihan Menulis Kreatif: Mengamati Perubahan Nuansa
Cobalah latihan ini untuk merasakan langsung dampak stilistika dari pilihan kata sambung. Ambil paragraf berikut (yang sengaja menggunakan banyak “which”) dan tulis ulang dengan mengganti setiap “which” yang memperkenalkan klausa pembatas menjadi “that” (dan menghapus koma yang relevan). Biarkan “which” untuk klausa yang benar-benar tidak pembatas.
“The old house, which stood at the end of the lane, had a garden which was overgrown with ivy. The front door, which was painted a peeling blue, creaked on hinges which needed oiling. Inside, the air held a smell which was a mixture of dust and forgotten memories.”
Setelah menulis ulang, bandingkan. Versi dengan “that” (“The old house that stood… had a garden that was overgrown…”) akan terasa lebih langsung, lebih faktual, dan mungkin lebih menegangkan atau misterius karena fokusnya sempit pada fitur-fitur definisi. Versi asli dengan “which” dan koma terasa lebih deskriptif, contemplative, dan seperti pengamatan yang dilakukan dari kejauhan. Latihan ini menunjukkan bahwa pilihan kecil dapat menggeser seluruh atmosfer tulisan Anda.
Ulasan Penutup
Jadi, perjalanan memahami that dan which pada akhirnya bukan sekadar menghafal aturan restriktif dan non-restriktif. Ini adalah tentang menjadi sutradara bagi kata-kata kita sendiri. Dengan memilih that, kita mengunci makna inti sebuah kalimat, membangun pagar yang jelas. Sementara which memberi kita ruang untuk menambahkan catatan kaki, warna, atau bisikan yang memperkaya cerita. Menguasai keduanya berarti kita memiliki kendali penuh atas ritme, penekanan, dan kejelasan dalam setiap kalimat yang kita tulis, dari email sederhana hingga karya sastra yang kompleks.
FAQ Terpadu
Apakah dalam percakapan informal, kesalahan penggunaan that dan which sangat diperhatikan?
Tidak selalu. Dalam percakapan santai, banyak penutur asli sendiri sering mencampuradukkan atau menghilangkan that. Namun, dalam konteks formal seperti penulisan akademik, profesional, atau publikasi, penggunaan yang tepat sangat penting untuk menghindari ambiguitas.
Bagaimana jika saya selalu ragu, adakah “jalan keluar” yang aman?
Beberapa panduan gaya, terutama untuk penulisan sederhana, menyarankan penggunaan that untuk klausa pembatas dan which dengan koma untuk klausa non-pembatas sebagai aturan praktis. Namun, memahami perbedaannya tetap lebih baik karena which tanpa koma juga bisa digunakan dalam klausa pembatas dalam beberapa dialek, terutama British English.
Apakah which selalu memerlukan koma di depannya?
Tidak selalu. Koma digunakan untuk klausa non-pembatas (yang memberikan informasi tambahan). Klausa pembatas yang diawali which (umum dalam British English) biasanya tidak menggunakan koma. Kuncinya adalah identifikasi: jika klausa itu penting untuk mengidentifikasi kata benda, ia pembatas dan sering tanpa koma (atau pakai that).
Bisakah which mengacu pada seluruh klausa sebelumnya, bukan hanya satu kata benda?
Ya, ini salah satu fungsi unik which. Contoh: “Dia terlambat satu jam, which membuat semua orang kesal.” Kata which di sini merujuk pada seluruh kejadian “dia terlambat satu jam”. That tidak bisa digunakan dalam konteks ini.