Faktor-faktor Penyebab Kesalahan Penggunaan Kata dan Solusinya

Faktor-faktor Penyebab Kesalahan Penggunaan Kata seringkali luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa merusak pesan dan kredibilitas. Dalam dunia yang serba cepat dan terkoneksi, kesalahan kecil dalam memilih kata bisa berakibat besar, mulai dari kesalahpahaman biasa hingga konflik yang tak perlu. Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis bahasa, melainkan cerminan dari dinamika sosial, pendidikan, dan budaya yang terus bergerak.

Kesalahan penggunaan kata merujuk pada pemakaian kosakata yang tidak tepat, baik dari segi makna, konteks, maupun bentuknya. Mulai dari salah kaprah dalam menggunakan kata serapan, tertukar antara homofon seperti “syarat” dan “sarat”, hingga pengaruh kuat bahasa gaul di media sosial, semua itu membentuk pola komunikasi yang sering kali jauh dari kaidah baku. Memahami akar permasalahannya adalah langkah pertama untuk menjadi pengguna bahasa yang lebih cermat dan efektif.

Memahami Ruang Lingkup Kesalahan Berbahasa

Ketepatan dalam memilih dan menggunakan kata bukan sekadar urusan tata bahasa yang kaku, melainkan fondasi dari komunikasi yang efektif dan bebas salah paham. Dalam konteks profesional, akademis, hingga percakapan sehari-hari, satu kata yang keliru dapat mengubah nuansa, maksud, bahkan kebenaran fakta yang disampaikan. Oleh karena itu, memahami akar permasalahan kesalahan berbahasa menjadi langkah krusial untuk meningkatkan mutu ekspresi kita, baik lisan maupun tulisan.

Kesalahan penggunaan kata, dalam kajian linguistik, merujuk pada pemakaian leksem yang tidak sesuai dengan kaidah semantik, sintaksis, atau konteks budaya yang berlaku. Praktisnya, ini terjadi ketika penutur atau penulis menggunakan suatu kata dengan makna, ejaan, atau fungsi yang bukan seharusnya. Contoh sederhana yang sering kita temui adalah kebingungan antara “antri” dan “antre”, penggunaan “di mana” sebagai kata sambung alih-alih “yang”, atau pertukaran antara “efektif” dan “efisien” yang sebenarnya memiliki dimensi makna berbeda.

Faktor Internal Penutur Bahasa, Faktor-faktor Penyebab Kesalahan Penggunaan Kata

Latar belakang individu penutur memainkan peran mendasar dalam membentuk kompetensi kebahasaannya. Faktor internal ini sering kali menjadi titik awal dari berbagai kesalahan yang kemudian terbawa hingga dewasa. Pemahaman akan faktor-faktor ini membantu kita melakukan introspeksi dan perbaikan secara personal.

Latar belakang pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Indonesia yang kurang mendalam, dapat menyebabkan fondasi kosakata dan tata bahasa yang rapuh. Selain itu, kebiasaan berbahasa di lingkungan keluarga dan pergaulan membentuk pola yang sulit diubah. Ungkapan-ungkapan yang salah kaprah tetapi sering diucapkan di rumah atau di komunitas tertentu lambat laun dianggap biasa dan benar. Keterbatasan penguasaan kosakata juga menjadi penyebab utama. Ketika seseorang tidak mengetahui kata yang tepat, ia cenderung memakai kata yang “mirip-mirip” atau berimprovisasi, yang berpotensi menimbulkan kesalahan makna denotatif maupun konotatif.

BACA JUGA  Mohon Dibantu Menjawab Makna Struktur dan Etika Penggunaannya

Faktor Kompleksitas Bahasa Itu Sendiri

Faktor-faktor Penyebab Kesalahan Penggunaan Kata

Source: slidesharecdn.com

Bahasa Indonesia adalah sistem yang hidup dan dinamis, dengan tingkat kerumitan yang tidak boleh diremehkan. Sifat bahasa itu sendiri, mulai dari kata serapan, homonim, hingga proses morfologis, menciptakan medan yang rawan kesalahan bahkan bagi penutur yang berhati-hati sekalipun.

Salah satu tantangan besar adalah mengelola kata serapan dari berbagai bahasa. Tabel berikut membandingkan beberapa contoh kesalahan umum yang timbul dari ketidaktahuan asal dan bentuk baku kata serapan.

Jenis Serapan Asal Bahasa Contoh Kesalahan Bentuk yang Benar
Lengkap Belanda (techniek) teknik teknik
Lengkap Inggris (standard) standard standar
Adaptasi Arab (mu`allim) muallim mualim
Adaptasi Inggris (consensus) konsensus konsensus (baku), konsens (diserap via Belanda)

Selain serapan, fenomena homofon (bunyi sama, tulisan dan makna berbeda) dan homograf (tulisan sama, bunyi dan makna berbeda) sering menjebak.

Ia mengsangkal semua tuduhan. (Salah, karena ‘sangkal’ berarti bantah)
Ia meng sangkalkan semua tuduhan. (Benar, dari kata dasar ‘sangka’)

Kesalahan penggunaan kata sering kali berakar pada faktor internal seperti kurangnya pemahaman semantik dan eksternal seperti pengaruh media sosial. Sebagai contoh, fenomena permintaan bantuan yang viral Tolong, teman‑teman justru kerap mempopulerkan istilah yang keliru secara struktural. Oleh karena itu, analisis mendalam terhadap faktor penyebab ini menjadi krusial untuk membangun kesadaran berbahasa yang lebih presisi dan kontekstual di ruang publik.

Teras rumahnya luas. (Bagian rumah)
Ia adalah teras di kantornya. (Salah kaprah untuk ‘inti’ atau ‘punggawa’, seharusnya ‘inti’ atau ‘pilar’)

Proses afiksasi (penambahan imbuhan) juga rawan kesalahan. Kesalahan dalam memilih prefiks (seperti meng- vs. men-), sufiks (-kan vs. -i), atau konfiks (ke-an, per-an) dapat menghasilkan kata yang tidak gramatikal atau berubah maknanya. Misalnya, “mendampingkan” (salah) vs.

“mendampingi” (benar), atau “ketidakhadiran” (benar) vs. “ketidakadaan” (yang bermakna ‘tidak ada’ sebagai konsep abstrak).

Pengaruh Media dan Perkembangan Zaman

Era digital dan arus informasi yang deras telah mengubah lanskap berbahasa secara fundamental. Media, khususnya media sosial dan platform digital, berperan sebagai ruang penyebaran bahasa yang sangat cepat, namun sering kali tanpa filter akurasi. Fenomena ini menciptakan dinamika baru sekaligus tantangan dalam menjaga ketepatan berbahasa.

Kesalahan penggunaan kata seringkali muncul akibat ketidaktahuan konsep dasar, mirip seperti keliru menghitung Arus pada Hambatan 302 Ω dalam Rangkaian 340 W karena salah memahami hukum Ohm. Dalam linguistik, ketidakpahaman terhadap kaidah baku dan konteks menjadi pemicu utama, sehingga pemahaman mendalam terhadap prinsip fundamental, baik dalam bahasa maupun sains, mutlak diperlukan untuk menghindari kesalahan yang bersifat sistemik.

BACA JUGA  Pemilihan Kata dalam Menulis Kunci Karya Berkualitas

Bahasa di media sosial cenderung informal, singkat, dan mengutamakan kecepatan. Tren seperti typo yang disengaja, singkatan non-baku, atau campur kode yang ekstrem (code-mixing) sering kali “naik kelas” dari sekadar bahasa gaul menjadi digunakan dalam konteks semi-formal, mengaburkan batas antara yang benar dan yang populer. Pengaruh bahasa asing, terutama Inggris, juga semakin kuat. Istilah-istilah baru dari teknologi, budaya pop, atau dunia kerja sering digunakan langsung tanpa upaya padanan yang memadai, atau dipadankan secara serampangan.

Akibatnya, terjadi pergeseran dan penyempitan makna pada beberapa kata Indonesia karena penggunaan populer yang salah kaprah.

  • Rilis: Makna aslinya ‘melepaskan’ atau ‘membebaskan’. Kini menyempit dan bergeser hampir eksklusif untuk berarti ‘mengeluarkan produk (film, musik, dll.) ke publik’.
  • Berkontribusi: Sering digunakan untuk aktivitas yang sekadar ‘ikut serta’ atau ‘memberi sumbangan materi’, padahal makna filosofisnya lebih dalam tentang memberikan bagian yang berarti untuk suatu tujuan bersama.
  • Fasilitas: Mulai digunakan untuk menyebut ‘kemudahan’ atau ‘fitur’ dalam suatu produk digital, meluas dari makna awalnya yang lebih konkret seperti ‘sarana dan prasarana fisik’.

Langkah Identifikasi dan Koreksi

Mengoreksi kesalahan penggunaan kata memerlukan metode yang sistematis dan kesadaran untuk selalu merujuk pada sumber yang terpercaya. Proses ini bukan tentang mencari-cari kesalahan orang lain, melainkan sebagai bentuk disiplin diri untuk menghasilkan komunikasi yang lebih berkualitas dan bertanggung jawab.

Kesalahan penggunaan kata sering muncul akibat kurangnya pemahaman konsep dasar yang presisi, mirip seperti saat kita mencari FPB dari 19, 20, dan 30 yang memerlukan ketelitian identifikasi faktor prima. Dalam linguistik, ketidaktelitian dalam menganalisis makna dan konteks menjadi pemicu utama deviasi berbahasa, sehingga pendekatan metodis dan analitis layaknya dalam matematika mutlak diperlukan untuk menghindari kekeliruan.

Prosedur identifikasi dapat dimulai dengan membaca ulang teks secara perlahan, fokus pada setiap pilihan kata. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah kata ini tepat untuk konteks kalimatnya? Apakah makna denotatifnya sesuai? Apakah ada nuansa konotatif yang tidak diinginkan? Periksa juga ejaan dan bentuk kata, terutama untuk kata serapan dan kata berimbuhan.

Untuk memverifikasi keraguan, sejumlah sumber rujukan dapat diandalkan.

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring: Sumber otoritatif pertama untuk memeriksa ejaan, makna, dan contoh penggunaan kata.
  • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI): Acuan baku untuk masalah ejaan, penulisan kata, dan tanda baca.
  • Tesaurus Bahasa Indonesia: Membantu menemukan sinonim dengan nuansa makna yang berbeda, sehingga kita dapat memilih kata yang paling tepat.
  • Karya-karya ilmiah atau artikel dari institusi berbahasa Indonesia yang kredibel (seperti LIPI, universitas, media massa utama) dapat menjadi contoh kontekstual penggunaan kata yang baik.
BACA JUGA  Identifikasi Majas Metonimia dalam Kalimat Soal Pilihan Ganda Panduan Lengkap

Teknik koreksi terlihat jelas ketika kita membandingkan dua versi kalimat. Perhatikan contoh berikut.

Versi Ragu: Acara itu dilaksanakan untuk memperingati hari jadi perusahaan, di mana semua karyawan diwajibkan hadir.

Versi Terkoreksi: Acara itu diselenggarakan untuk merayakan hari jadi perusahaan, yang mengharuskan kehadiran semua karyawan.

Penjelasan: Kata ” dilaksanakan” lebih cocok untuk rencana atau tugas yang bersifat prosedural, sementara ” diselenggarakan” lebih tepat untuk acara atau pesta. ” Memperingati” memiliki nuansa khidmat dan mengenang, sedangkan ” merayakan” lebih sesuai dengan suasana sukacita ulang tahun. Penggunaan ” di mana” sebagai kata sambung untuk benda bukan tempat diganti dengan ” yang” agar lebih sesuai dengan kaidah baku.

Pemungkas

Dengan demikian, mengurai benang kusut kesalahan berbahasa memerlukan pendekatan komprehensif. Dari faktor internal penutur hingga kompleksitas bahasa itu sendiri, setiap elemen saling berkait. Kesadaran untuk terus belajar, merujuk pada sumber yang valid, dan kritis terhadap bahasa yang kita konsumsi menjadi kunci perbaikan. Pada akhirnya, ketepatan berbahasa bukan sekadar soal benar dan salah, tetapi bentuk penghargaan terhadap alat utama pemersatu bangsa dan penyalur ilmu pengetahuan.

Tanya Jawab Umum: Faktor-faktor Penyebab Kesalahan Penggunaan Kata

Apakah kesalahan penggunaan kata sama dengan typo?

Tidak. Typo adalah kesalahan ketik yang biasanya tidak disengaja, seperti “bapak” ditulis “bapa”. Sementara kesalahan penggunaan kata adalah kesalahan pemilihan dan penerapan kata yang tidak sesuai makna atau konteks, meski penulisannya benar, seperti menggunakan “pusing” untuk “sibuk”.

Bagaimana cara membedakan kata baku dan tidak baku yang sering salah kaprah?

Periksa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring atau luring. Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah dan standar bahasa Indonesia yang diakui. Contohnya, bentuk baku adalah “napas”, bukan “nafas”; “risiko”, bukan “resiko”.

Apakah bahasa gaul di media sosial termasuk kesalahan penggunaan kata?

Dalam konteks komunikasi informal di media sosial, bahasa gaul lebih tepat disebut variasi bahasa. Namun, ia menjadi kesalahan jika digunakan dalam konteks formal seperti karya ilmiah, dokumen resmi, atau pemberitaan, karena tidak sesuai dengan konteks dan kaidah bahasa yang berlaku.

Mengapa orang yang pintar sekalipun bisa melakukan kesalahan penggunaan kata?

Kecerdasan umum tidak selalu berkorelasi langsung dengan kecermatan linguistik. Faktor kebiasaan sejak kecil, pengaruh lingkungan dominan, dan minimnya paparan pada bacaan atau percakapan yang menggunakan bahasa baku dapat menyebabkan kesalahan, terlepas dari tingkat pendidikan seseorang.

Leave a Comment