Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta Bahaya Penjelasan Berbelit

Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta, sebuah frasa dalam bahasa Jawa yang terdengar sederhana namun menyimpan pelajaran komunikasi yang sangat dalam. Bayangkan kita sedang mendengarkan seseorang bercerita, namun alih-alih mendapatkan intinya, kita justru dibawa berputar-putar dalam detail yang tak penting. Fenomena ini bukan hanya terjadi dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga merambah ke dalam tulisan kita, mulai dari laporan kerja, berita, hingga konten media sosial.

Frasa ini secara harfiah berarti “penjelasan yang tidak menunjukkan inti berita”. Ia menggambarkan situasi dimana keterangan yang diberikan justru mengaburkan pesan utama, membuat pendengar atau pembaca kebingungan dan kehilangan fokus. Dalam dunia yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan untuk menyampaikan pokok persoalan dengan jelas dan langsung adalah sebuah keahlian yang sangat berharga, sekaligus tantangan besar bagi banyak orang.

Makna dan Konteks Frasa

Kalau diterjemahkan secara harfiah, “Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta” itu artinya “Penjelasan yang Tidak Menunjukkan Inti Berita”. Ini adalah kritik yang tajam dalam dunia penulisan, terutama jurnalistik, tapi sebenarnya berlaku untuk semua bentuk komunikasi. Frasa ini menohok tepat di ulu hati masalah yang sering kita alami: penjelasan yang bertele-tele, keluar dari jalur, dan akhirnya malah bikin pembaca atau pendengar bingung, “Jadi intinya apa, sih?”

Contohnya gampang banget kita temuin. Misalnya, dalam sebuah rapat, seseorang ditanya progress proyek. Alih-alih menjawab “70% selesai dengan kendala di bagian pengadaan bahan”, dia malah memulai dari sejarah terbentuknya tim, cuaca saat brainstorming pertama, sampai spesifikasi teknis yang tidak relevan. Atau dalam berita online, judulnya “Harga Bahan Pokok Turun”, tapi paragraf pertama malah membahas panjang lebar tentang biografi menteri perdagangan dan visi misinya selama tiga paragraf sebelum akhirnya menyebut angka penurunan itu di akhir artikel.

Dalam komunikasi bahasa Indonesia, kita mengenal istilah “berputar-putar” atau “tidak langsung ke sasaran”. Dalam bahasa Inggris, ada konsep “beating around the bush” atau “verbose without substance”. Intinya sama: ada gap antara informasi yang diberikan dan inti pesan yang seharusnya disampaikan. Dampaknya ke audiens itu signifikan. Mereka bisa kehilangan minat, salah paham, atau menghabiskan energi kognitif hanya untuk menyaring mana informasi penting dan mana yang sampah.

Dalam konteks informasi cepat seperti sekarang, penjelasan yang tidak fokus sama saja dengan mengajak audiens untuk pergi.

Ciri-Ciri Penjelasan yang Tidak Efektif

Penjelasan yang “ora nuduhake pokok pawarta” punya ciri khas yang bisa dikenali. Biasanya, kita merasa jenuh atau gelisah saat membacanya. Secara teknis, beberapa karakteristiknya adalah kalimat yang berbelit, diksi yang terlalu bombastis tapi kosong, repetisi yang tidak perlu, dan struktur paragraf yang lompat-lompat. Mari kita bedah lebih detail.

Ciri Contoh Kalimat Alasan Ketidakefektifan Cara Memperbaikinya
Kalimat Pasif dan Berbelit “Peningkatan angka partisipasi dapat dilihat sebagai sebuah hasil yang diperoleh dari dilakukannya serangkaian upaya pendekatan secara intensif.” Subjek tidak jelas, kata kerja lemah (“dapat dilihat”, “dilakukannya”), dan terlalu banyak kata tugas. Gunakan kalimat aktif dan langsung: “Pendekatan intensif meningkatkan angka partisipasi.”
Diksi Berlebihan dan Jargon “Kami melakukan optimalisasi dan sinkronisasi paradigma secara holistik untuk mengakselerasi value creation.” Terkesan ingin terlihat pintar, tetapi maknanya kabur. Audiens umum bingung, audiens ahli menganggapnya kosong. Gunakan bahasa yang konkret: “Kami menyelaraskan metode kerja untuk menciptakan nilai lebih cepat.”
Detail Latar yang Tidak Relevan “Pada hari Senin yang cerah, setelah sarapan dengan roti bakar, penulis yang bersemangat itu mulai merancang proposal…” (untuk laporan bisnis). Informasi pribadi dan atmosfer tidak mendukung inti pesan (isi proposal), hanya memperpanjang pembukaan. Langsung ke pokok: “Proposal ini dirancang untuk…”
Repetisi dengan Sinonim “Kami berharap agar ke depannya, di masa yang akan datang, nantinya kita bisa lebih baik lagi.” Mengulang ide yang sama dengan kata berbeda tanpa menambah informasi baru, hanya membuat kalimat jadi panjang. Pilih satu frasa yang paling kuat: “Kami berharap kinerja ke depan lebih baik.”
BACA JUGA  Pengertian Cuaca dan Iklim Dasar Klasifikasi dan Aplikasinya

Berikut adalah contoh paragraf yang terjebak dalam masalah ini:

Sehubungan dengan telah diaturnya kembali mekanisme dan tata cara pengajuan permohonan yang berlaku, dan seiring dengan komitmen kami untuk senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan secara berkesinambungan, maka dengan ini diinformasikan bahwa pihak manajemen sedang dalam proses melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek dan faktor pendukung. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah rekomendasi kebijakan yang komprehensif guna menentukan langkah strategis ke depan, yang nantinya akan disampaikan pada waktu dan tempat yang akan ditentukan kemudian.

Kelemahan paragraf di atas sangat jelas: tidak ada inti berita yang konkret. Pembaca hanya diberitahu bahwa “ada evaluasi” yang sedang berlangsung, tetapi tidak ada apa, mengapa, atau dampaknya. Paragraf itu penuh dengan frasa formal baku (“sehubungan dengan”, “seiring dengan”) dan kata-kata yang mengambang (“berbagai aspek”, “faktor pendukung”, “langkah strategis”). Hasilnya? Pembaca menghabiskan waktu untuk membaca banyak kata, tetapi tidak mendapatkan informasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.

Penyebab Umum Terjadinya

Kenapa seseorang bisa menghasilkan penjelasan yang berputar-putar? Penyebabnya bisa berasal dari dua area besar: kebahasaan dan non-kebahasaan. Seringkali, kedua area ini saling berkait.

Dari sisi kebahasaan, penyebab utamanya adalah kurangnya keterampilan menyaring ide. Penulis atau pembicara takut dianggap tidak detail, sehingga memasukkan semua yang ada di kepalanya. Struktur kalimat menjadi kompleks karena keinginan untuk terlihat “akademis” atau “formal”, padahal justru mengorbankan kejelasan. Pemilihan diksi yang kurang tepat, seperti menggunakan jargon ketika tidak diperlukan, juga memperparah keadaan.

Faktor non-kebahasaan seringnya lebih mendasar. Pertama, kurangnya penguasaan materi. Saat kita tidak benar-benar paham suatu topik, kita cenderung mengelilinginya dengan kata-kata umum dan menghindari poin spesifik. Kedua, ada keinginan untuk terlihat lebih pintar, lebih sibuk, atau lebih berwawasan dengan menggunakan kalimat yang panjang. Ketiga, kebiasaan menulis yang buruk, seperti tidak membuat Artikel sebelum menulis atau enggan melakukan proses editing yang ketat.

Penulis sering terjebak dalam “mode menulis” tanpa pernah beralih ke “mode membaca kritis” untuk menilai karyanya sendiri dari sudut pandang audiens.

Strategi Penyusunan Penjelasan yang Jelas: Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta

Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta

Source: kompas.com

Membuat penjelasan yang fokus itu seperti memotong video: butuh skill mengedit. Kita harus berani memotong adegan yang tidak perlu agar ceritanya mengalir dengan padat. Langkah pertama dan terpenting adalah selalu mulai dengan pertanyaan kepada diri sendiri: “Apa satu hal yang paling penting yang ingin saya sampaikan?” Jawabannya harus bisa dirumuskan dalam satu kalimat sederhana. Kalimat itu menjadi anchor atau jangkar untuk seluruh penjelasan kita.

Setelah draft pertama selesai, masuklah ke fase “edit diri”. Prinsipnya adalah menjadi pembaca yang paling cerewet untuk tulisan sendiri.

  • Prinsip Satu Kalimat Inti: Bisa tidak kamu meringkas inti paragraf tersebut dalam satu kalimat? Jika tidak, paragraf itu mungkin memiliki terlalu banyak ide atau tidak memiliki ide yang jelas sama sekali.
  • Prinsip Pembaca Sibuk: Bayangkan pembaca kamu hanya punya waktu 10 detik untuk membaca bagian itu. Apa yang akan mereka tangkap? Jika bukan intinya, maka kamu perlu menulis ulang.
  • Prinsip “Langsung ke Tempatnya”: Hilangkan semua kalimat pembuka yang hanya berupa “suasana” atau “latar” jika tidak langsung berkontribusi pada pemahaman inti pesan.
  • Prinsip Potong Kata Kerja Lemah: Waspadai kata kerja seperti “terdapat”, “ada”, “dilakukan”, “dapat dilihat”. Ganti dengan kata kerja yang lebih aktif dan spesifik.
BACA JUGA  Median Data 4,3,5,4,6,3,6,7,8,7,8,8 dan Penjelasan Lengkapnya

Untuk memudahkan, gunakan template sederhana ini untuk menyusun paragraf yang langsung pada pokoknya:

Pokok Pesan [Nyatakan inti informasi di kalimat pertama]. Penjelasan [Berikan penjelasan pendukung, data, atau alasan yang relevan]. Kontekstualisasi [Jelaskan mengapa ini penting atau apa dampaknya]. Tindakan/Kesimpulan [Apa yang perlu dilakukan selanjutnya atau apa implikasi akhirnya].

Misalnya: ” Rapat koordinasi proyek X dimajukan menjadi Jumat, 25 Oktober. Perubahan ini diperlukan karena adanya jadwal inspeksi mendadak dari klien utama pada hari Kamis. Dengan demikian, semua laporan progress harus sudah siap untuk direview pada hari Rabu siang. Harap segera sesuaikan jadwal dan konfirmasi keikutsertaan.

Aplikasi dalam Berbagai Bentuk Tulisan

Kewaspadaan terhadap “katrangan sing ora nuduhake pokok pawarta” adalah senjata ampuh di semua medan penulisan. Dalam jurnalisme, prinsip ini adalah hukum. Piramida terbalik memaksa reporter untuk menempatkan informasi paling penting (5W+1H) di lead paragraph. Penjelasan latar, kutipan, dan detail lainnya mengikuti di bawah. Jika lead-nya sudah kabur, berita itu gagal total.

Dalam konten edukasi atau tutorial, penjelasan yang berbelit adalah musuh belajar. Pembaca datang untuk mendapatkan solusi atau pemahaman. Jika tutorial tentang “cara reset password” diawali dengan sejarah perkembangan keamanan digital selama tiga paragraf, pembaca akan kabur. Penjelasan harus bertahap, logis, dan setiap langkah harus memiliki justifikasi yang jelas dan relevan dengan tujuan akhir.

Ilustrasi yang paling jelas terlihat dalam naskah pidato. Bayangkan dua versi pembukaan pidato tentang inovasi. Versi buruk: “Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya pertama-tama mengucapkan puji syukur… Melihat kondisi dunia yang semakin kompetitif, di era disrupsi ini, di mana perubahan terjadi begitu cepat, kita harus… bla bla bla…” selama 5 menit tanpa inti.

Versi efektif: “Hari ini, kita akan membicarakan satu inovasi sederhana yang dapat mengurangi biaya operasional kita hingga 30%. Inovasinya adalah…” Pidato kedua langsung menyentuh kebutuhan pendengar (menghemat biaya) dan menyebutkan intinya di detik-detik pertama.

Latihan Identifikasi dan Perbaikan

Cara terbaik untuk mengasah kemampuan menghindari penjelasan yang tidak fokus adalah dengan berlatih mengedit. Berikut adalah beberapa teks pendek yang mengandung masalah klasik “ora nuduhake pokok pawarta”. Coba analisis, apa yang salah, dan bagaimana memperbaikinya.

Teks Asli Diagnosis Masalah Teks Hasil Perbaikan Penjelasan Perubahan
Sehubungan dengan permintaan yang disampaikan, maka bersama dengan ini kami sampaikan bahwa dokumen yang dimaksud saat ini masih dalam tahap proses finalisasi oleh pihak terkait. Kalimat pasif, tidak ada subjek jelas (“pihak terkait”), dan tidak ada timeline. Inti (dokumen belum siap) tersembunyi di balik frasa formal. Dokumen yang Anda minta masih dalam proses finalisasi. Kami akan mengirimkannya paling lambat Jumat sore. Subjek (“Dokumen”) didepan, kata kerja aktif (“dalam proses”), dan ditambah informasi tindakan konkret (timeline “Jumat sore”) yang sangat dibutuhkan penerima.
Fitur baru aplikasi ini dirancang dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari user untuk meningkatkan pengalaman pengguna secara signifikan, memberikan kemudahan akses, dan antarmuka yang lebih intuitif. Kalimat ini hanya menyebutkan manfaat umum (improve UX) tanpa menyebut secara spesifik fitur barunya apa. Ini adalah “katrangan” tanpa “pokok pawarta”. Fitur “Dark Mode” kini tersedia di aplikasi. Fitur ini mengurangi ketegangan mata dalam kondisi cahaya rendah dan menghemat baterai untuk perangkat bertipe OLED. Langsung sebut nama fiturnya (“Dark Mode”) di awal. Penjelasan fokus pada dua manfaat spesifik dan terukur, bukan klaim umum “meningkatkan pengalaman”.
Dalam rangka optimalisasi kinerja sistem server, maka akan dilakukan kegiatan maintenance terjadwal yang berpotensi menyebabkan beberapa layanan tidak dapat diakses untuk sementara waktu. Fokus pada “kegiatan” dan “potensi”, bukan pada inti berita yang penting bagi pengguna: kapan dan apa dampaknya. Maintenance server akan dilakukan pada Minggu, 27 Oktober pukul 00.00 – 04.00 WIB. Selama waktu tersebut, layanan login dan transaksi akan mengalami gangguan. Struktur langsung: apa, kapan, dampak. Kata “berpotensi” dihilangkan karena diganti dengan pernyataan pasti (“akan mengalami gangguan”). Informasi menjadi jelas dan dapat ditindaklanjuti.
BACA JUGA  Gambarkan resultan vektor C = B – A dengan metode poligon panduan lengkap

Mari kita demonstrasikan proses penyuntingan yang lebih panjang. Perhatikan teks pengumuman internal perusahaan berikut:

Memperhatikan perkembangan dinamika pasar yang begitu cepat dan fluktuatif, serta sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing, maka manajemen dengan ini memandang perlu untuk menyelenggarakan suatu program pelatihan. Program pelatihan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kapabilitas karyawan dalam menghadapi tantangan bisnis ke depan. Adapun pelatihan yang dimaksud adalah pelatihan terkait analisis data dasar. Informasi lebih detail mengenai jadwal dan mekanisme pendaftaran akan disampaikan kemudian melalui email internal.

Setelah diedit dengan prinsip “langsung ke pokok” dan menghilangkan “katrangan” yang tidak perlu, hasilnya menjadi:

Perusahaan akan menyelenggarakan pelatihan analisis data dasar untuk semua karyawan. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan dalam membaca tren pasar dan mendukung pengambilan keputusan. Informasi detail mengenai jadwal sesi dan link pendaftaran akan dikirim via email internal paling lambat besok, 24 Oktober.

Perubahan yang dilakukan sangat signifikan. Kalimat pertama langsung menyebut programnya. Alasan pelatihan (“membaca tren pasar”) dijelaskan dengan bahasa yang konkret dan terkait langsung dengan manfaat bagi karyawan. Frasa-frasa bombastis seperti “perkembangan dinamika pasar yang fluktuatif” dan “SDM yang unggul dan berdaya saing” dihilangkan karena sudah terwakili oleh penjelasan yang lebih sederhana. Yang paling penting, informasi samar “akan disampaikan kemudian” diganti dengan timeline yang jelas (“besok, 24 Oktober”), yang membuat pengumuman ini jauh lebih dapat ditindaklanjuti oleh pembacanya.

Ulasan Penutup

Jadi, inti dari semua pembahasan ini sebenarnya sederhana: kejelasan adalah bentuk penghormatan kepada audiens. Setiap kali kita menulis atau berbicara, kita sedang meminjam waktu dan perhatian orang lain. Menghargai pinjaman itu berarti berusaha sebaik mungkin untuk langsung pada intinya. Mari kita jadikan Katrangan Sing Ora Nuduhake Pokok Pawarta sebagai pengingat untuk selalu menyaring kata-kata, mempertajam fokus, dan memastikan setiap penjelasan yang kita berikan benar-benar mengantar orang pada pokok persoalan, bukan justru menjauhkannya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah penjelasan yang detail selalu berarti tidak fokus?

Tidak selalu. Penjelasan yang detail tetap efektif jika detail-detail tersebut mendukung dan memperkuat pemahaman terhadap inti pesan. Masalah muncul ketika detail yang diberikan tidak relevan, berlebihan, atau justru mengalihkan perhatian dari poin utama.

Bagaimana membedakan antara konteks yang diperlukan dengan penjelasan yang berbelit?

Konteks yang diperlukan langsung terhubung dan diperlukan untuk memahami “mengapa” dan “bagaimana” dari pokok berita. Sedangkan penjelasan berbelit seringkali menjawab pertanyaan yang tidak diajukan, membahas hal di luar lingkup, atau mengulangi informasi yang sudah jelas tanpa menambah pemahaman baru.

Apakah gaya bahasa tertentu lebih rentan terhadap masalah ini?

Gaya bahasa formal dan akademis seringkali lebih rentan karena dorongan untuk terdengar komprehensif atau ilmiah, yang kadang diwujudkan dengan kalimat panjang dan terminologi kompleks. Namun, gaya santai pun bisa terjebak jika pembicara atau penulis kurang disiplin dalam menyusun alur pikir.

Apakah alat bantu seperti AI bisa membantu mengatasi masalah penulisan seperti ini?

Alat bantu dapat digunakan untuk mengidentifikasi kalimat yang terlalu panjang, kata-kata yang berulang, atau struktur yang rumit. Namun, penilaian akhir tentang apakah suatu penjelasan sudah fokus pada inti atau belum tetap membutuhkan pemahaman manusia terhadap konteks dan tujuan komunikasi.

Leave a Comment