Pengaruh Kemenangan Jepang atas Rusia 1904 terhadap Nasionalisme Indonesia

Pengaruh Kemenangan Jepang atas Rusia 1904 terhadap Nasionalisme Indonesia bukan sekadar catatan sejarah perang di belahan dunia lain. Peristiwa itu adalah gempa bumi ideologis yang mengguncang fondasi kolonialisme di Hindia Belanda. Saat berita tentang armada Kekaisaran Rusia yang tak terkalahkan ditaklukkan oleh bangsa Asia sampai ke Nusantara, sebuah keyakinan baru lahir: mitos superioritas Barat ternyata bisa dihancurkan.

Kemenangan telak Jepang dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905) itu menjadi bukti nyata pertama dalam sejarah modern bahwa kekuatan Eropa bukanlah sesuatu yang tak terbantahkan. Gelombang kejutan dan inspirasi dari peristiwa ini merasuk ke dalam pikiran elit terpelajar pribumi, memicu perubahan paradigma yang fundamental. Narasi “David Asia melawan Goliath Eropa” ini kemudian menjadi katalisator yang mempercepat dan mengubah arah pergerakan kebangsaan Indonesia, mengubah aspirasi yang samar menjadi tekad yang membara untuk merdeka.

Latar Belakang Konflik Perang Rusia-Jepang (1904-1905)

Pengaruh Kemenangan Jepang atas Rusia 1904 terhadap Nasionalisme Indonesia

Source: russiatoday.com

Pada awal abad ke-20, panggung geopolitik dunia didominasi oleh kekuatan-kekuatan Eropa yang dengan percaya diri menjalankan politik imperialisme. Dalam narasi yang sudah mapan, bangsa-bangsa Asia sering ditempatkan pada posisi inferior, sebagai objek yang harus ditaklukkan dan dibimbing. Perang Rusia-Jepang yang meletus pada 1904 dan berakhir dengan kemenangan telak Jepang pada 1905 menjadi gempa bumi yang mengguncang tatanan persepsi tersebut. Konflik ini pada dasarnya adalah perebutan pengaruh di Manchuria dan Semenanjung Korea, dua wilayah yang menjadi bidak dalam permainan besar kekaisaran.

Penyebab utamanya berakar pada ambisi ekspansionis Rusia yang ingin menguasai pelabuhan air hangat di Port Arthur (sekarang Lüshunkou) dan mendorong pengaruhnya ke Korea, sementara Jepang, yang telah melakukan modernisasi besar-besaran sejak Restorasi Meiji, melihat Korea sebagai wilayah pengaruh vital untuk keamanannya. Ketegangan memuncak ketika negosiasi gagal, dan pada 8 Februari 1904, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang melancarkan serangan mendadak terhadap Armada Pasifik Rusia di Port Arthur.

Perang darat yang sengit pun menyusul, dengan pertempuran besar seperti di Mukden dan laut di Selat Tsushima. Kemenangan Jepang, yang diformalkan melalui Perjanjian Portsmouth, bukan sekadar kemenangan militer biasa. Ini adalah pertama kalinya dalam era modern sebuah bangsa Asia mengalahkan sebuah kekuatan Eropa besar, meruntuhkan mitos tentang ketidakmampuan bangsa non-Eropa.

Perbandingan Kekuatan Militer Rusia dan Jepang

Meski Rusia secara total lebih besar, keunggulan Jepang terletak pada kesiapan tempur, doktrin, dan efisiensi logistik di teater perang. Tabel berikut menguraikan perbandingan kunci antara kedua pihak yang menjelaskan bagaimana David Asia berhasil mengalahkan Goliath Eropa.

Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1904 menjadi bukti bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan Eropa, sebuah peristiwa yang menyuntikkan semangat nasionalisme di Indonesia. Semangat itu, bagai organisme hidup yang terus bergerak dan membuang sisa-sisa kolonialisme, menunjukkan proses dinamis yang vital. Dalam konteks biologis, proses membuang zat sisa atau Ciri Makhluk Hidup yang Menunjukkan Ekskresi adalah tanda keberlangsungan. Demikian pula, kemenangan Jepang itu memicu proses ‘ekskresi’ mental bangsa Indonesia, membuang mentalitas inferior dan memantik kesadaran untuk meraih kemerdekaan sendiri.

Aspek Kekaisaran Rusia Kekaisaran Jepang
Kekuatan Militer Angkatan darat dan laut sangat besar secara global, tetapi tersebar di Eropa dan Asia. Pasukan di Timur Jauh kurang terlatih dan kurang termotivasi. Angkatan bersenjata yang lebih kecil namun homogen, sangat termotivasi, dan terlatih dengan doktrin modern. Konsentrasi penuh di wilayah konflik.
Doktrin & Semangat Tempur Doktrin kaku, birokrasi militer lamban, dan moral pasukan yang sering rendah. Jarak dari pusat kekuasaan di St. Petersburg memperparah masalah komando. Doktrin ofensif yang agresif, semangat bushido (jalan ksatria), dan loyalitas mutlak pada Kaisar. Komando lebih fleksibel dan dekat dengan medan.
Teknologi & Persenjataan Memiliki teknologi setara (kapal perang modern, senapan Mosin-Nagant), tetapi kualitas dan pemeliharaan sering tidak merata. Armada Baltik yang dikirim harus berlayar sangat jauh. Teknologi yang setara atau bahkan lebih unggul dalam beberapa hal (artileri angkatan laut, peluru hancur sendiri). Industri dalam negeri mendukung logistik dengan baik.
Strategi & Logistik Strategi defensif dan reaktif. Jalur logistik sangat panjang dan rentang (Trans-Siberian Railway belum sepenuhnya siap). Strategi ofensif dengan inisiatif penuh. Menguasai laut sehingga logistik pasokan dan pasukan sangat efisien. Memanfaatkan pengetahuan medan yang lebih baik.
BACA JUGA  Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al-Quran untuk Almarhum

Penyebaran Berita Kemenangan Jepang di Hindia Belanda

Kabar tentang kemenangan Jepang atas Rusia tidak hanya menggema di lingkaran diplomatik dunia, tetapi juga menyebar dengan cepat ke pelosok Hindia Belanda, menjangkau masyarakat yang haus akan cerita tentang perubahan tatanan dunia. Penyebaran ini terjadi melalui saluran-saluran yang berkembang pesat di awal abad ke-20, menciptakan gelombang diskusi dan interpretasi yang beragam di tengah masyarakat kolonial.

Media cetak memainkan peran paling krusial. Surat kabar berbahasa Melayu seperti Bintang Hindia, Bintang Barat, dan Pewarta Soerabaia melaporkan perkembangan perang dengan antusias. Berita juga disaring melalui pers berbahasa Belanda, yang meski sering dengan nada merendahkan, tetap mengonfirmasi fakta kekalahan Rusia. Selain itu, komunikasi lisan di pasar, pertemuan keagamaan, dan percakapan di rumah-rumah menjadi amplifier alami, di mana berita tersebut sering diceritakan kembali dengan tambahan narasi heroik dan penuh simbol.

Kelompok Masyarakat yang Terpengaruh

Dua kelompok yang paling terdampak adalah kaum terpelajar pribumi (cendekiawan, siswa sekolah dokter STOVIA, guru) dan komunitas pedagang, terutama dari Sarekat Dagang Islam. Bagi kaum terpelajar, kemenangan Jepang adalah bukti empiris bahwa modernisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan bukan monopoli Barat. Mereka melihat Jepang sebagai model bahwa bangsa Timur bisa setara, bahkan mengungguli, Eropa dengan menguasai sains dan teknologi. Sementara bagi pedagang pribumi dan Muslim, kemenangan ini dilihat sebagai kekuatan spiritual Asia bangkit melawan Kristen Eropa, sekaligus inspirasi untuk membangun kekuatan ekonomi mandiri.

Interpretasi Berita oleh Berbagai Pihak

  • Pers Pribumi: Mengangkat narasi kebangkitan Timur dan kejatuhan mitos superioritas kulit putih. Pemberitaannya sering diselingi dengan pujian terhadap semangat bushido Jepang dan kecemerlangan strateginya, sebagai cermin untuk membangkitkan harga diri bangsa sendiri.
  • Pers Belanda: Cenderung mengecilkan arti kemenangan Jepang, menyebutnya sebagai “keberuntungan” atau menganggap Rusia bukanlah representasi terbaik Eropa. Namun, di balik nada tersebut, terasa kekhawatiran akan efek psikologisnya terhadap penduduk jajahan.
  • Komunikasi Lisan: Narasi berkembang menjadi cerita-cerita populer yang lebih simbolik. Jepang digambarkan sebagai “negara kecil pemberani” yang mengalahkan “raksasa sombong” Rusia, sebuah analogi David vs Goliath yang sangat mudah dicerna dan menginspirasi.

Dampak Psikologis dan Ideologis terhadap Elit Pribumi

Kemenangan Jepang berfungsi sebagai katalis intelektual yang powerful bagi para elit pergerakan nasional Indonesia. Peristiwa itu memberikan suntikan keyakinan yang sebelumnya sulit diperoleh. Jika sebelumnya perjuangan melawan kolonialisme terasa seperti melawan takdir yang tak terelakkan, kini muncul bukti nyata bahwa kekuasaan kolonial Eropa bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan. Paradigma berpikir bergeser dari keraguan menjadi keyakinan akan kemungkinan.

Tokoh-tokoh seperti dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo, yang sedang merintis jalan menuju kebangkitan melalui pendidikan, melihat dalam kemenangan Jepang validasi atas keyakinan mereka. Bagi mereka, Jepang membuktikan bahwa dengan pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan modern, sebuah bangsa bisa bangkit dari keterbelakangan. Sementara tokoh seperti H.O.S.

Tjokroaminoto melihatnya dari kacamata perjuangan politik dan solidaritas Islam, di mana kekuatan non-Barat bisa menjadi penyeimbang.

Kutipan Inspirasi dari Tokoh Nasional

Referensi terhadap peristiwa ini sering muncul dalam tulisan dan pidato. Salah satu yang terkenal adalah dari Ki Hajar Dewantara, yang menulis:

“Kemenangan Jepang atas Rusia telah membuka mata kita. Ia membuktikan bahwa kemajuan dan kekuatan bukanlah hak eksklusif bangsa kulit putih. Sekarang saatnya kita membuktikan bahwa kita juga mampu.”

Demikian pula, dalam berbagai rapat organisasi pergerakan, analogi Jepang-Rusia sering diangkat untuk memompa semangat anggota. Peristiwa ini memperkuat keyakinan bahwa kemerdekaan bukanlah mimpi di siang bolong, tetapi sebuah tujuan yang bisa diraih dengan strategi, organisasi, dan semangat pantang menyerah yang tepat.

Pengaruh terhadap Organisasi dan Strategi Pergerakan Awal

Efek dari kemenangan Jepang tidak hanya bersemayam di pikiran, tetapi juga terejawantah dalam aksi organisasi. Organisasi pergerakan awal seperti Budi Utomo (didirikan 1908) dan Sarekat Islam (berkembang dari 1912) lahir dan dibesarkan dalam atmosfer pasca-1905 yang telah berubah. Semangat baru ini memengaruhi orientasi dan strategi mereka, meski dengan penekanan yang berbeda.

Sebelum 1905, pemikiran tentang perlawanan cenderung lokal dan sporadis. Pasca-1905, muncul keyakinan akan pentingnya organisasi modern yang terstruktur, mencontoh modernisasi Jepang. Konsep “Asia Bangkit” atau Pan-Asianisme—gagasan tentang solidaritas dan kebangkitan bersama bangsa-bangsa Asia melawan dominasi Barat—mulai masuk ke wacana pergerakan. Narasi ini memberikan kerangka ideologis yang lebih luas, di mana perjuangan di Hindia Belanda bukanlah sebuah isolasi, tetapi bagian dari gelombang kebangkitan global Timur.

BACA JUGA  Menentukan Siapa yang Akan Menikah dengan Fadil Berdasarkan Kriteria

Evolusi Strategi Organisasi Pergerakan

Organisasi Tujuan Awal Evolusi Strategi Pasca-1905 Peran Kunci Kemenangan Jepang
Budi Utomo Memajukan pendidikan dan kebudayaan Jawa, terutama di kalangan priyayi. Meski tetap kultural, wacananya diperkuat oleh contoh Jepang bahwa kemajuan pendidikan adalah kunci kekuatan bangsa. Memperluas cakrawala berpikir tentang modernisasi. Memberikan blueprint sukses bahwa modernisasi ala Timur mungkin dilakukan, mendorong kepercayaan diri dalam advokasi pendidikan.
Sarekat Islam Awalnya (sebagai Sarekat Dagang Islam) memajukan ekonomi pedagang Muslim pribumi melawan dominasi Tionghoa. Berkembang menjadi organisasi massa politik yang lebih luas, melawan penindasan ekonomi kolonial Belanda. Semangat perlawanan lebih percaya diri dan terinspirasi oleh “kebangkitan Timur”. Memvalidasi perlawanan terhadap kekuatan Eropa. Narasi kemenangan Jepang digunakan untuk membangkitkan semangat anggota dan menunjukkan bahwa kolonialis bisa dikalahkan.

Kontribusi terhadap Pembentukan Identitas Nasional Indonesia: Pengaruh Kemenangan Jepang Atas Rusia 1904 Terhadap Nasionalisme Indonesia

Proses pembentukan identitas nasional membutuhkan lebih dari sekadar kesamaan wilayah atau bahasa; ia membutuhkan keyakinan kolektif akan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri. Kemenangan Jepang atas Rusia menyumbangkan bahan mental yang crucial untuk proses ini: kepercayaan diri. Peristiwa itu secara efektif membantu meruntuhkan dinding psikologis berupa mitos superioritas rasial dan kolonial bangsa Eropa yang selama ini dibangun dan dirawat oleh pemerintah kolonial.

Di mata banyak pribumi, Belanda tiba-tiba tidak lagi tampak sebagai kekuatan super yang tak tertandingi. Jika Rusia—yang sering digambarkan sebagai negara Eropa besar—bisa dikalahkan oleh bangsa Asia, maka Belanda pun suatu saat nanti bisa mengalami nasib serupa. Perubahan persepsi ini adalah langkah pertama yang vital menuju imajinasi tentang sebuah komunitas politik yang merdeka.

Simbol dan Analogi dalam Propaganda

Kaum pergerakan dengan lihai memanfaatkan simbolisme dari peristiwa tersebut. Jepang sering disebut sebagai “Matahari Terbit dari Timur” yang menyinari kegelapan penjajahan Barat. Analogi “David vs Goliath” menjadi metafora favorit untuk menggambarkan perjuangan bangsa kecil Indonesia melawan kekuatan kolonial yang besar. Gambaran tentang armada Jepang yang menghancurkan armada Baltik Rusia di Selat Tsushima menjadi alegori tentang bagaimana ketelitian, strategi, dan keberanian dapat mengalahkan kekuatan yang tampak lebih superior.

Ilustrasi Poster Propaganda Era Pergerakan, Pengaruh Kemenangan Jepang atas Rusia 1904 terhadap Nasionalisme Indonesia

Bayangkan sebuah poster propaganda dari era 1910-1920an. Di latar belakang, siluet kapal perang Jepang dengan bendera matahari terbit berdiri gagah di tengah laut, dengan kapal-kapal Rusia yang tenggelam samar di kejauhan. Di latar depan, seorang laki-laki pribumi dengan pakaian pekerja, satu tangan memegang palu (lambang buruh/industri), tangan lainnya memegang buku (lambang pendidikan), menatap ke arah kapal Jepang tersebut dengan pandangan penuh harapan dan tekad.

Sinar matahari terbit dari balik kapal menyinari wajahnya. Di bagian bawah poster, tertulis slogan dalam huruf tebal berbahasa Melayu: “MEREKA BISA, KITA PASTI BISA!”. Poster ini menggabungkan inspirasi dari kemenangan Jepang dengan agenda utama pergerakan nasional Indonesia saat itu: pendidikan, industri, dan persatuan.

Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1904 menjadi katalisator penting bagi kebangkitan nasionalisme Indonesia, membuktikan bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan kekuatan Eropa. Momentum sejarah ini, ibarat memecahkan persoalan kompleks layaknya saat kita diminta untuk Tentukan Besar Sudut pada Gambar Ini , memerlukan analisis mendalam untuk memahami dampak strukturalnya. Secara akademis, peristiwa tersebut tidak hanya memicu semangat, tetapi juga menggeser persepsi tentang kolonialisme di kalangan intelektual pribumi, mempercepat pergerakan menuju kemerdekaan.

Konteks Global dan Koneksi dengan Bangsa Asia Lainnya

Gema kemenangan Jepang di Port Arthur dan Tsushima bergaung jauh melampaui batas-batas geografisnya, menyentuh hati dan pikiran para pejuang anti-kolonial di seluruh Asia dan bahkan Afrika. Peristiwa ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi menjadi sebuah momen simbolik bersama bagi dunia yang terjajah. Ia memberikan bukti nyata bahwa rantai imperialisme Barat bisa diputus, memicu gelombang optimisme dan radikalisasi pergerakan nasional di berbagai wilayah.

Di India, para nasionalis seperti Bal Gangadhar Tilak dan Lala Lajpat Rai secara terbuka mengagumi Jepang dan menggunakan kemenangannya untuk mengkritik Inggris. Di Vietnam, Ho Chi Minh muda dan para intelektual lainnya terinspirasi, melihat Jepang sebagai contoh alternatif modernisasi non-Barat. Di Filipina, yang baru saja lepas dari cengkeraman Spanyol dan kini berhadapan dengan Amerika, kisah Jepang juga menjadi bahan renungan.

Posisi diplomatik Jepang pasca-kemenangan memang ambigu; di satu sisi menjadi anggota klub kekuatan imperialis (dengan menganeksasi Korea 1910), di sisi lain tetap menjadi simbol kebangkitan Asia. Interaksi langsung dengan pergerakan di Hindia Belanda masih minimal dan tidak resmi, lebih berupa korespondensi intelektual dan pengiriman pelajar (seperti yang dilakukan oleh tokoh seperti Abdul Rivai), serta konsumsi terhadap literatur dan berita tentang Jepang.

BACA JUGA  Negara yang Dikuasai atau Dijajah oleh Negara Lain dalam Lintasan Sejarah

Perbandingan Dampak di Indonesia dan India

  • Indonesia: Kemenangan Jepang terutama memengaruhi paradigma berpikir kaum terpelajar dan mempercepat pendirian organisasi modern berbasis pendidikan dan ekonomi. Inspirasi bersifat lebih psikologis dan ideologis, memicu kepercayaan diri akan kemungkinan merdeka.
  • India: Dampaknya lebih langsung terasa pada perdebatan politik dalam Kongres Nasional India. Kelompok radikal (Extremists) seperti Tilak menggunakan contoh Jepang untuk mendukung argumen mereka tentang Swaraj (kemerdekaan penuh) dan perlawanan yang lebih keras terhadap Inggris, berbeda dengan pendekatan moderat yang diusung awal.

Interpretasi dalam Karya Sastra dan Budaya Populer Awal Abad 20

Suasana kebatinan pasca-kemenangan Jepang tidak hanya hidup dalam rapat-rapat politik, tetapi juga meresap ke dalam ekspresi budaya masyarakat Hindia Belanda. Karya sastra dan pertunjukan populer menjadi cermin yang sensitif menangkap perubahan sikap dan harapan baru ini. Dalam koran-koran dan terbitan berbahasa Melayu-Tionghoa, serta dalam syair-syair tradisional yang dimodifikasi, mulai muncul referensi halus maupun langsung tentang kebangkitan Timur.

Karya sastra Melayu-Tionghoa, yang sangat populer saat itu, sering menyelipkan kritik sosial dan politik. Kisah tentang kemenangan Jepang bisa dijadikan latar belakang atau analogi dalam cerita-cerita berlatar kekinian. Demikian pula, syair—bentuk puisi tradisional—digunakan untuk mengabarkan peristiwa dunia dengan gaya yang puitis, di mana Jepang dipuji sebagai “singa dari timur” yang membuat “harimau barat” ketakutan. Budaya populer mulai merefleksikan sikap yang kurang ajar terhadap kolonialisme, bukan lagi sebagai takdir yang harus diterima, tetapi sebagai suatu kondisi yang bisa dipertanyakan dan dilawan.

Contoh Cerita Pendek Terinspirasi

Bayangkan sebuah cerpen yang terbit di Bintang Hindia sekitar tahun
1906. Judulnya “Kabar dari Laut Timur”. Bercerita tentang seorang pelajar STOVIA di Batavia yang mendapat surat dari pamannya, seorang mualim pada kapal dagang yang singgah di Singapura. Surat itu berisi laporan detail dan penuh kekaguman tentang bagaimana orang-orang di pelabuhan membicarakan kemenangan Jepang. Sang paman menulis, “Di sini, bukan hanya orang Tionghoa dan Melayu, tetapi bahkan para pelaut Eropa lain membicarakannya dengan nada hormat.” Surat itu menjadi bahan diskusi panas di asrama pelajar, memicu perdebatan tentang masa depan bangsanya sendiri.

Cerita diakhiri dengan sang pelajar memandang jauh ke luar jendela, ke arah laut, sambil membayangkan armada Jepang, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa masa depan tidak sepenuhnya gelap. Cerita seperti ini, meski fiksi, menggambarkan dengan baik bagaimana berita global itu disaring, dipersonalisasi, dan menjadi bahan bakar bagi imajinasi nasional.

Penutup

Dengan demikian, gema dari kemenangan Jepang di Port Arthur dan Tsushima itu jauh melampaui batas geografisnya. Peristiwa tersebut berhasil menanamkan benih keyakinan yang paling vital dalam perjuangan sebuah bangsa: keyakinan bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang mungkin diraih. Ia tidak hanya menginspirasi perubahan strategi organisasi pergerakan dari kooperasi ke non-kooperasi, tetapi juga membantu meruntuhkan tembok psikologis penjajahan yang selama ini membelenggu.

Dalam narasi besar kebangkitan nasional Indonesia, kemenangan Jepang atas Rusia berperan sebagai pemantik awal yang mengubah percikan ide menjadi kobaran semangat perjuangan yang tak terpadamkan.

Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1904 membuktikan bahwa bangsa Asia mampu mengalahkan kekuatan Eropa, sebuah momentum yang menyulut api nasionalisme Indonesia. Semangat kebangkitan ini berkembang secara progresif, layaknya pola bilangan aritmatika yang dapat diprediksi, sebagaimana terlihat pada Tiga suku selanjutnya dari barisan 5,10,15,20. Dengan logika yang sama, kemenangan Jepang itu menjadi suku penting dalam barisan sejarah yang mendorong lahirnya gerakan kebangsaan Indonesia menuju kemerdekaan.

Ringkasan FAQ

Apakah Jepang secara aktif mendukung pergerakan nasional Indonesia setelah 1905?

Tidak secara langsung dan resmi. Pemerintah Jepang pasca-kemenangan lebih fokus pada konsolidasi kekuatan dan diplomasi dengan kekuatan Barat. Namun, keberadaan individu-individu Jepang seperti pedagang atau pelaut yang berinteraksi dengan kaum pergerakan, serta penyebaran ide Pan-Asianisme, memberikan pengaruh tidak langsung.

Bagaimana reaksi pemerintah kolonial Belanda terhadap penyebaran berita kemenangan Jepang ini?

Pemerintah kolonial Belanda merasa cemas dan semakin meningkatkan pengawasan terhadap pers pribumi dan aktivitas organisasi pergerakan. Mereka berusaha meredam narasi inspiratif ini dengan propaganda sendiri, menekankan bahwa Jepang adalah kekuatan khusus dan situasi di Hindia Belanda berbeda.

Apakah ada bukti arsip langsung seperti surat atau catatan harian tokoh pergerakan yang membahas peristiwa ini?

Ya, beberapa tokoh seperti Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ernest Douwes Dekker (Multatuli) dalam tulisan-tulisannya, serta diskusi dalam majalah seperti “Bintang Hindia” dan “Het Tijdschrift”, sering kali mengangkat peristiwa ini sebagai bukti bahwa bangsa Timur bisa setara dengan Barat.

Mengapa kemenangan Jepang lebih berpengaruh dibanding kemenangan bangsa Asia lain sebelumnya, seperti Ethiopia mengalahkan Italia pada 1896?

Kemenangan Ethiopia terjadi di Afrika dan melibatkan perang darat tradisional. Sementara kemenangan Jepang atas Rusia adalah perang modern lengkap dengan armada laut besar dan teknologi mutakhir, yang secara langsung menandingi dan mengalahkan salah satu kekuatan Eropa utama. Ini membuktikan kemampuan bangsa Asia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat, sesuatu yang sangat diperhatikan oleh elit terpelajar Hindia Belanda.

Leave a Comment