Peranan Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca dalam Integrasi Nusantara Perekat Sejarah

Peranan Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca dalam Integrasi Nusantara bukan sekadar babak sejarah yang usang, melainkan denyut nadi yang menghidupkan sebuah peradaban kepulauan. Bayangkan sebuah jaringan luas ribuan pulau, ratusan suku, dan puluhan kerajaan yang saling terhubung. Sebelum ada konsep bangsa, apa yang menyatukan pedagang Jawa dengan saudagar Bugis, atau utusan Aceh dengan raja Ternate? Jawabannya terletak pada sebuah bahasa yang lentur dan egaliter, yang menjadi jembatan di atas keragaman.

Bahasa Melayu, dengan akar historisnya yang dalam di pusat-pusat pelabuhan seperti Malaka dan Makassar, berkembang menjadi alat komunikasi utama. Ia merambah bukan melalui penaklukan militer, tetapi mengikuti arus perdagangan rempah, gelombang dakwah Islam, dan surat-menyurat diplomasi antar istana. Dalam pasar tradisional yang riuh, bahasa ini menjadi medium tawar-menawar yang mempersatukan kepentingan ekonomi. Pada tingkat yang lebih tinggi, bahasa ini kemudian menjadi wahana untuk menyebarkan sastra, nilai-nilai, dan akhirnya, benih-benih kesadaran kebangsaan yang melampaui batas etnis dan geografis.

Pengertian dan Konteks Historis Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca

Sebelum kita membahas lebih jauh, penting untuk memahami apa itu ‘lingua franca’. Secara sederhana, lingua franca adalah bahasa pergaulan atau bahasa pengantar yang digunakan oleh masyarakat dengan latar belakang bahasa ibu yang berbeda untuk berkomunikasi. Ia muncul bukan karena paksaan politik, tetapi karena kebutuhan praktis, terutama dalam perdagangan dan interaksi sosial. Bahasa Melayu, dengan segala keluwesannya, memenuhi peran ini secara sempurna di Nusantara.

Jangkauannya yang luas dan sifatnya yang mudah menyerap kosakata baru membuatnya diterima di pelabuhan dan pusat kerajaan.

Sejarah mencatat Bahasa Melayu telah menjadi alat komunikasi antaretnis jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Prasasti tertua seperti Kedukan Bukit (682 M) sudah menggunakan bahasa Melayu Kuno. Pada masa kejayaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-14), bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan penyebaran agama Buddha. Peran ini kemudian dilanjutkan oleh Kesultanan Malaka (abad ke-15), yang menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa administrasi dan diplomasi, sekaligus menyebarkannya ke seluruh penjuru Nusantara melalui jaringan perdagangannya yang kuat.

Perbandingan Peran Bahasa Melayu di Pusat Perdagangan Nusantara, Peranan Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca dalam Integrasi Nusantara

Vitalitas Bahasa Melayu sebagai lingua franca dapat diamati dari fungsinya di berbagai bandar utama. Setiap pusat perdagangan memberikan corak dan nuansa tersendiri terhadap perkembangan bahasa ini, menyesuaikan dengan dinamika lokal.

Pusat Perdagangan Peran Utama Karakteristik Bahasa Jaringan Penyebaran
Malaka Bahasa administrasi kesultanan dan lingua franca perdagangan internasional. Melayu Klasik yang bercampur kosakata Arab, Persia, dan Sanskerta. Pedagang dari Jawa, Cina, India, Arab, dan Eropa.
Sunda Kelapa (Jakarta) Bahasa pasar antara penduduk lokal, pedagang Jawa, Melayu, dan kemudian Belanda. Melayu Pasar atau Melayu Betawi yang lebih sederhana dan pragmatis. Perdagangan antarpulau di wilayah barat Nusantara.
Makassar (Gowa-Tallo) Bahasa diplomasi dan catatan kerajaan (Lontara), serta bahasa perdagangan rempah. Melayu dengan pengaruh kuat kosakata dan struktur bahasa Bugis-Makassar. Jaringan perdagangan ke Maluku, Nusa Tenggara, dan Australia utara.
Jambi/Palembang Bahasa pemerintahan dan keagamaan pada masa Sriwijaya, kemudian kesultanan Islam. Melayu Kuno yang kemudian berkembang dengan pengaruh Islam. Penyebaran agama Buddha dan Islam ke pedalaman Sumatra dan Jawa.

Jalur Penyebaran Bahasa Melayu

Peta konseptual penyebaran Bahasa Melayu menggambarkan tiga jalur utama yang saling terkait. Jalur pertama adalah perdagangan, di mana bahasa Melayu mengalir seperti barang dagangan itu sendiri, dari kapal ke dermaga, dari pelabuhan ke pasar. Para saudagar dari berbagai bangsa menjadikannya alat tawar-menawar yang efektif. Jalur kedua adalah dakwah agama, baik Hindu-Buddha maupun Islam. Para ulama dan mubaligh menggunakan bahasa Melayu yang telah disesuaikan untuk menyampaikan ajaran, menulis kitab, dan mendirikan pesantren, sehingga bahasa ini juga menjadi bahasa ilmu dan spiritualitas.

Jalur ketiga adalah diplomasi antarkerajaan. Surat-menyurat antara Sultan Aceh, Sultan Ternate, dan penguasa di Jawa menggunakan bahasa Melayu, memberikannya status sebagai bahasa resmi pergaulan antarnegara. Ketiga jalur ini membentuk jaringan yang padat, membuat bahasa Melayu meresap ke dalam kehidupan sehari-hari di berbagai strata masyarakat.

BACA JUGA  Pengertian Sentralisasi Desentralisasi dan Dekonsentrasi dalam Tata Kelola

Fungsi Pemersatu dalam Integrasi Sosial dan Budaya: Peranan Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca Dalam Integrasi Nusantara

Bayangkan Nusantara sebagai sebuah mosaik yang sangat besar, dengan ribuan keping etnis, bahasa, dan adat istiadat. Bahasa Melayu berperan sebagai perekat yang menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi sebuah gambar yang koheren. Ia memfasilitasi interaksi yang lebih dari sekadar transaksi jual-beli; ia menjadi medium perkawinan antarsuku, pertukaran cerita rakyat, dan lahirnya tradisi hibrida yang khas. Dalam proses asimilasi budaya ini, bahasa Melayu tidak menghapus identitas lokal, melainkan menjadi jembatan untuk saling memahami.

Melalui bahasa Melayu, nilai-nilai universal seperti keberanian, keadilan, dan kebijaksanaan dari satu daerah dapat diakses oleh daerah lain. Sastra menjadi wahana utama. Hikayat, syair, dan tambo yang ditulis atau diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu menjadi bacaan bersama, membentuk semacam kesadaran kolektif tentang dunia yang lebih luas daripada kampung halaman sendiri. Kearifan lokal yang terangkum dalam peribahasa pun saling bertukar dan memperkaya khazanah bersama.

Artefak Budaya Pemersatu

Beberapa karya sastra dan budaya menjadi bukti nyata fungsi integratif Bahasa Melayu. Karya-karya ini tidak hanya dinikmati oleh kalangan istana, tetapi juga hidup dalam tradisi lisan masyarakat.

  • Hikayat Hang Tuah: Epos dari Melaka yang mengajarkan nilai kesetiaan dan diplomasi, menjadi kisah heroik yang dikenal dari Aceh hingga Maluku.
  • Syair Abdul Muluk: Karya sastra Islam yang populer, menceritakan kisah petualangan dan religi, disalin dan dibaca di berbagai pesantren dan istana.
  • Peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”: Ungkapan yang menekankan adaptasi dan penghormatan pada adat setempat, digunakan secara luas di berbagai komunitas.
  • Kitab Tajussalatin: Buku panduan etika pemerintahan yang ditulis Bukhari al-Jauhari, menjadi rujukan bersama bagi banyak kesultanan Nusantara.
  • Cerita Panji: Siklus cerita asal Jawa yang menyebar ke Bali, Malaysia, Thailand, dan Kamboja, seringkali diceritakan kembali dalam versi bahasa Melayu.

Suasana Pasar Tradisional Nusantara

Ilustrasi suasana pasar tradisional di pelabuhan Jawa abad ke-17 menggambarkan keriuhan yang teratur. Di latar depan, seorang pedagang Bugis dengan sarung kotak-kotaknya sedang menawar harga lada dengan saudagar Tionghoa yang memegang abakus. Mereka berbicara dalam bahasa Melayu pasar yang dipenuhi kata serapan dari bahasa masing-masing. Di sebelahnya, seorang wanita Jawa menjual batik, menjelaskan motifnya kepada pembeli dari Palembang dengan bahasa Melayu yang lembut.

Di pojok, seorang ulama Arab sedang berdiskusi dengan murid-murid pribumi tentang isi kitab, menggunakan bahasa Melayu yang sudah diperkaya kosakata Arab. Latar belakang dipenuhi kapal-kapal dengan bendera yang berbeda-beda. Suara tawar-menawar, tawa, dan panggilan bersahut-sahutan dalam satu bahasa yang dipahami semua—bahasa Melayu. Pasar ini bukan hanya tempat ekonomi berdenyut, tetapi juga ruang akulturasi di mana bahasa menjadi benang merah pemersatu.

Peran dalam Administrasi dan Politik Pra-Nasional

Fungsi bahasa Melayu tidak berhenti di pasar dan masjid. Ia naik ke tingkat yang lebih tinggi: menjadi bahasa negara. Sebelum konsep Indonesia ada, berbagai kesultanan telah menggunakan bahasa Melayu dalam urusan resmi. Surat-surat perjanjian, piagam kerajaan, hingga undang-undang ditulis dalam bahasa ini. Penggunaannya dalam diplomasi menunjukkan bahwa bahasa Melayu telah diakui sebagai alat komunikasi yang legitimate dan berwibawa di tingkat regional.

Status ini menjadi fondasi yang crucial ketika kelak para pemuda perlu mencari sebuah bahasa yang dapat mewakili aspirasi bersama melawan kolonialisme.

Pada awal abad ke-20, bahasa Melayu menjadi alat perjuangan kebangsaan. Surat kabar seperti Bintang Hindia dan Soeloeh Pengadjar menggunakan bahasa Melayu untuk menyebarkan gagasan nasionalisme, kemerdekaan, dan kritik terhadap pemerintahan kolonial. Organisasi pergerakan, meski beranggotakan berbagai suku, seringkali menggunakan bahasa Melayu dalam rapat dan publikasinya. Bahasa ini dipilih karena sifatnya yang inklusif dan sudah dikenal luas, tidak diidentikkan dengan satu kelompok dominan tertentu seperti Jawa, sehingga dapat diterima sebagai simbol persatuan.

Penggunaan dalam Dokumen Resmi Tiga Kerajaan

Praktik penggunaan bahasa Melayu dalam administrasi memiliki variasi dan kesamaan di berbagai kerajaan. Tabel berikut membandingkan beberapa aspeknya.

Kerajaan Jenis Dokumen Ciri Bahasa Fungsi Politik
Kesultanan Aceh Surat perjanjian dengan Inggris & Belanda, Hikayat Aceh. Melayu Klasik dengan pengaruh kosakata Arab dan Farsi yang sangat kental. Legitimasi kekuasaan Sultan dan hubungan diplomatik dengan kekuatan asing.
Kesultanan Ternate Surat Sultan Baabullah kepada Raja Portugal, catatan hukum (Sarakata). Melayu dengan campuran kosakata bahasa Ternate dan Portugis. Klaim kedaulatan atas wilayah dan pengaturan administrasi kerajaan.
Kesultanan Mataram Islam Piagam-piagam tanah (Prasasti), surat kepada VOC. Melayu dan Jawa Kawi, sering dalam bentuk dwibahasa. Pengesahan hak atas tanah dan komunikasi strategis dengan pihak kolonial.

Ikrar Pemuda Pra-Sumpah Pemuda

Peranan Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca dalam Integrasi Nusantara

Source: slidesharecdn.com

Sebelum Sumpah Pemuda 1928, semangat persatuan sudah mulai dikobarkan dengan menggunakan bahasa Melayu. Salah satu contoh dapat ditemukan dalam ikrar organisasi pemuda awal.

“Demi Allah, kami pemuda Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, bersumpah akan bekerja bersama-sama untuk kemajuan tanah air kita, dengan tidak memandang perbedaan asal usul dan agama. Kami berjanji akan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dalam perjuangan kami.”

Peran Bahasa Melayu sebagai lingua franca menjadi fondasi integrasi Nusantara, memungkinkan pertukaran ide lintas budaya dan agama. Semangat kolektif ini bahkan terpancar dalam ekspresi kontemporer, seperti yang terlihat pada Contoh Yel‑Yel tentang Agama Islam , yang menggunakan bahasa yang mudah dipahami untuk menyatukan pesan. Dengan demikian, fungsi pemersatu bahasa ini terus berevolusi, mengikat identitas majemuk dalam satu kesatuan dialog yang dinamis.

Meski kutipan di atas adalah rekonstruksi dari semangat zaman, ia merepresentasikan ikrar-ikrar yang lahir dalam kongres-kongres pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan lainnya, di mana bahasa Melayu mulai secara sadar dipilih sebagai alat pemersatu untuk mencapai cita-cita bersama.

BACA JUGA  Metode Konservasi Air Untuk Kelestarian dan Kebutuhan Sehari-hari

Dampak terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia Modern

Bahasa Indonesia bukanlah entitas yang tiba-tiba muncul dari kekosongan. Ia adalah transformasi politik dan kultural dari bahasa Melayu. Proses ini dipicu oleh momentum Sumpah Pemuda 1928, yang secara resmi mengangkat bahasa Melayu—dengan sebutan barunya, Bahasa Indonesia—menjadi bahasa persatuan. Faktor kuncinya adalah kesadaran para founding fathers bahwa bahasa ini telah memenuhi syarat sebagai lingua franca yang netral, demokratis, dan siap pakai.

Pasca kemerdekaan, bahasa ini kemudian dibakukan, dikembangkan kosakatanya melalui berbagai perangkat modern seperti kamus, tata bahasa, dan digunakan dalam pendidikan, pemerintahan, dan media nasional.

Perjalanan dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia melibatkan beberapa lapisan bahasa. Bahasa Melayu Klasik, yang digunakan dalam sastra dan dokumen kerajaan, memiliki struktur yang kompleks dan banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta dan Arab. Sementara itu, Melayu Pasar adalah varian yang lebih sederhana, lentur, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari di pelabuhan. Bahasa Indonesia awal mengambil kekuatan dari keduanya: ia mempertahankan keluwesan Melayu Pasar sekaligus mengadopsi kosakata teknis dan modern dari Melayu Klasik serta bahasa-bahasa asing lainnya, lalu membakukan strukturnya untuk kepentingan pendidikan nasional.

Kata Serapan Melalui Perantara Bahasa Melayu

Kekayaan kosakata Bahasa Indonesia modern sebagian besar adalah warisan dari peran bahasa Melayu sebagai penyerap dan penyalur. Banyak kata dari bahasa daerah Nusantara masuk ke dalam leksikon nasional karena sebelumnya telah terserap dan digunakan luas dalam lingua franca Melayu.

  • Dari bahasa Jawa: sampah, becak, beresiko, angkuh, wedana.
  • Dari bahasa Sunda: pancal, lalap, saung, menir.
  • Dari bahasa Minangkabau: rantau, gaduh (berisik), merantau, cadiak.
  • Dari bahasa Bugis/Makassar: pinisi, bontang, passompe, juku.
  • Dari bahasa Bali: ari (adik), canang, ngayah, pura.

Lapisan Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia

Ilustrasi grafis yang menunjukkan lapisan pengayaan kosakata Bahasa Indonesia dapat digambarkan seperti sebuah lingkaran konsentris atau sebuah pohon dengan akar yang kuat. Di inti paling dalam, terdapat Bahasa Melayu Inti (contoh: air, makan, rumah, dia). Lapisan pertama di sekelilingnya adalah Serapan Bahasa Serumpun Nusantara (seperti kata-kata dari Jawa, Sunda, Minang, dll yang telah disebutkan). Lapisan berikutnya adalah Serapan Bahasa Asing Zaman Perdagangan dan Penyebaran Agama (dari Sanskerta: pustaka, dari Arab: ilmu, dari Persia: anggur, dari Portugis: meja).

Lapisan ketiga adalah Serapan Bahasa Asing Zaman Kolonial dan Modern (dari Belanda: kantor, dari Inggris: komputer, dari bahasa teknis global: internet). Lapisan terluar adalah Kreasi dan Neologisme (kata-kata baru yang diciptakan untuk konsep modern seperti narkoba, swalayan, lembab). Setiap lapisan tidak menggantikan yang sebelumnya, tetapi menumpuk dan memperkaya, menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan terus berkembang, dengan bahasa Melayu sebagai fondasi historisnya yang kokoh.

Tantangan dan Relevansi dalam Konteks Kontemporer

Bahasa Indonesia, sebagai pewaris sah peran lingua franca, kini menghadapi medan pertempuran yang baru: era digital dan globalisasi. Tantangannya multidimensi. Di satu sisi, gempuran kosakata asing, terutama dari bahasa Inggris, melalui teknologi dan budaya pop mengancam kemurnian leksikon. Di sisi lain, ada fenomena menarik di media sosial di mana bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa daerah dan bahasa gaul urban, menciptakan varian-varian baru yang kadang menyulitkan komunikasi formal.

Tantangan terbesar adalah menjaga fungsinya sebagai pemersatu di tengah menguatnya politik identitas dan sentiment kedaerahan yang bisa meminggirkan bahasa nasional.

Perbandingan dengan bahasa Swahili di Afrika Timur memberikan perspektif menarik. Swahili, yang juga berkembang dari bahasa Bantu dengan pengaruh Arab, berhasil menjadi lingua franca dan bahasa resmi di beberapa negara seperti Tanzania dan Kenya. Namun, di tingkat elit dan bisnis internasional, bahasa Inggris masih sangat dominan. Situasi serupa tapi tak sama terjadi di Indonesia; bahasa Indonesia berhasil menjadi bahasa nasional yang jauh lebih kuat dan digunakan di semua ranah, termasuk pemerintahan dan pendidikan tinggi, meski tekanan bahasa Inggris di sektor korporasi dan teknologi juga nyata.

BACA JUGA  Uang Agis Bulan Lalu Lebih Kecil Rp 77.425 dari Ira Analisisnya

Keberhasilan Indonesia menjadikan bahasa nasionalnya sebagai bahasa pengantar pendidikan adalah pencapaian yang membedakannya.

Bahasa Melayu berperan krusial sebagai lingua franca yang mempersatukan Nusantara, memfasilitasi perdagangan hingga penyebaran agama. Dalam konteks dakwah Islam, bahasa ini menjadi medium penyampai ajaran, termasuk pesan tentang kewajiban salat Jumat yang termaktub dalam Surat Al‑Jumu’ah Ayat 9‑10 Beserta Artinya. Dengan demikian, fungsi pemersatunya tak hanya bersifat sosial-politik, tetapi juga memperkaya dimensi spiritual dalam integrasi kawasan.

Vitalitas Bahasa Melayu Dialek di Indonesia

Meski Bahasa Indonesia mendominasi, varian-varian bahasa Melayu sebagai bahasa daerah masih hidup dengan vitalitas yang berbeda-beda di berbagai wilayah. Peta keberadaannya menunjukkan dinamika yang kompleks.

Wilayah Nama Dialek Tingkat Vitalitas Konteks Penggunaan Dominan
Riau dan Kepulauan Riau Melayu Riau Tinggi (Bahasa Ibu) Keluarga, adat istiadat, seni tradisional, media lokal.
Sumatera Utara (Pesisir Timur) Melayu Deli, Langkat Sedang hingga Tinggi Komunikasi sehari-hari di komunitas Melayu, pasar tradisional.
Kalimantan Barat Melayu Pontianak, Sambas Tinggi Identitas kultural masyarakat pesisir dan sungai, ritual adat.
Jakarta dan Sekitarnya Bahasa Betawi Sedang (terdesak oleh bahasa Indonesia informal) Budaya pop (lenong, gambang kromong), percakapan non-formal.

Potret Penutur Muda dalam Jejaring Nasional

Mari kita bayangkan Dira, seorang perempuan berusia 22 tahun asal Ambon. Di rumah, dengan orang tua dan tetangga dekat, ia fasih bercakap dalam bahasa Ambon yang rancak dan berirama. Bahasa itu adalah suara kenangan, rasa sayur ikan kuah kuning, dan tawa di teras rumah. Namun, ketika jari-jarinya menari di atas ponsel, membuka grup diskusi nasional di Twitter atau forum kampus virtual, dengan segera ia beralih ke Bahasa Indonesia yang baku namun tetap santai.

Melalui bahasa Indonesia, ia berdebat tentang isu politik dengan seorang mahasiswa dari Medan, berbagi resep vegan dengan seorang seniman dari Jogja, dan berkolaborasi mengerjakan proyek desain dengan rekan dari Makassar. Bahasa daerahnya adalah akar yang menghubungkannya dengan identitas lokal yang mendalam, sementara Bahasa Indonesia adalah sayap yang membawanya terbang dalam imajinasi dan pergaulan sebagai bagian dari bangsa yang besar. Dalam diri Dira dan jutaan pemuda lainnya, kedua fungsi itu tidak saling meniadakan, tetapi justru saling melengkapi, menunjukkan relevansi abadi dari warisan lingua franca yang telah berevolusi menjadi bahasa kebangsaan.

Simpulan Akhir

Dari pelabuhan-pelabuhan kuno hingga ruang digital masa kini, perjalanan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia adalah bukti nyata kekuatan sebuah bahasa sebagai perekat sosial-politik. Warisan sebagai lingua franca bukan hanya soal kosakata yang kaya karena menyerap dari berbagai bahasa serumpun, tetapi lebih pada kapasitasnya membentuk identitas bersama. Tantangan di era globalisasi memang nyata, dengan gempuran bahasa asing dan tarik-menarik identitas daerah.

Namun, esensi peran pemersatunya tetap relevan. Bahasa Indonesia, sebagai pewaris sah, harus terus menjadi rumah yang inklusif bagi semua anak bangsa, sekaligus jendela untuk berdialog dengan dunia, menjaga semangat integrasi Nusantara yang telah dirintis oleh pendahulunya berabad-abad silam.

FAQ Terkini

Apakah Bahasa Indonesia sama persis dengan Bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia dan Brunei?

Tidak sepenuhnya. Bahasa Indonesia memang berakar dari Bahasa Melayu, khususnya dialek Riau-Johor yang dianggap tinggi. Namun, setelah diikrarkan sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia mengalami perkembangan sendiri, dengan penyerapan kata yang lebih masif dari bahasa daerah (seperti Jawa, Sunda) dan bahasa asing (Belanda, Inggris), serta standardisasi tata bahasa yang berbeda, sehingga kini memiliki identitas kebahasaan yang unik dan berbeda dari varian Melayu di negara lain.

Bahasa Melayu berperan vital sebagai lingua franca dalam integrasi Nusantara, memungkinkan pertukaran pengetahuan lintas pulau. Proses integrasi ini, seperti halnya reaksi kimia yang spesifik, memerlukan formula dan kondisi tepat untuk menyatukan elemen berbeda, sebagaimana dijelaskan dalam Persamaan Reaksi Propenaldehida Dioksidasi dengan KMnO4. Demikian pula, bahasa Melayu bertindak sebagai katalisator yang mengoksidasi perbedaan, mentransformasi keragaman budaya menjadi satu kesatuan yang koheren dan kuat di wilayah ini.

Mengapa Bahasa Melayu yang dipilih, bukan bahasa Jawa yang memiliki penutur lebih banyak saat itu?

Bahasa Melayu dipilih justru karena sifatnya yang lebih egaliter dan sudah tersebar luas sebagai lingua franca. Bahasa Jawa memiliki sistem tingkatan (ngoko, krama) yang sangat hierarkis, sehingga kurang praktis untuk komunikasi antardaerah yang setara. Sementara itu, Bahasa Melayu yang digunakan di pelabuhan dan perdagangan relatif lebih sederhana dan netral, tidak terlalu terikat pada strata sosial tertentu, sehingga lebih mudah diterima oleh berbagai kelompok.

Bagaimana peran bahasa daerah setelah Bahasa Melayu/Indonesia menjadi pemersatu?

Bahasa daerah tetap hidup dan berfungsi sebagai bahasa ibu serta penjaga identitas kultural di ranah keluarga dan komunitas lokal. Hubungannya dengan Bahasa Indonesia bersifat komplementer, saling mengisi. Banyak kosakata dan kearifan lokal dari bahasa daerah diserap untuk memperkaya Bahasa Indonesia, menciptakan dinamika kebahasaan yang khas di Nusantara.

Apakah ada bukti arkeologis atau naskah kuno yang menunjukkan penggunaan Bahasa Melayu sebagai lingua franca?

Ya, banyak bukti tertulis. Contoh paling terkenal adalah Prasasti Kedukan Bukit (682 M) yang menggunakan Bahasa Melayu Kuno. Selain itu, terdapat surat-menyurat antar kesultanan, seperti surat Sultan Ternate kepada Raja Portugal, atau Hikayat-Hikayat dari Aceh dan Melaka, yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai mediumnya, membuktikan fungsinya dalam administrasi, diplomasi, dan penyebaran sastra.

Leave a Comment