Perbedaan antara shall will dan to be going to dalam Future Tense

Perbedaan antara shall/will dan to be going to seringkali bikin kita bingung di tengah percakapan. Mau ngobrol santai atau nulis email formal, pilihan kata yang satu ini bisa bikin makna berbelok arah. Padahal, memahami seluk-beluknya nggak serumit yang dibayangkan, dan justru bisa jadi senjata rahasia biar bahasa Inggris kita terdengar lebih natural dan tepat sasaran.

Secara mendasar, ketiganya adalah alat untuk membicarakan masa depan, namun dengan niat dan konteks yang berbeda. “Will” dan “shall” sering dipakai untuk keputusan spontan atau janji, sementara “to be going to” lebih mengarah pada rencana yang sudah dipikirkan atau prediksi yang punya dasar jelas. Nuansa-nuansa kecil inilah yang akan menentukan seberapa fasih dan mengertinya kita dalam berkomunikasi.

Pengertian Dasar dan Konteks Penggunaan

Dalam bahasa Inggris, cara kita membicarakan masa depan seringkali bergantung pada nuansa dan niat di balik ucapan kita. Tiga alat utama yang sering digunakan adalah ‘shall’, ‘will’, dan ‘to be going to’. Meski terlihat sederhana, pemilihan kata ini bisa mengubah makna dan kesan dari sebuah pernyataan. Memahami dasar dan konteksnya adalah kunci untuk berbicara dengan lebih natural dan tepat.

‘Shall’ dan ‘will’ secara tradisional adalah modal verbs untuk membentuk Future Simple Tense. ‘Shall’ lebih umum digunakan dengan subjek ‘I’ dan ‘we’ dalam konteks yang sangat formal atau untuk menawarkan sesuatu, sementara ‘will’ digunakan untuk semua subjek dan lebih mencerminkan kemauan atau keputusan. Di sisi lain, ‘to be going to’ adalah konstruksi yang lebih baru, yang secara harfiah menggambarkan “pergi ke” suatu tindakan, sehingga sangat kuat untuk menyatakan rencana yang sudah dipikirkan atau prediksi berdasarkan bukti yang ada.

Fungsi Utama dan Tingkat Kepastian

Perbedaan mendasar antara ketiganya dapat dilihat dari fungsi utama dan tingkat kepastian yang mereka bawa. Tingkat kepastian ini bukan tentang probabilitas statistik, tetapi lebih tentang seberapa kuat niat atau dasar dari pernyataan masa depan tersebut. Berikut tabel perbandingannya.

Bentuk Fungsi Utama Tingkat Kepastian Konteks Khas
Shall Penawaran, saran, ketentuan formal (dengan I/we). Tinggi (dalam konteks formal/aturan). Dokumen hukum, undangan resmi, menawarkan bantuan secara sopan.
Will Keputusan spontan, janji, prediksi umum, kebiasaan. Sedang hingga Tinggi (tergantung konteks). Merespons situasi saat itu, berjanji, memprediksi tanpa bukti kuat.
To be going to Rencana yang sudah dibuat, prediksi berdasarkan bukti, peristiwa yang hampir pasti. Sangat Tinggi. Membicarakan rencana liburan, memprediksi hujan karena melihat awan gelap.

Perbedaan dalam Mengekspresikan Masa Depan

Setelah memahami dasar-dasarnya, kita perlu menyelami lebih dalam bagaimana ketiga bentuk ini bersaing dan saling melengkapi dalam mengekspresikan masa depan. Perbedaan ini tidak hanya terletak pada struktur, tetapi juga pada sejarah dan niat pembicara, yang membuat bahasa Inggris menjadi lebih kaya dan, kadang, lebih rumit.

BACA JUGA  Kepanjangan Singkatan USS pada Kapal dan Makna Sejarahnya

Evolusi Shall dan Will dalam Future Simple

Secara historis, aturan tradisional mengajarkan bahwa ‘shall’ digunakan dengan subjek ‘I’ dan ‘we’ untuk membentuk Future Simple, sementara ‘will’ digunakan untuk subjek ‘you’, ‘he’, ‘she’, ‘it’, dan ‘they’. Namun, dalam perkembangan bahasa Inggris modern, khususnya di luar konteks sangat formal, penggunaan ‘will’ untuk semua subjek telah menjadi norma. ‘Shall’ kini lebih terspesialisasi, bertahan dalam fungsi-fungsi khusus seperti penawaran yang sangat sopan (“Shall I open the window?”) atau dalam bahasa hukum dan peraturan yang membutuhkan ketegasan formal (“The tenant shall pay the rent on the first day”).

Pergeseran ini menunjukkan bagaimana bahasa hidup dan beradaptasi dengan kebutuhan komunikasi sehari-hari.

Rencana yang Sudah Ada versus Keputusan Spontan

Perbedaan antara shall/will dan to be going to

Source: akamaized.net

Salah satu perbedaan paling praktis adalah dalam menyatakan rencana. ‘To be going to’ digunakan untuk rencana yang sudah dibuat sebelum momen berbicara. Bayangkan Anda telah memesan tiket pesawat dan hotel; Anda akan mengatakan “I’m going to visit Bali next month.” Sebaliknya, ‘will’ digunakan untuk keputusan yang dibuat secara spontan, tepat pada saat pembicaraan. Misalnya, telepon berdering dan Anda berkata, “I’ll get it!” atau saat melihat menu di kafe, Anda memutuskan, “I think I’ll have a latte.” Perbedaan ini sangat krusial karena mencerminkan proses berpikir si pembicara.

Prediksi Berbasis Bukti versus Prediksi Umum

Dalam memprediksi masa depan, pilihan kata juga menunjukkan dasar dari prediksi tersebut. Gunakan ‘to be going to’ ketika prediksi Anda didasarkan pada bukti atau tanda-tanda yang jelas di saat ini. Contoh klasiknya adalah melihat langit yang gelap dan berkata, “It’s going to rain.” Buktinya ada di depan mata. Sementara ‘will’ digunakan untuk prediksi yang lebih umum, berdasarkan opini, kepercayaan, atau intuisi pembicara.

Seperti seorang komentator olahraga yang memprediksi, “I think Team A will win the championship this year,” tanpa memiliki bukti pasti. Prediksi ini bersifat lebih spekulatif.

Struktur Kalimat dan Bentuk Negatif serta Pertanyaan

Memahami nuansa makna harus diiringi dengan kemampuan menyusun kalimat yang benar. Struktur untuk ‘shall’, ‘will’, dan ‘to be going to’ memiliki pola yang konsisten, dan menguasai bentuk positif, negatif, serta interogatifnya akan membuat Anda lebih percaya diri dalam menulis dan berbicara.

Pola Kalimat Lengkap

Berikut adalah pola dasar untuk ketiga bentuk tersebut. Perhatikan bahwa ‘shall’ dan ‘will’ mengikuti pola yang sama sebagai modal verbs, sedangkan ‘to be going to’ memerlukan konjugasi kata kerja ‘be’.

Shall/Will: Subjek + shall/will + verb1 (bare infinitive) + …
To be going to: Subjek + am/is/are + going to + verb1 (bare infinitive) + …

Bentuk negatif dibuat dengan menambahkan ‘not’ setelah ‘shall/will’ atau setelah kata kerja ‘be’ pada ‘going to’. Untuk pertanyaan (interogatif), kita memindahkan ‘shall/will’ atau kata kerja ‘be’ ke depan subjek.

  • Positif: I will call you. / She is going to travel.
  • Negatif: I will not (won’t) call you. / She is not (isn’t) going to travel.
  • Pertanyaan: Will you call me? / Is she going to travel?

Bentuk Singkat (Contractions) yang Umum

Dalam percakapan sehari-hari, bentuk singkat atau contractions sangat lazim digunakan. Penggunaannya membuat bahasa terasa lebih natural dan cair.

  • I will → I’ll: Digunakan hampir di semua situasi informal untuk menyatakan janji atau keputusan cepat.
  • I will not → I won’t: Bentuk negatif yang sangat umum dan lebih disukai daripada “I’ll not”.
  • I am going to → I’m going to: Dalam ucapan, seringkali disingkat lagi menjadi “I’m gonna” (non-formal).
  • He is going to → He’s going to: Sama seperti di atas, “He’s gonna” sering terdengar dalam percakapan.
  • Shall not → Shan’t: Masih ada tetapi sangat jarang digunakan dalam bahasa Inggris modern sehari-hari.
BACA JUGA  KUIS IPS Pengertian Divide et Impera Strategi Pecah Belah

Contoh Percakapan dengan Pertanyaan dan Jawaban Negatif

Untuk melihat penerapannya, mari kita simak cuplikan percakapan singkat antara dua teman, Rina dan Andi.

  • Rina: Shall we meet at the usual cafe at 5? (Menawarkan/mengajak)
  • Andi: I’m afraid I won’t be able to make it at 5. I’m going to finish a report first. (Janji negatif + rencana yang sudah ada)
  • Rina: Okay. Are you going to be long? (Bertanya tentang rencana)
  • Andi: No, it won’t take more than an hour. I’ll call you when I’m done. (Prediksi umum + janji spontan)

Nuansa Makna dan Penggunaan Khusus

Di balik struktur gramatikal yang rapi, tersimpan nuansa makna dan penggunaan khusus yang membuat setiap pilihan kata menjadi bermakna. Menggali aspek ini membantu kita memahami bahasa Inggris bukan sebagai sekumpulan rumus, tetapi sebagai alat ekspresi yang hidup.

Nuansa Formal dan Hukum dari Shall

Kekuatan ‘shall’ saat ini justru terletak pada nuansa formalitas dan kewajiban mutlaknya. Dalam konteks penawaran, “Shall I help you with that?” terdengar jauh lebih sopan dan tulus dibandingkan “Do you want me to help?”. Dalam saran, “Shall we begin?” lebih elegan daripada “Let’s begin?”. Puncak dari nuansa ini ada dalam dokumen hukum, kontrak, dan peraturan. Frasa seperti “The buyer shall make the payment upon delivery” atau “Students shall not run in the hallway” mengisyaratkan kewajiban yang mengikat, bukan sekadar ramalan masa depan.

Di sini, ‘shall’ bermakna “diwajibkan untuk”.

Will untuk Kebiasaan dan Janji

‘Will’ tidak hanya bicara tentang masa depan yang jauh. Kata ini juga dapat digunakan untuk menyatakan kebiasaan atau karakteristik yang umum terjadi di masa kini, seringkali dengan nada yang sedikit negatif atau mengkritik. Contoh: “He will always talk loudly on the phone in the library” (Dia memang selalu/suka berbuat begitu). Selain itu, kekuatan ‘will’ sebagai penanda janji sangatlah kuat. Saat seseorang mengatakan “I will always love you” atau “I will never forget this,” yang ditekankan adalah kemauan dan komitmen pribadi dari pembicara untuk memenuhi ucapan tersebut di masa depan.

To be Going To untuk Peristiwa yang Sudah di Ambang Pintu

Penggunaan ‘to be going to’ yang sangat spesifik adalah untuk menyatakan suatu peristiwa yang akan terjadi dalam waktu sangat dekat, hampir-hampir sudah pasti. Nuansanya adalah “sebentar lagi terjadi”. Misalnya, melihat balon yang terus mengempis, Anda bisa berkata, “It’s going to burst!” atau ketika film yang ditunggu-tunggu hampir dimulai, “The movie is going to start in two minutes!” Dalam konteks ini, batas antara masa sekarang dan masa depan menjadi sangat tipis, dan ‘going to’ dengan tepat menangkap perasaan itu.

Contoh Penerapan dan Analisis Kesalahan Umum: Perbedaan Antara Shall/will Dan To Be Going To

Teori akan lebih melekat ketika kita melihat penerapannya langsung, termasuk kesalahan yang sering terjadi. Dengan menganalisis kesalahan dan membayangkan penggunaan dalam sebuah narasi, pemahaman kita menjadi lebih kontekstual dan aplikatif.

Kesalahan Umum dan Koreksinya

Berikut beberapa contoh kalimat yang keliru dalam penggunaan future tense, disertai penjelasan singkat mengapa itu salah.

Kesalahan: Look at those clouds! It will rain.
Koreksi: Look at those clouds! It’s going to rain.
Alasan: Prediksi ini berdasarkan bukti langsung (awan mendung), sehingga ‘going to’ lebih tepat.

Kesalahan: I feel a bit hungry. I think I’m going to make a sandwich.
Koreksi: I feel a bit hungry. I think I will make a sandwich.
Alasan: Keputusan untuk membuat sandwich dibuat secara spontan setelah merasa lapar, bukan rencana yang sudah ada.

Kesalahan: The contract says the supplier will deliver the goods on Monday.
Koreksi: The contract says the supplier shall deliver the goods on Monday.
Alasan: Dalam konteks kontrak formal yang menyatakan kewajiban, penggunaan ‘shall’ adalah standar.

Ilustrasi Narasi: Rencana Perjalanan ke Yogyakarta, Perbedaan antara shall/will dan to be going to

Bayangkan seorang pencerita sedang merencanakan perjalanan. “Akhirnya, besok I’m going to take the morning train to Yogyakarta. Semua tiket sudah dipesan minggu lalu. Temanku, Dina, tinggal di sana. Saya yakin dia will be surprised ketika saya tiba karena saya sengaja tidak memberi tahu.

BACA JUGA  Proses Perubahan Masyarakat Akibat Pengendalian Sosial dan Contohnya

Saya pikir pertama-tama I’ll go langsung ke rumahnya. Sepertinya it’s going to be sangat menyenangkan! Oh, dan tentu saja I shall bring her some famous cookies from here as a gift.” Dalam narasi singkat ini, terlihat ‘going to’ untuk rencana matang, ‘will’ untuk prediksi umum dan keputusan spontan (pergi ke rumahnya), serta ‘shall’ untuk niat yang sopan dan agak formal (membawa oleh-oleh).

Perbandingan Pasangan Kalimat yang Mirip

Tabel berikut menunjukkan bagaimana perubahan kecil dalam pilihan future tense dapat mengubah makna kalimat secara signifikan.

Kalimat A Kalimat B Analisis Perbedaan Makna
I’ll study medicine. I’m going to study medicine. Kalimat A adalah keputusan yang baru diambil atau janji. Kalimat B adalah rencana yang sudah lama dipersiapkan (misalnya, sudah diterima di fakultas kedokteran).
It will rain tomorrow. It’s going to rain. Kalimat A adalah prediksi cuaca umum, mungkin berdasarkan berita. Kalimat B adalah prediksi berdasarkan bukti yang terlihat saat ini (misalnya, langit sudah gelap).
Shall we dance? Will we dance? Kalimat A adalah undangan atau saran yang sopan untuk menari. Kalimat B adalah pertanyaan murni tentang fakta di masa depan (misalnya, menanyakan urutan acara pesta).

Pemungkas

Jadi, inti dari memilih antara shall, will, dan to be going to terletak pada niat di balik ucapan. Apakah itu sebuah rencana matang, janji yang tiba-tiba, atau sekadar prediksi tanpa bukti? Dengan mencermati konteks dan maksud hati, penggunaan ketiganya akan menjadi lebih intuitif. Pada akhirnya, menguasai perbedaan ini bukan cuma soal tata bahasa, tapi tentang menyampaikan pikiran dengan presisi yang membuat lawan bicara memahami kita persis seperti yang kita inginkan.

Pertanyaan yang Kerap Ditanyakan

Apakah “shall” masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari?

Memahami perbedaan antara ‘shall/will’ dan ‘to be going to’ dalam future tense itu seperti belajar mengidentifikasi inti sebuah tulisan. Penempatan ide pokoknya bisa menentukan arah pembahasan, persis seperti Jenis paragraf berdasarkan letak kalimat utama yang memetakan struktur teks. Nah, setelah paham strukturnya, kita bisa lebih jernih melihat bahwa ‘will’ mengungkapkan keputusan spontan, sementara ‘going to’ merujuk pada rencana yang sudah matang.

Tidak terlalu. Penggunaan “shall” dalam bahasa Inggris modern cenderung terbatas pada konteks formal, penawaran yang sangat sopan (Shall I open the window?), atau dalam dokumen hukum dan peraturan. Untuk percakapan sehari-hari, “will” jauh lebih umum dan natural.

Mana yang lebih tepat untuk prediksi cuaca, “will” atau “going to”?

Keduanya bisa digunakan. Namun, jika prediksi tersebut berdasarkan pada bukti yang terlihat (misalnya, langit sangat gelap), “It’s going to rain” lebih tepat. Jika prediksi itu lebih umum atau berdasarkan opini pribadi, “I think it will rain” lebih sering dipakai.

Bisakah “will” dan “going to” dipertukarkan tanpa mengubah arti?

Tidak selalu. Dalam konteks keputusan spontan (Oh, I’ll get the door for you), menggunakan “going to” akan terdengar aneh karena mengimplikasikan rencana sebelumnya. Perbedaan ini penting untuk menyampaikan niat yang tepat.

Bagaimana dengan bentuk singkat seperti “gonna”? Apakah itu baku?

Membedakan “shall/will” dan “to be going to” itu seperti memahami dua arus sejarah: yang satu rencana spontan, yang lain sudah diprediksi. Nah, dalam konteks penyebaran budaya, kita bisa lihat pada Pengertian Kebudayaan Hellenisme , sebuah pergerakan yang memang “going to” mengubah dunia, bukan sekadar keinginan sesaat. Jadi, dalam grammar, pilihan struktur juga menentukan ketegasan niat, layaknya pengaruh Hellenistik yang terencana dan meluas.

“Gonna” adalah bentuk informal/casual dari “going to” yang sangat umum dalam percakapan lisan, namun tidak digunakan dalam tulisan formal. Penggunaannya menunjukkan kefasihan, tetapi harus disesuaikan dengan situasi.

Leave a Comment