Tanggal berdirinya Budi Utomo dan alasannya bukan sekadar catatan sejarah yang kering, melainkan sebuah cerita tentang timing yang brilian dan semangat yang menyala-nyala di tengah suasana kolonial. Bayangkan, sekelompok pelajar STOVIA memilih sebuah momen yang sarat makna untuk melahirkan organisasi modern pertama yang menjadi pelopor pergerakan nasional. Pilihan tanggal 20 Mei 1908 itu seperti sebuah pernyataan sikap yang disampaikan dengan penuh kesadaran, bukan kebetulan belaka.
Mengupas alasan di balik pendiriannya membawa kita pada persimpangan antara visi intelektual, kondisi sosial-politik yang menekan, dan denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Dari ruang kelas STOVIA yang penuh diskusi, gagasan tentang “budi pekerti yang utama” itu mulai bergulir, mencari bentuk dan momentum yang tepat untuk diwujudkan menjadi sebuah kekuatan kolektif. Inilah titik awal di mana kesadaran akan masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat mulai dirajut dengan benang-benang pemikiran yang cerdas dan strategis.
Mengurai Makna Filosofis di Balik Pemilihan Tanggal 20 Mei 1908
Tanggal 20 Mei, yang kini kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dipilih sebagai hari berdirinya Budi Utomo. Pilihan ini tampaknya bukan kebetulan semata, melainkan beririsan dengan ritme alam dan kehidupan masyarakat Jawa yang agraris. Memahami konteks waktu ini memberi dimensi lebih dalam terhadap semangat “kebangkitan” yang ingin digaungkan.
Bulan Mei di Jawa menandai akhir musim penghujan dan awal musim kemarau. Dalam tradisi pertanian, ini adalah masa panen raya (padi gogo) dan persiapan membuka lahan baru. Ada semangat optimisme dan pembaruan yang mengudara. Para pendiri Budi Utomo, yang sebagian besar adalah intelektual Jawa yang masih terpaut kuat dengan nilai-nilai leluhur, mungkin melihat momentum ini sebagai analogi yang tepat. Mereka ingin “menuai” pemikiran-pemikiran baru dan “membuka lahan” bagi pendidikan dan kemajuan bangsa setelah melalui “musim hujan” penjajahan yang panjang.
Tanggal ini menjadi simbol dari sebuah siklus baru, sebuah awal yang penuh harapan dari sesuatu yang ditanam dengan susah payah.
Visi Budi Utomo dan Gerakan Kebangkitan Asia Awal Abad 20
Budi Utomo tidak berdiri dalam ruang hampa. Di Asia, gelombang kebangkitan serupa sedang terjadi. Berikut tabel yang membandingkan visi dan metode perjuangan Budi Utomo dengan beberapa gerakan sezaman.
| Organisasi/Gerakan | Lokasi | Tujuan Inti | Metode Perjuangan |
|---|---|---|---|
| Budi Utomo | Hindia Belanda | Memajukan pendidikan dan kebudayaan Jawa (awalnya), kemudian Indonesia. | Kooperatif dengan pemerintah kolonial, pendekatan kultural dan edukatif. |
| Indian National Congress (INC) | India | Mencapai pemerintahan sendiri (self-governance) untuk India. | Awalnya moderat dan kooperatif, kemudian berkembang ke jalur massa dan non-kooperasi. |
| Katipunan | Filipina | Kemerdekaan penuh dari Spanyol melalui revolusi. | Gerakan bawah tanah, perjuangan bersenjata dan revolusioner. |
| Gerakan 4 Mei 1919 | Tiongkok | Melawan imperialisme asing dan pemerintah lemah, mendorong modernisasi nasional. | Protes massa besar-besaran, pemogokan, kampanye publikasi. |
Alasan Pemilihan Bulan Mei dan Bukan Bulan Lain
Beberapa faktor praktis dan kontekstual membuat bulan Mei menjadi waktu yang strategis untuk kelahiran Budi Utomo, dibandingkan bulan seperti Januari atau Agustus.
- Konteks Kalender Akademik STOVIA: Mei berada di antara jeda akademik. Ujian-ujian besar biasanya telah usai, sementara liburan panjang belum tiba. Ini memberi waktu dan ruang mental yang lebih longgar bagi para pelajar STOVIA, yang menjadi motor penggerak, untuk berdiskusi dan mengorganisir diri tanpa tekanan beban studi yang langsung.
- Kondisi Politik Kolonial yang Relatif Tenang: Awal tahun (Januari) seringkali merupakan periode dimana pemerintah kolonial baru menyusun dan mengintensifkan kebijakan. Agustus, bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda, biasanya penuh dengan acara seremonial dan pengawasan ketat. Mei berada di tengah-tengah, dianggap periode yang lebih “normal” dan kurang diawasi ketat, memungkinkan aktivitas organisasi berjalan dengan lebih aman.
- Ketersediaan Figur Kunci: Dr. Wahidin Sudirohusodo, salah satu penggagas utama, melakukan perjalanan keliling Jawa untuk menyebarkan ide “dana pelajar” (studiefonds). Bulan Mei, dengan cuaca yang lebih bersahabat setelah penghujan, kemungkinan adalah waktu dimana perjumpaan dan diskusi intensif dengan para pelajar STOVIA di Batavia mencapai klimaksnya dan matang untuk dieksekusi.
Suara Urgensi dari Sang Penggagas
Semangat dan rasa urgensi yang melatari pendirian Budi Utomo tercermin dalam pikiran-pikiran Dr. Wahidin Sudirohusodo. Dalam berbagai pidato dan tulisan, ia kerap menyuarakan keprihatinan yang mendalam tentang nasib bangsa.
“Bangsa kita ini sedang sakit, sakit karena kebodohan dan kemiskinan. Obat satu-satunya adalah pendidikan. Tetapi bagaimana anak-anak cerdas kita bisa sekolah jika orang tuanya tidak mampu? Kita harus bangkit, bersatu, dan menolong diri kita sendiri. Jangan hanya menunggu belas kasihan. Setiap orang yang merasa terpelajar wajib menjadi pelita bagi lingkungannya.”
Dampak Gema Kongres Pertama Budi Utomo terhadap Peta Pergerakan Lokal di Pulau Jawa
Kongres pertama Budi Utomo yang digelar di Yogyakarta pada Oktober 1908 bukan sekadar rapat internal. Peristiwa itu seperti batu yang dilempar ke kolam tenang, gelombangnya menyebar ke berbagai penjuru Jawa. Keputusan-keputusan yang dihasilkan, terutama untuk memperluas cakupan keanggotaan melampaui kalangan priyayi dan pelajar kesehatan, serta fokus pada pendidikan, memberikan template dan legitimasi bagi kelompok-kelompok di kota lain untuk bergerak.
Di Surabaya, kota pelabuhan yang kosmopolitan, berita kongres memicu diskusi hangat di kalangan pedagang, guru, dan jurnalis. Semangat “kemajuan” ala Budi Utomo disambut dengan interpretasi yang lebih ekonomi. Tidak lama setelahnya, muncul inisiatif-inisiatif koperasi dan sekolah swasta. Bandung, yang sedang berkembang sebagai kota pendidikan militer dan teknik, merespons dengan pendekatan intelektual. Para pelajar di sekolah-sekolah Belanda mulai membentuk lingkaran diskusi (study club) yang meski tidak secara resmi bernaung di bawah Budi Utomo, tetapi bernapas dengan semangat yang sama.
Sementara di Semarang, persilangan antara gagasan Budi Utomo dengan aktivitas pers dan perdagangan yang kuat melahirkan artikulasi yang lebih kritis terhadap kebijakan kolonial melalui media cetak.
Respons Media Cetak Pribumi terhadap Kelahiran Budi Utomo
Kelahiran Budi Utomo menjadi bahan pemberitaan yang menarik bagi media cetak pribumi yang sedang tumbuh. Reaksinya beragam, dari dukungan penuh hingga skeptisisme yang hati-hati.
| Nama Media | Kota | Afiliasi/Sikap Umum | Kutipan Singkat dari Pemberitaan |
|---|---|---|---|
| Bintang Barat | Batavia | Progresif, mendukung kemajuan | “Akhirnya, sebuah organisasi yang lahir dari pikiran jernih anak bangsa sendiri, yang menjadikan ilmu sebagai senjatanya.” |
| Bramartani | Surakarta | Konservatif, dekat dengan keraton | “Harapannya, perkumpulan yang dipelopori para dokter muda ini tetap dalam koridor kesopanan dan tidak melupakan adat istiadat leluhur.” |
| Pewarta Soerabaia | Surabaya | Komersial, concern pada pedagang | “Apakah perkumpulan ini nantinya juga akan menyentuh soal perniagaan dan kesejahteraan kaum dagang? Kita tunggu perkembangannya.” |
| Sinar Djawa | Semarang | Kritis dan nasionalis awal | “Ini baru langkah pertama. Marilah kita bersama-sama mengawasi, agar cita-cita luhur untuk memajukan bangsa tidak disalahartikan.” |
Perubahan Diskursus Publik Pasca Berdirinya Budi Utomo, Tanggal berdirinya Budi Utomo dan alasannya
Dalam waktu relatif singkat setelah 1908, wacana publik di kalangan terpelajar pribumi mengalami pergeseran yang nyata. Beberapa perubahan konkret yang muncul antara lain:
- Pendidikan sebagai Investasi Bersama: Diskusi tentang pendidikan berubah dari urusan individu atau keluarga menjadi tanggung jawab kolektif. Gagasan “dana pelajar” ala Wahidin mulai diadopsi di berbagai daerah, meski dalam skala kecil, menunjukkan kesadaran baru untuk saling membantu dalam bidang edukasi.
- Kemandirian Ekonomi sebagai Prasyarat Kemajuan: Tulisan-tulisan di surat kabar mulai sering menghubungkan antara kebodohan dengan kemiskinan, dan sebaliknya, antara pendidikan dengan kemampuan ekonomi. Muncul anjuran untuk mempelajari kerajinan, pertanian modern, dan membangun koperasi untuk melepaskan ketergantungan.
- Eksistensi Organisasi Modern: Budi Utomo menjadi bukti nyata bahwa orang pribumi mampu membentuk dan mengelola organisasi modern dengan anggaran dasar, kepengurusan, dan kongres. Ini mematahkan stereotip kolonial dan menjadi model bagi organisasi-organisasi berikutnya seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah.
Suasana Rapat Awal Budi Utomo: Sebuah Deskripsi Imajinatif
Bayangkan sebuah ruang kelas di STOVIA yang sudah sepi di sore hari. Sinar matahari senja menyelinap melalui jendela-jendela tinggi berpanel kayu, menerangi partikel debu yang menari. Meja kayu panjang yang biasanya untuk praktik digeser membentuk lingkaran. Di sana duduk sekitar sembilan pemuda, seragam putih mereka sedikit kusut. Ekspresi wajah mereka campuran antara sungguh-sungguh, gugup, dan semangat yang tertahan.
Di tengah lingkaran, di atas meja, tergeletak beberapa helai kertas coretan yang akan menjadi konsep anggaran dasar. Sebuah piring berisi kue lapis tradisional dan teko teh porselen sederhana menjadi saksi bisu. Suasana hening sesaat sebelum pembicaraan dimulai, hanya terdengar desir angin dan langkah jauh seorang penjaga. Di dinding, poster anatomi tubuh manusia seakan mengingatkan mereka pada tanggung jawab profesi mereka, yang kini diperluas menjadi tanggung jawab pada masa depan bangsanya.
Udara terasa berisi, penuh dengan gravitas sebuah keputusan sejarah yang akan diambil.
Jejak Arsitektur Tempat-Tempat Bersejarah yang Menjadi Saksi Bisu Rapat Pendirian
Lokasi fisik memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap sebuah peristiwa sejarah. Tempat-tempat dimana Budi Utomo dirintis bukanlah ruang kosong, melainkan ruang yang memiliki karakter, batasan, dan atmosfer sendiri yang turut membentuk dinamika interaksi para pendirinya.
Gedung STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Jakarta, yang menjadi episentrum kelahiran Budi Utomo, adalah bangunan kolonial yang megah dan disiplin. Arsitekturnya yang simetris, dengan koridor panjang, ruang kelas yang teratur, dan asrama yang ketat, mencerminkan dunia kedokteran modern yang hierarkis dan rasional. Ruang fisik ini memaksa para pelajar untuk berinteraksi dalam pola yang terstruktur. Diskusi-diskusi awal mereka mungkin terjadi di sudut-sudut koridor, di kamar asrama setelah jam belajar, atau di ruang perpustakaan.
Keseragaman kehidupan asrama justru menciptakan ikatan solidaritas yang kuat. Ruang kelas yang sama di mana mereka diajari ilmu pengetahuan Barat menjadi tempat yang ironis sekaligus strategis untuk merencanakan kebangkitan bangsanya sendiri. Gedung itu bukan hanya sekolah, tetapi sebuah “kawah candradimika” yang mempertemukan ilmu modern dengan kesadaran nasional.
Perbandingan Lokasi Penting Awal Perkembangan Budi Utomo
Selain STOVIA, beberapa lokasi lain juga menjadi titik penting dalam perjalanan awal Budi Utomo. Masing-masing memiliki fungsi dan nilai sejarahnya sendiri.
| Nama Lokasi | Kota | Fungsi pada Era 1908 | Kondisi & Nilai Sejarah Saat Ini |
|---|---|---|---|
| Gedung STOVIA | Jakarta | Sekolah kedokteran untuk pribumi; tempat rapat pendirian 20 Mei 1908. | Menjadi Museum Kebangkitan Nasional; dilestarikan sebagai situs utama kelahiran organisasi kebangsaan modern. |
| Rumah dr. Abdul Rivai | Jakarta | Tempat praktek dan kediaman salah satu tokoh; digunakan untuk rapat-rapat lanjutan dan perencanaan strategis. | Bangunan mungkin telah berubah fungsi atau direnovasi; kurang terdokumentasi sebagai situs terbuka untuk umum. |
| Societeit Mataram (Langenarso) | Yogyakarta | Gedung pertemuan elite (termasuk priyayi); tempat diselenggarakannya Kongres Pertama Oktober 1908. | Bangunan masih ada dan digunakan untuk berbagai kegiatan; menjadi penanda penting penyebaran gagasan Budi Utomo ke Jawa Tengah. |
| Rumah dr. Wahidin Sudirohusodo | Yogyakarta | Basecamp dan tempat konsolidasi ide selama persiapan kongres dan perjalanan dakwah organisasi. | Kemungkinan besar telah menjadi situs heritage atau museum rumah; mengingat peran sentral Wahidin sebagai penggagas. |
Alasan Strategis Pemilihan Lokasi-Lokasi Awal
Pemilihan tempat-tempat tersebut untuk kegiatan Budi Utomo didasarkan pada pertimbangan yang sangat praktis dan situasional, mengingat tekanan politik kolonial saat itu.
- Keamanan dan Keterjangkauan: STOVIA dan rumah dokter memberikan ruang privat yang relatif aman dari pengawasan polisi kolonial yang ketat terhadap ruang publik. Sebagai sesama pelajar dan kolega, berkumpul di asrama atau rumah dinas tidak dianggap mencurigakan.
- Jaringan Transportasi dan Komunikasi: Batavia (Jakarta) sebagai ibu kota kolonial adalah hub transportasi dan informasi. Berita dari Belanda atau daerah lain lebih cepat sampai. Yogyakarta, meski secara geografis di tengah, memiliki jaringan kereta api yang baik ke Solo dan Semarang, memudahkan pergerakan anggota dari berbagai kota untuk menghadiri kongres.
- Akses terhadap Sumber Daya dan Informasi: STOVIA memiliki perpustakaan dengan koleksi buku-buku ilmu pengetahuan dan mungkin surat kabar dari Eropa. Rumah-rumah dokter seperti dr. Rivai juga biasanya memiliki akses ke literatur dan jaringan sosial kelas menengah terpelajar yang lebih luas, yang vital untuk pengembangan ideologi organisasi.
Suasana Debat dalam Rapat-Rapat Awal
Suasana tegang dan dinamis dalam rapat-rapat awal Budi Utomo terekam dalam beberapa kesaksian. Soetomo, dalam memoarnya, menggambarkan salah satu momen penting.
“Suasana di ruangan itu panas, meski malam itu udara Batavia sejuk. Perdebatan sengit terjadi tentang siapa yang boleh menjadi anggota. Ada yang bersikeras agar hanya priyayi dan pelajar saja, dengan alasan agar organisasi terlihat ‘terhormat’ dan tidak ditindas pemerintah. Namun, suara lain, termasuk dari beberapa teman yang berasal dari luar Jawa, lantang menyatakan bahwa kemajuan tidak boleh eksklusif. ‘Jika tujuannya memajukan bangsa, maka bangsa ini bukan hanya Jawa dan bukan hanya priyayi,’ bantah seorang rekan. Debat itu berlangsung hampir sampai subuh, dengan wajah-wajah lelah namun mata yang tetap berapi-api. Akhirnya, keputusan untuk membuka diri, meski bertahap, menjadi titik balik penting.”
Budi Utomo berdiri pada 20 Mei 1908, digagas para pelajar STOVIA untuk mengangkat harkat bangsa melalui pendidikan. Seperti pentingnya menyatukan bagian untuk hasil yang utuh, dalam matematika pun kita perlu menyatukan pecahan, misalnya mempelajari Hasil Penjumlahan 1/2 dan 2/3. Prinsip penyatuan inilah yang juga mendasari berdirinya Budi Utomo, yaitu menyatukan semangat kebangkitan untuk kemajuan Indonesia.
Interaksi Tersembunyi antara Budi Utomo dan Jaringan Perdagangan Lokal sebagai Penopang Kegiatan
Narasi sejarah seringkali terfokus pada tokoh-tokoh intelektual dan pemikir, namun melupakan jaringan pendukung di belakang layar yang membuat sebuah pergerakan bisa hidup. Aktivitas Budi Utomo di awal kelahirannya sangat bergantung pada interaksi tersembunyi dengan ekonomi lokal. Pedagang batik, tukang cetak, dan pemilik warung kopi adalah mitra diam-diam yang vital.
Pedagang batik, yang memiliki jaringan distribusi yang luas ke berbagai kota dan kalangan (dari pasar hingga keraton), menjadi saluran yang sempurna untuk menyebarkan informasi. Selembar pengumuman rapat atau ide tulisan bisa diselipkan di antara lipatan kain batik yang dikirimkan. Tukang cetak atau pemilik percetakan kecil pribumi memegang peran krusial. Mereka mencetak anggaran dasar, selebaran, bahkan majalah organisasi dengan risiko besar.
Jika ketahuan oleh pemerintah kolonial, izin usaha mereka bisa dicabut. Sementara itu, warung kopi berfungsi sebagai ruang rapat informal sekaligus pusat informasi. Percakapan tentang gagasan “kemajuan” dan “pendidikan” bisa disisipkan di antara obrolan tentang harga beras atau politik lokal, dalam suasana yang lebih santai dan kurang mencurigakan daripada rapat resmi di gedung sekolah. Dukungan mereka tidak selalu berupa uang, tetapi lebih pada penyediaan infrastruktur logistik dan komunikasi bawah tanah yang tak ternilai.
Kategori Dukungan Material dari Berbagai Profesi
Dukungan yang mengalir ke Budi Utomo sangat beragam bentuknya, disesuaikan dengan kemampuan dan risiko yang bisa diambil oleh masing-masing profesi pendukung.
| Profesi Pendukung | Jenis Dukungan Material | Perkiraan Kontribusi | Risiko di Masa Kolonial |
|---|---|---|---|
| Pedagang Batik & Tekstil | Distribusi surat/ selebaran rahasia; sumbangan kain untuk spanduk atau seragam acara; penyediaan ruang gudang untuk rapat. | Sedang hingga besar (non-tunai). | Pengawasan terhadap distribusi barang; tuduhan menyelundupkan materi subversif; gangguan bisnis. |
| Tukang Cetak (Percetakan Kecil) | Mencetak dokumen organisasi (AD/ART, makalah) secara diam-diam; mencetak karcis kegiatan. | Kritis (jasa profesional). | Sangat tinggi. Pencabutan izin usaha (vergunning), penyitaan alat, dan pidana penjara. |
| Pemilik Warung Kopi & Rumah Makan | Penyediaan tempat rapat informal; diskon atau penangguhan pembayaran konsumsi untuk anggota; menjadi titik kumpul informasi. | Kecil hingga sedang (dalam bentuk jasa). | Pengawasan oleh mata-mata (agen); kemungkinan digerebek jika ada rapat besar; reputasi sebagai tempat “orang-orang radikal”. |
| Guru & Jawara Lokal | Sumbangan uang tunai (infak); perlindungan keamanan fisik selama acara; penyebaran gagasan ke murid/masyarakat. | Bervariasi (tunai dan non-tunai). | Guru bisa dipecat; jawara bisa berhadapan dengan aparat hukum kolonial. |
Mekanisme Pengumpulan Dana dan Distribusi Informasi melalui Jaringan Ekonomi
Source: slidesharecdn.com
Untuk menghindari deteksi, Budi Utomo mengandalkan mekanisme yang sudah mapan dalam jaringan ekonomi tradisional.
- Sistem “Patungan” atau Iuran Terselubung: Pengumpulan dana seringkali dikemas seperti iuran arisan atau sumbangan untuk acara selamatan. Uang dikumpulkan oleh seorang yang dipercaya (biasanya pedagang atau guru yang dihormati) dan disalurkan secara bertahap untuk kebutuhan cetak atau logistik rapat, tanpa membuat laporan keuangan formal yang bisa dilacak.
- Distribusi via Rantai Pasok: Informasi dan dokumen dibawa oleh pedagang yang melakukan perjalanan rutin antar kota. Dokumen disamarkan sebagai daftar barang, surat dagang, atau bahkan dibungkus dalam kemasan barang dagangan. Titik serahnya bukan di alamat organisasi, tetapi di toko atau gudang milik pedagang simpatisan.
- Kode dan Bahasa Sandi: Komunikasi lisan di warung kopi atau pasar menggunakan kode. Misalnya, “pesanan kain biru” bisa berarti “rapat mendesak”, atau “kiriman buku” bisa merujuk pada “materi cetakan baru”. Hal ini memungkinkan koordinasi tanpa meninggalkan bukti tertulis.
Deskripsi Distribusi Selebaran Rahasia Budi Utomo
Di sebuah pagi yang ramai di Pasar Senen, Batavia. Seorang pedagang kain yang dikenal loyal kepada gagasan kemajuan sedang melayani seorang pelajar STOVIA yang berpakaian preman. Transaksi jual beli sepotong kain batik tulis berlangsung biasa saja. Uang dan kain bertukar tangan. Namun, di balik lapisan kain yang digulung rapi, terselip beberapa lembar kertas bertuliskan rapat.
Si pedagang, dengan cekatan dan tanpa ekspresi mencolok, segera menggulung kain itu dan menaruhnya di antara tumpukan kain lain yang sudah dipesan oleh seorang pedagang dari Cirebon. Siang itu, gulungan kain tersebut naik ke gerobak sapi menuju stasiun. Di Cirebon, pedagang penerima, yang juga telah mendapat pesan lisan melalui kenalannya, mengambil gulungan khusus itu. Ia tidak membukanya di pasar, tetapi membawanya pulang.
Malamnya, di kediamannya yang sederhana, gulungan itu dibuka. Selebaran itu kemudian dibagikan kepada beberapa guru dan juru tulis yang ia percayai dalam pertemuan kecil di belakang rumahnya. Demikianlah, tanpa kurir khusus dan tanpa jejak pos, gagasan dari Batavia sampai ke kota-kota lain, mengalir seperti darah dalam pembuluh nadi perdagangan tradisional Nusantara.
Transformasi Narasi “Budi” dan “Utomo” dalam Kesusasteraan Melayu-Tionghoa Periode 1908-1915: Tanggal Berdirinya Budi Utomo Dan Alasannya
Gema Budi Utomo tidak hanya bergaung di kalangan pribumi Jawa, tetapi juga memantul dan direfleksikan dalam komunitas Tionghoa Peranakan yang saat itu juga sedang mencari identitas dan tempat dalam struktur kolonial. Melalui media cetak mereka yang sangat hidup, seperti surat kabar dan majalah berbahasa Melayu-Tionghoa, konsep “budi pekerti yang utama” diadaptasi dan diinterpretasikan ulang sesuai dengan konteks sosial mereka.
Para intelektual dan penulis Tionghoa Peranakan melihat dalam Budi Utomo sebuah cermin dari aspirasi mereka sendiri: keinginan untuk maju melalui pendidikan, memperbaiki martabat komunitas, dan melawan stereotip negatif. Kata “budi” yang dalam konteks Jawa sangat kental dengan etika priyayi, dalam tulisan mereka sering disandingkan dengan konsep Konfusianisme seperti “ren” (kebajikan) atau “xue” (belajar). Mereka memuji langkah para pelajar STOVIA sebagai contoh konkret bahwa kemajuan harus diraih dengan ilmu dan organisasi yang baik.
Syair-syair (pantun dan sajak) yang terbit di media seperti Sin Po atau Perniagaan seringkali menggunakan metafora “cahaya” dan “kebangkitan dari tidur” yang serupa dengan narasi Budi Utomo, namun diterapkan untuk membangunkan kesadaran kaum Tionghoa agar meninggalkan kebiasaan kolot dan bersaing secara global.
Karya Sastra Melayu-Tionghoa yang Mengangkat Semangat Serupa
Beberapa tulisan dalam media komunitas Tionghoa Peranakan secara eksplisit maupun implisit merujuk atau terinspirasi oleh semangat zaman yang dibawa Budi Utomo.
| Judul Tulisan/Puisi | Nama Media | Tahun Terbit (Perkiraan) | Cuplikan Tema yang Relevan |
|---|---|---|---|
| “Bangoenlah!” (Bangunlah!) | Sin Po | 1910 | Seruan bagi pemuda Tionghoa untuk meninggalkan kemalasan dan mengejar ilmu pengetahuan, mirip seruan kebangkitan nasional. |
| “Anak Moeda dan Kewadjibannja” | Perniagaan | 1912 | Membahas tanggung jawab generasi muda untuk memajukan bangsa dan masyarakat, dengan menyebut contoh organisasi modern. |
| Syair “Pelajaran dan Budi” | Warna Warta | 1913 | Menyatukan konsep pendidikan (pelajaran) dengan akhlak mulia (budi) sebagai fondasi kemajuan suatu kaum. |
| Artikel “Pergerakan di Djawa” | Liberty | 1915 | Analisis ringkas tentang munculnya organisasi seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam, serta pelajarannya bagi komunitas Tionghoa. |
Alasan Penerimaan Gagasan Budi Utomo di Komunitas Tionghoa Peranakan
Ada beberapa faktor mendasar mengapa gagasan Budi Utomo mendapatkan resonansi dalam diskursus komunitas Tionghoa Peranakan saat itu.
- Kesamaan Posisi sebagai “Kaum Tengah”: Baik intelektual pribumi Jawa maupun Tionghoa Peranakan terpelajar menempati posisi “di tengah”: mengenyam pendidikan modern Barat tetapi seringkali masih dipandang rendah oleh kekuasaan kolonial Eropa. Mereka berbagi rasa frustrasi yang sama terhadap hambatan mobilitas sosial.
- Media Cetak sebagai Ruang Publik Bersama: Bahasa Melayu Pasar adalah lingua franca media saat itu. Penulis Tionghoa Peranakan banyak berkontribusi di koran umum, dan sebaliknya, berita tentang Budi Utomo juga diliput oleh media milik mereka. Hal ini menciptakan ruang diskusi bersama yang memungkinkan pertukaran ide.
- Pencarian Model Organisasi Modern: Komunitas Tionghoa Peranakan juga sedang membentuk perkumpulan-perkumpulan modern seperti Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Keberhasilan Budi Utomo dalam menggalang pelajar dan priyayi memberikan sebuah studi kasus yang bisa dipelajari tentang mengelola organisasi berbasis etnis/kultural di bawah pemerintahan kolonial.
- Semangat Zaman (Zeitgeist) “Kemajuan”: Kata kunci pada era itu adalah “vooruitgang” (kemajuan) atau “opvoeding” (pendidikan). Gagasan ini bersifat universal dan melampaui batas etnis. Budi Utomo dianggap sebagai manifestasi lokal yang sukses dari semangat global tersebut, sehingga patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi.
Analoginya Seorang Penulis Tionghoa Peranakan
Seorang penulis dengan nama pena “K. W. M.” dalam sebuah editorial di surat kabar Liberty pada 1914, membuat analogi yang tajam.
“Lihatlah bagaimana para pemuda STOVIA itu, mereka bagaikan dokter yang mendiagnosis bangsanya sendiri yang sedang sakit keras. Mereka tidak langsung mengobati dengan revolusi, tetapi dengan pendidikan sebagai serumnya. Kita, kaum Tionghoa, sebenarnya juga sedang sakit. Sakit karena dikucilkan oleh pemerintah, sakit karena dicurigai oleh pribumi, dan sakit karena sebagian dari kita masih terbelenggu oleh pikiran kolot. Apakah kita tidak memerlukan ‘organisasi kesehatan’ kita sendiri? Apakah kita tidak perlu menyuntikkan ‘serum’ pendidikan dan kebersatuan? Budi Utomo menunjukkan jalannya: mulailah dari yang terpelajar, dan raihlah kemajuan selangkah demi selangkah.”
Terakhir
Jadi, menelusuri tanggal berdirinya Budi Utomo dan alasannya mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari sebuah keputusan berani yang diambil pada momen yang tepat. Warisan Budi Utomo bukan hanya pada pencatatannya sebagai organisasi pertama, tetapi pada cara ia membuka jalan, membuktikan bahwa semangat kebangkitan bisa disulut dari ruang-ruang diskusi terbatas menjadi api penyemangat bagi seluruh bangsa. Kisah ini mengingatkan bahwa sebelum aksi besar terjadi, selalu ada proses pemikiran, perencanaan, dan pemilihan waktu yang matang, yang semuanya bersatu pada 20 Mei 1908 untuk mengukir babak baru dalam sejarah Indonesia.
Panduan Tanya Jawab
Apakah Budi Utomo langsung bergerak di bidang politik setelah berdiri?
Tidak. Pada awalnya, fokus utama Budi Utomo adalah pada peningkatan pendidikan dan pengajaran (edukasi) serta kebudayaan. Baru dalam perkembangannya, terutama setelah kongres pertamanya, wacana dan kesadaran politik mulai mengemuka seiring dengan dinamika pergerakan yang semakin kompleks.
Mengapa nama “Budi Utomo” yang dipilih, apa artinya?
Nama “Budi Utomo” berasal dari bahasa Sanskerta. “Budi” berarti pikiran, akal budi, atau intelek, sedangkan “Utomo” berarti utama atau luhur. Jadi, “Budi Utomo” dapat diartikan sebagai “akal budi yang utama” atau “kecerdasan yang luhur”, yang mencerminkan visi pendirinya untuk memajukan bangsa melalui jalan pendidikan dan pemikiran yang mulia.
Apakah wanita bisa menjadi anggota Budi Utomo?
Pada masa awal pendiriannya, keanggotaan Budi Utomo didominasi oleh pria, terutama kalangan priyayi dan pelajar. Namun, seiring waktu dan dengan berkembangnya pemikiran, tidak ada catatan yang secara eksplisit melarang keanggotaan wanita. Peran wanita dalam pergerakan nasional mulai lebih terorganisir dengan lahirnya organisasi-organisasi wanita beberapa tahun setelahnya.
Bagaimana reaksi pemerintah kolonial Belanda terhadap berdirinya Budi Utomo?
Awalnya, pemerintah kolonial Belanda tidak melihat Budi Utomo sebagai ancaman serius karena gerakannya yang lebih berfokus pada sosial-budaya dan pendidikan, serta anggotanya dari kalangan elit yang dianggap kooperatif. Mereka bahkan menganggapnya sebagai perkembangan yang wajar. Namun, pengawasan tetap dilakukan, dan seiring waktu ketika semangat nasionalisme mulai menguat, sikap kolonial menjadi lebih waspada.