Tentukan Kalimat Tidak Baku dari Empat Pilihan merupakan tantangan yang kerap ditemui dalam berbagai ujian bahasa Indonesia, namun sejatinya lebih dari sekadar soal pilihan ganda. Kemampuan ini adalah fondasi penting untuk mengasah kepekaan berbahasa, membedakan mana ungkapan yang sesuai dengan kaidah dan mana yang menyimpang. Dalam dunia yang semakin dipenuhi komunikasi informal, memahami ketidakbakuan menjadi kunci untuk menjaga kualitas berbahasa tulis maupun lisan dalam konteks yang lebih resmi.
Analisis terhadap kalimat tidak baku tidak hanya berkutat pada pencarian kesalahan ejaan atau tanda baca, melainkan juga menyelami struktur, pilihan kata (diksi), dan logika berbahasa. Proses identifikasi ini melibatkan pemahaman mendalam tentang berbagai faktor, mulai dari pengaruh dialek daerah, kebiasaan di media sosial, hingga kesalahan sistematis dalam penyerapan kata. Dengan pendekatan sistematis, siapa pun dapat mempelajari cara mengurai dan memperbaiki ketidakbakuan tersebut.
Pengertian dan Ciri-Ciri Kalimat Tidak Baku
Dalam dinamika berbahasa Indonesia, kita sering kali dihadapkan pada dua realitas: bahasa yang kita gunakan sehari-hari dan bahasa yang diakui sebagai standar. Kalimat tidak baku merujuk pada bentuk kalimat yang menyimpang dari kaidah tata bahasa, ejaan, dan kosakata standar yang telah ditetapkan. Penyimpangan ini bukan berarti salah mutlak, tetapi lebih menunjukkan ketidakteraturan yang lahir dari pengaruh daerah, percakapan informal, atau perkembangan zaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam standar resmi.
Perbedaan utama antara kalimat baku dan tidak baku terletak pada konsistensinya terhadap aturan. Kalimat baku bersifat konsisten, dapat diprediksi, dan digunakan dalam konteks resmi seperti karya ilmiah, dokumen negara, atau pemberitaan media utama. Sementara itu, kalimat tidak baku lebih cair, lentur, dan sangat kontekstual, sering muncul dalam percakapan langsung, media sosial, atau tulisan personal.
Ciri-Ciri Pembeda dan Contoh Sehari-hari
Ciri-ciri kalimat tidak baku dapat diamati dari beberapa aspek kebahasaan. Aspek-aspek ini menjadi penanda yang jelas untuk membedakannya dengan bentuk bakunya. Berikut tabel perbandingan yang merangkum ciri-ciri utama tersebut.
| Aspek | Ciri Kalimat Tidak Baku | Ciri Kalimat Baku | Contoh Penggunaan |
|---|---|---|---|
| Kosakata | Menggunakan kata serapan daerah, slang, atau bentuk yang tidak diakui KBBI. | Menggunakan kata baku yang diakui KBBI dan sesuai konteks. | Tidak Baku: “Gue udah ngampus tadi siang.” Baku: “Saya sudah pergi ke kampus tadi siang.” |
| Tata Bahasa | Struktur kalimat sering tidak lengkap (S-P-O-K) atau rancu. | Struktur kalimat lengkap dan logis sesuai pola SPOK. | Tidak Baku: “Buku itu saya baca.” (pasif tanpa kejelasan subjek pelaku). Baku: “Saya membaca buku itu.” |
| Ejaan dan Tanda Baca | Ejaan disingkat, tidak sesuai PUEBI, dan tanda baca semrawut. | Ejaan sesuai KBBI dan PUEBI, tanda baca tepat. | Tidak Baku: “kpn km dateng?” Baku: “Kapan kamu datang?” |
| Pelafalan/Pengucapan | Terpengaruh logat daerah atau pengucapan yang menyimpang. | Mengupayakan pelafalan sesuai ejaan baku. | Tidak Baku: “Aku pengen makan.” Baku: “Aku ingin makan.” |
Dalam percakapan sehari-hari, bentuk tidak baku justru dominan karena efisiensi dan kedekatan emosional. Ungkapan seperti “Lagi di mana?” sebagai pengganti “Sedang di mana?” atau “Jangan bonyok!” untuk “Jangan berisik!” adalah contoh nyata bagaimana bahasa hidup dan beradaptasi di ranah nonformal, meski secara kaidah dianggap tidak baku.
Penyebab Terbentuknya Kalimat Tidak Baku: Tentukan Kalimat Tidak Baku Dari Empat Pilihan
Keberadaan kalimat tidak baku bukanlah fenomena kebetulan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal kebahasaan dan eksternal sosial budaya. Memahami akar penyebabnya membantu kita melihat ketidakbakuan bukan sebagai kesalahan yang harus dihakimi, tetapi sebagai gejala alami dari bahasa yang hidup dan digunakan oleh masyarakat yang beragam.
Faktor kebahasaan sering menjadi penyebab langsung, seperti ketidaktahuan penutur akan kaidah baku, proses morfologis yang tidak tepat, atau kontaminasi struktur. Sementara itu, faktor non-kebahasaan berperan sebagai pendorong yang lebih luas, mencakup geografis, generasi, dan media.
Kemampuan mengidentifikasi kalimat tidak baku dari empat pilihan sangat penting untuk komunikasi efektif. Konsep kebakuan bahasa ini juga berlaku dalam dunia praktis, misalnya saat mempelajari Cara Membiakkan Kucing yang memerlukan istilah teknis yang tepat. Dengan demikian, pemahaman kaidah baku tak hanya berguna dalam ujian, tetapi juga dalam aktivitas spesifik yang memerlukan presisi informasi.
Faktor Kebahasaan dan Non-Kebahasaan, Tentukan Kalimat Tidak Baku dari Empat Pilihan
Faktor kebahasaan muncul dari dalam sistem bahasa itu sendiri. Pengaruh dialek daerah, misalnya, dapat secara signifikan mengubah struktur kalimat baku. Dalam bahasa Indonesia dialek Jakarta, kita mengenal konstruksi “Dia lagi baca buku” yang menghilangkan partikel “sedang” dan cenderung menggunakan pola yang lebih sederhana. Bandingkan dengan bentuk baku “Dia sedang membaca buku.” Perubahan kecil ini menunjukkan bagaimana tekanan percakapan cepat mendorong penyederhanaan.
Di luar faktor kebahasaan, lingkungan sosial dan teknologi membentuk pola berbahasa. Media sosial dengan batas karakter dan kecepatan komunikasi mendorong singkatan dan idiom baru. Budaya pop dan kelompok usia tertentu menciptakan slang yang dengan cepat menggantikan kosakata baku dalam percakapan sehari-hari.
Jenis-jenis kesalahan yang umum terjadi dapat dirinci sebagai berikut:
- Pleonasme: Penggunaan kata yang berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan (contoh: “naik ke atas”, “mundur ke belakang”).
- Contaminasi: Pencampuran dua bentuk atau struktur yang benar sehingga menghasilkan bentuk yang salah (contoh: “di waktu itu” dari pencampuran “pada waktu itu” dan “di saat itu”).
- Kesalahan Morfologis: Kesalahan dalam pembentukan kata, seperti prefiks atau sufiks (contoh: “menyolok” yang seharusnya “mencolok”, “ilmiahwan” untuk “ilmuwan”).
- Kesalahan Sintaksis: Kesalahan dalam penyusunan kalimat, seperti subjek yang tidak jelas atau ketidaksesuaian subjek-predikat (contoh: “Untuk para hadirin dipersilakan berdiri.”).
- Alay dan Singkatan Ekstrem: Pengubahan ejaan secara kreatif dan berlebihan, terutama di media sosial (contoh: “4ku s4y4ng b9t b9t” untuk “Aku sayang banget banget”).
Metode dan Langkah Identifikasi
Menentukan kalimat tidak baku dari beberapa pilihan memerlukan pendekatan sistematis dan cermat. Proses ini bukan sekadar mencari yang “terdengar aneh”, tetapi melakukan penilaian berlapis berdasarkan kriteria kebakuan yang objektif. Dengan metode yang tepat, kita dapat mengeliminasi pilihan secara logis hingga menemukan jawaban yang paling tepat.
Analisis dimulai dari pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap opsi, kemudian diteruskan dengan uji spesifik pada aspek-aspek krusial seperti ejaan, tata bahasa, dan pilihan kata. Pendekatan bertahap ini meminimalisasi bias subjektif dan memastikan keputusan berdasarkan aturan.
Prosedur Analisis Langkah Demi Langkah
- Baca Keseluruhan Pilihan: Pahami konteks dan makna dari setiap kalimat yang diberikan. Jangan terburu-buru memutuskan.
- Periksa Ejaan dan Tanda Baca: Gunakan PUEBI dan KBBI sebagai patokan. Perhatikan huruf kapital, penulisan kata depan (di, ke, dari), dan penggunaan tanda koma yang tepat.
- Uji Struktur Tata Bahasa: Pastikan kalimat memiliki subjek dan predikat yang jelas. Periksa kesesuaian antara subjek dan predikat (singular/plural), serta kejelasan fungsi kata dalam kalimat.
- Evaluasi Pilihan Kata (Diksi): Identifikasi apakah ada kata yang tidak baku, slang, atau merupakan bentuk tidak standar. Bandingkan dengan entri dalam KBBI.
- Cari Kesalahan Khusus: Waspadai kesalahan seperti pleonasme, kontaminasi, atau bentuk yang rancu. Kalimat yang terlihat kompleks belum tentu baku.
- Lakukan Eliminasi: Coret pilihan yang memiliki pelanggaran kaidah paling jelas. Bandingkan sisa pilihan untuk menemukan yang paling mendekati kesempurnaan kaidah.
Berikut tabel panduan yang dapat membantu dalam proses identifikasi:
| Kriteria Penilaian | Contoh Kalimat | Analisis | Alasan Ketidakbakuan |
|---|---|---|---|
| Kesalahan Ejaan Kata | Kami menganalisa data tersebut. | Kata “analisa” adalah bentuk tidak baku. | Bentuk baku menurut KBBI adalah “analisis” atau “menganalisis”. |
| Kesalahan Kata Depan | Buku itu ditaruh dibawah meja. | Kata “dibawah” ditulis serangkai. | Kata depan “di” yang menunjukkan tempat harus ditulis terpisah: “di bawah”. |
| Struktur Kalimat Rancu | Yang diceritakan itu membuat kita harus memikir. | Kata “memikir” tidak memiliki objek yang jelas. | Bentuk yang tepat adalah “memikirkan” sesuatu, atau struktur kalimat diubah menjadi “harus berpikir”. |
| Pleonasme | Para hadirin dipersilakan masuk ke dalam. | Kata “para” dan “hadirin” serta “masuk ke dalam” berlebihan. | “Hadirin” sudah jamak, tidak perlu “para”. “Masuk” sudah implisit “ke dalam”. Baku: “Hadirin dipersilakan masuk.” |
Proses eliminasi dapat diilustrasikan dengan contoh empat pilihan: A, B, C, D. Misalnya, kalimat A langsung tereliminasi karena menggunakan kata “kalo” yang tidak baku. Kalimat B menggunakan kata “dimana” sebagai kata penghubung yang tidak tepat untuk non-lokasi. Kalimat C terlihat baik, tetapi setelah dicek, terdapat kesalahan penulisan “di” pada “dikarenakan” yang harusnya dipisah karena merupakan kata depan. Sementara itu, kalimat D lolos dari semua uji ejaan, struktur, dan diksi, sehingga terpilih sebagai kalimat yang baku.
Latihan dan Penerapan Analisis
Untuk mengasah kemampuan mengidentifikasi kalimat tidak baku, latihan dengan contoh konkret adalah kunci. Berikut disajikan empat pilihan kalimat. Cobalah analisis berdasarkan metode sebelumnya sebelum melihat kunci jawaban dan penjelasannya.
Petunjuk Khusus: Dalam menganalisis ejaan, perhatikan dengan saksama perbedaan antara “di” sebagai kata depan (ditulis terpisah: di rumah) dan “di-” sebagai awalan (ditulis serangkai: dimakan). Kesalahan pada titik ini sangat umum dan sering menjadi penentu.
Pilihan Kalimat:
A. Kita harus bisa membedain antara fakta dan opini.
B. Acara itu dikarenakan oleh hujan akhirnya ditunda.
C.
Hasil penelitian tersebut sangatlah mencengangkan.
D. Dia menyampaikan materi dengan sangat baik.
Kunci Jawaban dan Penjelasan:
Kalimat tidak baku adalah B. Alasannya, kata ” dikarenakan” merupakan bentuk tidak baku. Kata depan “oleh” juga redundan setelahnya. Bentuk baku yang tepat adalah “Acara itu disebabkan hujan akhirnya ditunda” atau “Acara itu karena hujan akhirnya ditunda.”
– Kalimat A salah karena ada typo pada ” membedain” (seharusnya “membedakan”).
– Kalimat C dapat diterima, meski penggunaan “-lah” pada ” sangatlah” terkesan agak puitis, tetapi tidak melanggar kaidah.
– Kalimat D sudah baku.
Variasi Latihan Soal
Untuk tingkat kesulitan berbeda, perhatikan soal-soal berikut yang fokus pada kesalahan tersembunyi:
- Tingkat Dasar (Kesalahan Ejaan Nyata): “Ibu menyetrika baju ayah.” (Analisis: Penulisan baku adalah “menyeterika” atau “menyetrika”? KBBI menetapkan “menyeterika” sebagai bentuk baku).
- Tingkat Menengah (Kesalahan Tata Bahasa): ” Baik siswa maupun guru diwajibkan hadir.” (Analisis: Apakah subjek “baik siswa maupun guru” jamak atau tunggal? Kata kerja “diwajibkan” seharusnya disesuaikan? Bentuk yang lebih tepat adalah “diwajibkan untuk hadir” atau “wajib hadir”).
- Tingkat Lanjut (Kerancuan Makna): “Usulan daripada pihak sekolah sudah kami terima.” (Analisis: Kata “daripada” digunakan untuk perbandingan, bukan asal. Kata yang tepat adalah “dari” pihak sekolah).
Strategi menghindari kalimat tidak baku dalam penulisan formal melibatkan kebiasaan menyunting mandiri. Setelah menulis, bacalah kembali teks dengan suara lantang untuk mendeteksi kejanggalan struktur. Manfaatkan pemeriksa ejaan digital, tetapi jangan bergantung sepenuhnya karena alat tersebut bisa melewatkan kesalahan tata bahasa. Konsultasi dengan KBBI daring dan PUEBI untuk kasus yang meragukan adalah langkah final yang sangat dianjurkan.
Perbandingan dan Koreksi
Proses mengubah kalimat tidak baku menjadi baku adalah inti dari pembelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar. Melalui perbandingan langsung, kita dapat melihat dengan jelas titik penyimpangan dan memahami alasan koreksi yang dilakukan. Koreksi ini tidak hanya sekadar mengubah kata, tetapi sering kali merekonstruksi logika kalimat agar lebih jelas dan efektif.
Analisis mendalam terhadap setiap koreksi akan memperkaya pemahaman kita tentang kaidah yang berlaku. Bahkan kesalahan yang dianggap sepele, seperti penggunaan tanda baca, dapat berdampak besar pada kejelasan informasi dan kesan formalitas sebuah tulisan.
Tabel Perbandingan dan Analisis Koreksi
| Kalimat Awal (Tidak Baku) | Jenis Kesalahan | Koreksi (Baku) | Aturan yang Berlaku |
|---|---|---|---|
| Kami mengetik surat itu dikomputer. | 1. Pilihan Kata (Diksi) 2. Ejaan Kata Depan |
Kami mengetikkan surat itu di komputer. | 1. “Mengetik” berarti melakukan aktivitas mengetik. “Mengetikkan” berarti mengetik untuk orang lain atau sesuatu (surat). 2. “di” sebagai kata depan penunjuk tempat ditulis terpisah. |
| Dimana buku yang kamu pinjam kemarin? | 1. Penggunaan Kata Tanya 2. Tanda Tanya |
Di mana buku yang kamu pinjam kemarin? | 1. “Dimana” adalah bentuk tidak baku. Kata tanya “di mana” ditulis terpisah. 2. Tanda tanya (?) harus digunakan di akhir kalimat tanya. |
| Kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu dipersilakan duduk. | 1. Pleonasme 2. Penulisan Kata Sapaan |
Hadirin dipersilakan duduk. | “Kepada” sebelum subjek “Bapak-bapak dan Ibu-ibu” tidak diperlukan.
2. “Bapak-bapak dan Ibu-ibu” dapat diganti dengan kata yang lebih efisien dan formal “hadirin”. Kata sapaan seperti Bapak/Ibu ditulis kapital jika diikuti nama atau sebagai sapaan langsung. |
| Hasilnya sangat mencengangkan sekali. | Pleonasme | Hasilnya sangat mencengangkan. atau Hasilnya mencengangkan sekali. | Kata “sangat” dan “sekali” memiliki makna penguat yang sama. Penggunaan keduanya bersamaan (sangat…sekali) dianggap berlebihan dalam bahasa baku. Pilih salah satu. |
Koreksi untuk kesalahan yang sering dianggap sepele contohnya adalah pada kata ” silakan” versus ” silahkan“. Banyak yang menulis “silahkan” dengan penambahan huruf ‘h’, mungkin karena pengaruh pelafalan. Bentuk baku yang benar adalah ” silakan” tanpa huruf ‘h’. Contoh: “Silakan duduk,” bukan “Silahkan duduk.” Meski terlihat kecil, penggunaan bentuk baku menunjukkan ketelitian dan penghormatan terhadap aturan berbahasa, terutama dalam undangan atau pengumuman resmi.
Ringkasan Akhir
Source: slidesharecdn.com
Dalam konteks mengidentifikasi kalimat tidak baku, kita tak hanya sekadar memeriksa tata bahasa. Analoginya, memahami struktur yang benar mirip dengan mengurai Persamaan Reaksi Propenaldehida Dioksidasi dengan KMnO4 , di mana setiap unsur harus tepat dan proporsional. Kembali ke soal utama, ketelitian dalam memilih kata dan struktur menjadi kunci utama untuk menentukan jawaban yang paling menyimpang dari kaidah baku.
Menguasai teknik menentukan kalimat tidak baku dari empat pilihan pada akhirnya bukan semata untuk menjawab soal ujian, tetapi membekali diri dengan kecakapan berbahasa yang presisi dan elegan. Kemampuan ini menjadi tameng dalam menghadapi arus informasi yang kerap mengaburkan batas antara bahasa yang benar dan yang sekadar populer. Dengan terus berlatih dan kritis terhadap setiap kalimat yang ditemui, penggunaan bahasa Indonesia yang baku akan menjadi kebiasaan, bukan lagi beban, sehingga kontribusi terhadap pelestarian khazanah bahasa nasional dapat dilakukan dari hal yang paling mendasar.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah kalimat tidak baku selalu salah dan tidak boleh digunakan?
Menentukan kalimat tidak baku dari empat pilihan memerlukan ketelitian, mirip dengan menganalisis soal matematika yang membandingkan ukuran. Seperti pada kasus Luas Lingkaran P dan Q 1:4, Diameter P 20 cm, Keliling Q , di mana logika dan penerapan rumus yang tepat adalah kunci. Demikian pula, mengidentifikasi ketidakbakuan dalam kalimat menuntut pemahaman kaidah yang solid agar analisis kita akurat dan tidak keliru.
Tidak selalu. Kalimat tidak baku dianggap tidak sesuai dengan kaidah standar bahasa Indonesia, namun penggunaannya dapat diterima dalam konteks percakapan informal, sastra, atau media tertentu yang sengaja menginginkan nuansa santai. Yang penting adalah mengetahui konteks yang tepat.
Bagaimana membedakan kesalahan ketik biasa dengan kalimat tidak baku?
Kesalahan ketik bersifat tidak disengaja dan acak, seperti “bahaas” untuk “bahasa”. Kalimat tidak baku mengandung pola penyimpangan yang sistematis terhadap kaidah, seperti penggunaan kata yang tidak tepat (“bikin” untuk “membuat”) atau struktur yang rancu, yang bisa jadi digunakan secara sengaja dalam komunikasi sehari-hari.
Apakah kata-kata dari bahasa daerah atau bahasa gaul otomatis termasuk tidak baku?
Ya, dalam konteks bahasa Indonesia baku, kata-kata yang belum diserap secara resmi ke dalam KBBI dianggap tidak baku. Namun, kata serapan resmi dari bahasa daerah justru menjadi bagian dari kosakata baku. Bahasa gaul umumnya termasuk ragam nonbaku.
Mana yang lebih penting dianalisis terlebih dahulu saat menentukan kalimat tidak baku: ejaan atau struktur kalimat?
Disarankan untuk memeriksa struktur kalimat dan pilihan kata terlebih dahulu, karena kesalahan pada level ini lebih substantif. Setelah itu, barulah verifikasi ejaan dan tanda baca. Namun, pendekatan bisa dilakukan secara menyeluruh dengan melihat semua aspek sekaligus.