10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris Pengaruh dan Jejaknya

10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris bukan sekadar terjemahan kuno yang terpampang di dinding gereja. Ia adalah tamu hidup yang telah lama tinggal dalam ruang-ruang budaya, hukum, dan sastra berbahasa Inggris, membentuk cara berpikir dan bertutur kata. Dari pelafalan “Thou shalt not” yang berwibawa di mimbar gereja hingga jejaknya dalam sistem common law, rangkaian perintah ini telah melakukan perjalanan linguistik yang luar biasa, beradaptasi namun tak kehilangan esensinya.

Melalui berbagai versi terjemahan, dari King James Version yang puitis hingga New International Version yang kontemporer, setiap pilihan kata menyimpan nuansa filosofisnya sendiri. Perbedaan itu bukan hal sepele, karena ia memengaruhi bagaimana suatu larangan dirasakan, dari kesan sakral hingga hukum positif. Eksplorasi ini akan menelusuri bagaimana sepuluh firman itu beresonansi dalam pelafalan, tertanam dalam sistem hukum, menghidupi karya sastra, membingkai etika bisnis era Victoria, dan bahkan terpahat dalam simbol-simbol arsitektur Inggris.

Pelafalan dan Nuansa Fonetik Sepuluh Firman dalam Bahasa Inggris: 10 Hukum Taurat Dalam Bahasa Inggris

Ketika kita membaca Sepuluh Firman dalam bahasa Inggris, pilihan kata dan cara pelafalannya bukanlah hal sepele. Ia membawa beban sejarah, otoritas, dan emosi yang berbeda. Perbedaan antara “Thou shalt not” dari King James Version (KJV) yang legendaris dengan “You shall not” yang lebih modern, misalnya, bukan sekadar soal kuno dan kontemporer. Kata “thou” adalah bentuk kata ganti orang kedua tunggal yang intim sekaligus formal pada masanya, digunakan untuk berbicara kepada satu individu.

Mempelajari terjemahan “10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris” membuka wawasan tentang nilai universal yang mengatur kehidupan. Mirip seperti prinsip adat yang mendasari setiap gerakan dalam Tari Dayak: Pengertian dan Sejarah , hukum-hukum ini bukan sekadar aturan kaku, melainkan pedoman filosofis yang dalam. Dengan memahami konteks budayanya, baik melalui tarian maupun teks suci, pemahaman kita terhadap “10 Commandments” menjadi jauh lebih kaya dan aplikatif dalam konteks kekinian.

Dalam konteks perintah ilahi, ini menciptakan kesan bahwa Tuhan berbicara langsung kepada setiap pribadi, menembus kerumunan. Pelafalannya yang memerlukan artikulasi dental fricative (/ð/ dalam “thou”) terdengar lebih tegas dan kuno, mengukuhkan jarak sakral.

Sebaliknya, “You shall not” yang digunakan oleh versi seperti NIV atau ESV terasa lebih umum. “You” dalam bahasa Inggris modern bisa tunggal bisa jamak, sehingga perintah itu terdengar seperti ditujukan kepada komunitas secara kolektif. Tekanan suku kata juga bergeser. Dalam “Thou shalt not”, tekanan sering jatuh pada “shalt” yang merupakan kata kerja bantu kuno, menegaskan kepastian dan keharusan mutlak. Dalam “You shall not”, tekanan lebih natural dan bisa berpindah, mungkin lebih ke “not” atau kata kerja utamanya, yang sedikit menggeser nuansa dari penegasan kewajiban ke pernyataan larangan yang jelas.

Perbedaan fonetik ini membentuk kewibawaan teks; KJV terdengar seperti suara dari masa lampau yang tak terbantahkan, sementara terjemahan modern berusaha menyampaikan pesan yang sama dengan kejelasan komunikatif masa kini.

Perbandingan Kata Kerja dalam Beberapa Versi Terjemahan

Pilihan kata kerja dalam menerjemahkan perintah-perintah ini sangat halus namun penuh makna. Kata kerja menjadi inti dari setiap larangan atau perintah, dan variasi terjemahannya dapat sedikit membelokkan penekanan makna, dari yang sangat absolut hingga yang lebih deskriptif.

Nomor Hukum Kata Kerja KJV Kata Kerja NIV Implikasi Nuansa
6 Thou shalt not kill You shall not murder “Kill” bersifat umum (bisa berarti bunuh, bantai, atau bahkan membunuh dalam perang), sementara “murder” spesifik pada pembunuhan dengan rencana jahat, menyempitkan cakupan hukum secara yuridis.
7 Thou shalt not commit adultery You shall not commit adultery Kedua versi menggunakan frasa yang sama, menunjukkan konsensus atas kekhususan pelanggaran ini. Kekuatan ada pada kata “commit” yang menyiratkan tindakan aktif dan disengaja.
8 Thou shalt not steal You shall not steal Konsisten dan langsung. Kata “steal” sendiri sudah sangat kuat dan jelas, tidak banyak ruang untuk interpretasi berbeda.
9 Thou shalt not bear false witness You shall not give false testimony “Bear” dalam KJV terasa lebih kuno dan berat, seperti memikul sebuah beban kebohongan. “Give” dalam NIV lebih netral dan prosedural, cocok dengan konteks pengadilan modern.
10 Thou shalt not covet You shall not covet Kedua versi mempertahankan “covet”, kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, sehingga mempertahankan nuansa khusus tentang keinginan hati yang dalam dan tersembunyi.

Dampak Konsonan Keras pada Persepsi Larangan

Fonetik kata-kata kunci dalam Dekalog bekerja pada tingkat bawah sadar untuk memperkuat keseriusannya. Ambil contoh kata “kill” (dalam KJV), “steal”, dan “bear” dalam “bear false witness”. Ketiganya diawali atau diwarnai oleh konsonan keras atau letupan (plosive) seperti /k/, /t/, /b/. Bunyi /k/ dalam “kill” diucapkan dengan hentian aliran udara di pangkal lidah, menghasilkan suara yang tajam dan final, seperti sebuah tindakan yang tak dapat ditarik kembali.

Bunyi /t/ dalam “steal” adalah dental plosive, terdengar seperti ketukan atau hentakan kecil yang tegas, mencerminkan tindakan mengambil yang cepat dan sembunyi-sembunyi.

Bunyi /b/ dalam “bear” adalah bilabial plosive, membutuhkan penutupan kedua bibir sepenuhnya sebelum dilepaskan, menciptakan kesan tekanan dan beban. Ketika kita mengucapkan “bear false witness”, bibir kita terkatup sejenak sebelum mengeluarkan kata “bear”, seolah-olah menahan kebohongan itu sebelum akhirnya diucapkan. Kombinasi bunyi-bunyi ini—tajam, tegas, dan bertekanan—membentuk sebuah ritme larangan yang tidak mudah dilupakan. Mereka tidak hanya menyampaikan makna leksikal, tetapi juga menanamkan perasaan tidak nyaman, ketegangan, dan finalitas yang sesuai dengan gravitasi moral dari larangan-larangan tersebut.

Ritme Kalimat dalam Deuteronomy 5 dan Exodus 20

Meskipun berisi sepuluh hukum yang sama, penyajiannya dalam Kitab Keluaran (Exodus 20) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5) memiliki perbedaan redaksional yang halus, menciptakan ritme dan dampak retoris yang berbeda. Perbedaan ini terutama terasa dalam preamble atau pengantar perintah-perintah tersebut.

Exodus 20:2: “I am the Lord thy God, which have brought thee out of the land of Egypt, out of the house of bondage.”

Deuteronomy 5:6: “I am the Lord thy God, which brought thee out of the land of Egypt, from the house of bondage.”

Perbedaannya tampak kecil: “which have brought” versus “which brought”. Exodus menggunakan present perfect tense (“have brought”), yang dalam bahasa Inggris menekankan relevansi masa lalu hingga saat ini. Ini menciptakan kesan bahwa pembebasan dari Mesir adalah sebuah peristiwa yang terus bergema dan menjadi dasar hubungan yang masih berlaku. Deuteronomy menggunakan simple past tense (“brought”), yang lebih menceritakan sebuah peristiwa sejarah yang telah selesai.

BACA JUGA  Mata Pelajaran IPS SMA serta Wajib Semua Jurusan Membuka Pikiran

Ritme dalam Exodus juga sedikit lebih panjang dan bertele-tele (“out of the land of Egypt, out of the house of bondage”), memberikan penekanan berulang pada kondisi perbudakan. Sementara Deuteronomy lebih ringkas (“out of the land of Egypt, from the house of bondage”). Dampak retorisnya, Exodus terasa lebih personal dan terus-menerus mengingatkan, cocok untuk peristiwa pengutaraan pertama di Gunung Sinai. Deuteronomy, yang diceritakan sebagai pidato Musa yang mengingatkan generasi baru, terdengar lebih seperti pengulangan fakta sejarah yang menjadi dasar perjanjian.

Jejak Linguistik Hukum Taurat dalam Sistem Hukum Common Law Modern

Pengaruh Dekalog melampaui tembok gereja dan menyusup ke fondasi sistem hukum di dunia Anglosphere, khususnya Common Law. Hubungannya tidak selalu langsung dan tekstual, tetapi lebih pada level filosofis dan prinsip etis yang menjadi batu pijakan. Salah satu contoh paling jelas adalah konsep hak milik (property) yang dilindungi oleh hukum ke-8, “Jangan mencuri”. Larangan ini mengakui dan mengukuhkan hak kepemilikan pribadi sebagai sesuatu yang sakral dan dilindungi secara moral.

Dalam tradisi Common Law, perkembangan hukum properti—mulai dari hukum tanah feodal hingga hukum kepemilikan intelektual modern—berakar pada premis dasar ini.

Pemikiran para filsuf hukum seperti John Locke tentang “life, liberty, and property” sangat dipengaruhi oleh kerangka moral biblical ini. Locke melihat hak properti sebagai perpanjangan dari diri individu yang diperoleh melalui pencampuran tenaga kerja dengan alam. Pandangan ini paralel dengan konsep bahwa mengambil milik orang lain tanpa hak bukan hanya pelanggaran duniawi, tetapi juga pelanggaran terhadap tatanan yang ditetapkan. Dalam yurisprudensi Common Law, prinsip ini diterjemahkan menjadi berbagai doktrin, seperti larangan terhadap konversi (penyalahgunaan barang milik orang lain), pencurian, dan penipuan.

Intinya, hukum ke-8 memberikan mandat moral bahwa masyarakat harus memiliki mekanisme untuk mengakui, menghormati, dan memulihkan hak milik, yang menjadi jantung dari stabilitas ekonomi dan sosial dalam masyarakat Barat.

Refleksi Hukum ke-9 dalam Preambel Konstitusi

Semangat melawan kesaksian palsu dan menegakkan kebenaran dalam hukum ke-9 menemukan gaungnya dalam dokumen-dokumen fondasional negara-negara Barat. Preambel konstitusi seringkali bukan hanya pernyataan tujuan, tetapi juga deklarasi prinsip-prinsip mendasar yang menjamin legitimasi dan keadilan sistem hukum yang akan dibangun.

  • Amerika Serikat: Frasa “establish Justice” dan “insure domestic Tranquility” dalam Pembukaan Konstitusi AS secara tidak langsung bergantung pada prinsip kejujuran dalam kesaksian. Keadilan tidak dapat ditegakkan tanpa komitmen untuk mencari dan menyatakan kebenaran, yang merupakan antitesis dari “bearing false witness”.
  • Irlandia: Preambel Konstitusi Irlandia (Bunreacht na hÉireann) menyatakan tujuan untuk mempromosikan “kesejahteraan umum” (the common good). Mencapai kesejahteraan umum mustahil jika fondasinya adalah kebohongan dan penipuan dalam kesaksian di pengadilan atau kehidupan publik.
  • Afrika Selatan: Konstitusi pasca-apartheid Afrika Selatan yang progresif dalam Pembukaannya berikrar untuk “mendirikan sebuah masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai demokratis, keadilan sosial, dan hak asasi manusia”. Masyarakat yang adil secara sosial sangat memerlukan kejujuran dan transparansi, yang secara langsung menolak praktik kesaksian palsu yang pernah digunakan sebagai alat penindasan di masa lalu.

Metafora Timbangan Keadilan

Salah satu ikon visual paling abadi dalam sistem peradilan adalah timbangan keadilan yang dipegang oleh Iustitia, sang Dewi Keadilan. Timbangan ini bukan sekadar hiasan; ia adalah metafora visual yang dalam, yang akar filosofisnya dapat ditelusuri ke larangan ketidakadilan dalam Dekalog, khususnya hukum ke-9 tentang kesaksian palsu dan prinsip keadilan secara keseluruhan. Timbangan itu melambangkan penimbangan bukti yang adil, objektif, dan seimbang dari kedua belah pihak yang bersengketa.

Setiap sisi timbangan mewakili argumen, klaim, dan bukti yang diajukan.

Visualisasi ini secara langsung menentang “false witness” yang akan mengotori dan memberatkan satu sisi timbangan secara tidak adil dengan kebohongan. Tangan yang memegang timbangan harus netral dan stabil, mencerminkan peran hakim atau juri yang tidak memihak. Dalam konteks yang lebih luas, timbangan juga melambangkan penimbangan antara hak individu dan kepentingan umum, antara hukuman dan belas kasihan. Setiap ukiran atau patung timbangan keadilan di atas pintu pengadilan adalah pengingat visual yang terus-menerus bahwa tujuan hukum adalah menyeimbangkan berbagai kepentingan untuk mencapai kebenaran dan keadilan, sebuah prinsip yang sejalan dengan semangat moral Dekalog.

Interpretasi Kata “Covet” dalam Yurisprudensi

Terjemahan hukum ke-10 mempertahankan kata “covet” (mengingini), sebuah pilihan leksikal yang sangat penting. Berbeda dengan “want” atau “desire” yang lebih umum, “covet” secara khusus berarti mengingini dengan penuh nafsu sesuatu yang menjadi milik orang lain. Kata ini menginternalisasi larangan; ia bukan lagi tentang tindakan luar (membunuh, mencuri), tetapi tentang kondisi batin, niat, dan keinginan hati. Dalam yurisprudensi, pergeseran ini membuka pintu bagi diskusi kompleks tentang “mens rea” atau niat jahat.

Hukum pidana modern sering membedakan antara memiliki keinginan jahat dan melaksanakan keinginan itu menjadi tindakan kriminal.

Meskipun sekadar “mengingini” bukanlah delik pidana dalam sistem hukum sekuler modern (kecuali dalam konteks konspirasi atau percobaan yang melibatkan persiapan tindakan), konsep ini sangat relevan dalam hukum perdata terkait niat. Misalnya, dalam kasus penipuan atau pelanggaran kepercayaan, pembuktian bahwa terdakwa “mengingini” keuntungan yang tidak sah dapat menjadi unsur penting. Lebih luas lagi, semangat larangan ini mempengaruhi etika profesi dan aturan tentang conflict of interest.

Seorang hakim atau pejabat publik tidak hanya dilarang mengambil suap (tindakan), tetapi juga diharapkan untuk menghindari situasi di mana keinginan pribadi (“covetousness”) dapat mengganggu penilaian objektifnya. Dengan demikian, “covet” menghubungkan dunia moralitas batin dengan kerangka hukum yang mengatur niat dan integritas.

Transformasi Naratif Sepuluh Firman dalam Sastra Inggris Abad Renaisans

Sastra Inggris era Renaisans, yang bergelut dengan pertanyaan tentang kekuasaan, moralitas, dan kodrat manusia, sering menggunakan Dekalog sebagai kerangka moral untuk menguji karakter-karakternya. Drama-drama Shakespeare, misalnya, penuh dengan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip ini, dan konsekuensinya seringkali menjadi penggerak tragedi. Dalam “Macbeth”, ambisi sang protagonis mendorongnya untuk melanggar serangkaian hukum secara beruntun. Dia membunuh Raja Duncan (melanggar hukum ke-6 dan secara tidak langsung ke-8 dengan merampas tahta), atas hasutan istrinya mereka juga “bear false witness” dengan menyembunyikan kejahatan dan berpura-pura terkejut.

Pelanggaran terhadap hukum ke-10 (mengingini tahta yang bukan miliknya) adalah bibit awal kehancuran mereka.

Konsekuensi naratifnya adalah kehancuran total: kegilaan, keterasingan, dan kematian. Dunia dalam tragedi Shakespeare sering digambarkan sebagai tatanan alam yang terganggu oleh pelanggaran moral, dan pemulihan tatanan hanya mungkin terjadi setelah si pelanggar dihancurkan. Dalam “King Lear”, pelanggaran utama terletak pada hukum ke-5: “Hormatilah ayahmu dan ibumu”. Lear sendiri gagal sebagai ayah dengan menguji cinta anak-anaknya secara dangkal, sementara Goneril dan Regan secara terang-terangan tidak menghormati dan mengkhianati ayah mereka.

Anak yang taat, Cordelia, justru diusir karena kejujurannya. Pelanggaran terhadap hierarki keluarga ini mencerminkan dan menyebabkan kekacauan di seluruh kerajaan, mengakibatkan perang, pengkhianatan, dan kematian yang menyedihkan. Dekalog berfungsi sebagai peta moral yang menunjukkan bagaimana satu pelanggaran dapat meruntuhkan seluruh tatanan personal dan sosial.

Konflik Batin dalam “Paradise Lost” Berdasarkan Dekalog

Dalam epik John Milton “Paradise Lost”, konflik antara ketaatan dan pemberontakan terhadap Tuhan dapat dipetakan melalui pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Dekalog. Karakter-karakternya, terutama Satan, Adam, dan Hawa, bergumul dengan dorongan yang pada akhirnya melanggar hukum ilahi.

>Satan mengingini tahta Tuhan, Hawa (terhasut) mengingini pengetahuan yang dilarang.

Hukum Karakter Pelanggaran Akibat Alegoris
1 (Tiada Tuhan lain) Satan Menyamakan dirinya dengan Yang Mahatinggi dan mengajak pemberontakan. Jatuhnya dari Surga, menjadi personifikasi Kejahatan dan iri hati yang abadi.
3 (Menyebut Nama Tuhan dengan sia-sia) Satan Selalu menyebut Tuhan dengan penuh kebencian dan ejekan, bukan penghormatan. Menunjukkan kebusukan batinnya; kata-katanya menjadi racun yang memutarbalikkan kebenaran.
10 (Jangan mengingini) Satan & Hawa Keinginan ini menjadi akar dari semua kejahatan: pemberontakan dan kejatuhan manusia.
5 (Hormati orang tua) Adam & Hawa Tidak taat kepada “Bapa” mereka, Tuhan, yang telah memberi perintah jelas. Mengakibatkan diusir dari “rumah” (Taman Eden), kehilangan hubungan harmonis dengan Sang Pencipta.
BACA JUGA  Bagian Warisan Istri pada Pria Meninggal dengan Tiga Istri dan Lima Anak dan Cara Menghitungnya

Penggunaan Diksi King James Bible dalam Puisi John Donne

Penyair metafisik John Donne, yang juga seorang pendeta, banyak meresapi puisinya dengan bahasa dan tema dari Alkitab, khususnya versi King James yang sezaman dengannya. Dalam puisi-puisinya tentang penyesalan, dosa, dan rahmat, diksi dari Dekalog sering muncul untuk menyampaikan intensitas pelanggaran dan kerinduan akan pengampunan.

From “Holy Sonnet XIV”:
“Yet dearly I love you, and would be loved fain,
But am betrothed unto your enemy.
Divorce me, untie or break that knot again,
Take me to you, imprison me, for I,
Except you enthrall me, never shall be free,
Nor ever chaste, except you ravish me.”

Di sini, meskipun tidak mengutip langsung, semangat hukum pertama tentang kesetiaan eksklusif kepada Tuhan sangat kuat. Pembicara menggambarkan dirinya “bertunangan” dengan musuh Tuhan (dosa, Setan), yang merupakan bentuk penyembahan berhala. Bahasa “divorce me” (ceraikan aku) dan “imprison me” (penjarakan aku) adalah paradoks yang kuat tentang kebebasan sejati melalui penyerahan total, mencerminkan pergumulan untuk mematuhi perintah utama: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”.

Donne menggunakan bahasa kontrak dan hubungan (bertunangan, menceraikan) yang personal untuk menggambarkan pelanggaran moral, sebuah pendekatan yang membuat Dekalog terasa sangat intim dan mendesak.

Pergeseran Makna “Honor” dalam Konteks Feodal Inggris

Hukum ke-5, “Hormatilah ayahmu dan ibumu”, dalam konteks aslinya adalah perintah dalam masyarakat pastoral Timur Tengah yang menekankan stabilitas keluarga dan kelangsungan klan. Hormat berarti ketaatan, perawatan di masa tua, dan menjaga nama baik keluarga. Ketika nilai ini diadopsi ke dalam sastra Inggris periode Renaisans dan abad pertengahan, ia mengalami transformasi yang signifikan untuk mencerminkan struktur masyarakat feodal yang sangat hierarkis.

Dalam setting ini, “honor” (kehormatan) menjadi konsep yang lebih luas, terkait dengan kode kesatria, loyalitas kepada raja (sebagai “bapa negara”), dan hierarki sosial yang kaku.

Dalam literatur seperti cerita-cerita Arthurian atau drama sejarah Shakespeare, menghormati ayah bisa berarti menaati perintah raja untuk berperang, atau membalas dendam atas kematian ayah untuk memulihkan kehormatan keluarga—seperti yang dilakukan Hamlet. Kehormatan tidak lagi sekadar sikap baik di dalam rumah, tetapi menjadi mata uang sosial publik yang menentukan status dan nyawa seseorang. Pelanggaran terhadap hierarki ini, seperti pemberontakan anak terhadap ayah (misalnya, Prince Hal yang awalnya tampak menyia-nyiakan harapan Henry IV), menjadi konflik sentral.

Transformasi ini menunjukkan bagaimana sastra mengambil prinsip moral universal dari Dekalog dan mengenakannya pada pakaian budaya yang spesifik, dalam hal ini kode kehormatan feodal yang menjadi tulang punggung tatanan sosial Inggris pada masa itu.

Dekalog sebagai Fondasi Etika dalam Manual Perdagangan dan Bisnis Victoria

Era Victoria di Inggris ditandai dengan ledakan industri, perdagangan, dan kapitalisme modern. Di tengah perubahan sosial yang cepat dan godaan ketidakjujuran yang besar, para penulis manual etiket, kode etik komersial, dan nasihat bisnis sering kali mencari fondasi moral yang kokoh. Mereka menemukannya dalam Dekalog. Prinsip-prinsip seperti “jangan mencuri” dan “jangan mengingini” diadaptasi dari konteks personal ke dalam dunia bisnis yang impersonal.

“Jangan mencuri” tidak lagi hanya berarti mengambil dompet seseorang, tetapi meluas ke pencurian gagasan (plagiarisme), penipuan dalam timbangan atau ukuran, manipulasi pasar, dan penggelapan dana. Buku-buku pedoman menekankan bahwa kejujuran adalah “kebijakan terbaik” bukan hanya karena alasan religius, tetapi karena ia membangun reputasi—sebuah aset tak berwujud yang paling berharga dalam perdagangan.

Demikian pula, larangan “mengingini” ditransformasikan menjadi etika kompetisi. Seorang pedagang Victoria yang baik boleh saja berambisi untuk berkembang, tetapi tidak boleh mengingini secara tidak sehat milik pesaingnya dengan cara-cara yang kotor, seperti menyebarkan fitnah, memata-matai rahasia dagang, atau melanggar paten. Keinginan harus dikendalikan dan diarahkan pada inovasi dan kerja keras, bukan pada hasrat untuk memiliki apa yang sudah menjadi hak orang lain.

Manual-manual ini pada dasarnya menjadikan Dekalog sebagai kerangka untuk “self-help” moral, meyakinkan kelas menengah yang sedang naik daun bahwa kesuksesan materi bisa sejalan dengan integritas spiritual.

Jargon Perdagangan Victoria yang Terinspirasi Bahasa Kitab Suci, 10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris

Bahasa perdagangan zaman Victoria banyak meminjam kosa kata dan frasa dari Alkitab, memberikan nuansa keseriusan dan kepercayaan pada transaksi duniawi. Penggunaan jargon ini bukan hanya sekadar gaya, tetapi juga upaya untuk mengaitkan aktivitas komersial dengan nilai-nilai yang dianggap luhur dan abadi.

  • “As good as his bond”: Ungkapan yang menggambarkan seseorang yang kata-katanya dapat dipercaya seperti surat berharga. Ini mencerminkan semangat hukum ke-9 tentang kesaksian yang jujur dan janji yang harus ditepati.
  • “By weight and measure”: Frasa yang menekankan keakuratan dan kejujuran dalam transaksi, langsung terkait dengan penafsiran hukum ke-8 tentang pencurian melalui kecurangan.
  • “Fair and square”: Menggambarkan transaksi yang adil dan tanpa tipu daya, sebuah prinsip keadilan yang merupakan inti dari banyak hukum dalam Dekalog.
  • “Gospel truth”: Digunakan untuk menyatakan bahwa suatu informasi (misalnya, tentang kualitas barang) adalah benar mutlak, seperti kebenaran dalam Injil, menuntut tingkat kejujuran yang tertinggi.

Iklan yang Menggunakan Otoritas Moral Dekalog

10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris

Source: kaskus.id

Surat kabar abad ke-19 sering memuat iklan yang tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga karakter penjualnya. Banyak pengusaha menggunakan otoritas moral, termasuk referensi langsung atau tidak langsung kepada Dekalog, untuk membedakan diri mereka dari pesaing yang tidak jujur.

Dari “The Manchester Guardian”, sekitar 1850-an:
“TO THE WORTHY CITIZENS OF MANCHESTER — J. P. HARDWICKE & SONS, Mercers and Drapers, beg to affirm that their business is conducted upon the immutable principles of Christian morality. We do not bear false witness against our competitors, nor covet the customer by deceptive puffery. Our goods are marked in plain figures — THOU SHALT NOT STEAL is the maxim of our pricing.

Visit our establishment for honest value and Sabbath-day courtesy.”

Iklan semacam ini secara langsung mengangkat hukum ke-8 (dengan menyebut “Thou shalt not steal” dalam konteks harga), hukum ke-9 (tidak memfitnah pesaing), dan hukum ke-10 (tidak mengingini pelanggan dengan cara curang). Ini menunjukkan bagaimana Dekalog digunakan sebagai alat pemasaran untuk membangun kepercayaan.

Transformasi Konsep Sabbath menjadi Argumen Hak Pekerja

Hukum ke-4 tentang hari Sabbath (hari perhentian) mengalami transformasi radikal selama Revolusi Industri. Dari perintah keagamaan untuk beribadah, ia diambil alih oleh gerakan buruh awal sebagai senjata moral untuk menuntut waktu istirahat. Para pemimpin gerakan dan penulis pamflet berargumen bahwa jika Tuhan sendiri beristirahat pada hari ketujuh dan memerintahkan manusia untuk melakukan hal yang sama, maka tidaklah manusiawi dan tidak bermoral bagi para pemilik pabrik untuk mempekerjakan buruh—termasuk wanita dan anak-anak—selama 12-16 jam sehari, 6 atau bahkan 7 hari seminggu.

Mereka menggunakan bahasa Kitab Suci untuk menuntut “a weekly day of rest” (satu hari istirahat per minggu) yang bukan hanya untuk ibadah, tetapi untuk pemulihan fisik, kehidupan keluarga, dan martabat manusia. Pamflet-pamflet ini berhasil memframing ulang Sabbath dari kewajiban religius menjadi hak pekerja yang universal, sebuah argumen yang sangat kuat di masyarakat yang masih sangat religius. Perjuangan ini akhirnya berkontribusi pada pengesahan hukum seperti Factory Acts di Inggris yang membatasi jam kerja dan mewajibkan hari libur, menunjukkan bagaimana prinsip alkitabiah diinterpretasikan ulang untuk menjawab ketidakadilan sosial di era industrial.

BACA JUGA  Ayat Al‑Quran tentang Menghormati Kedua Orang Tua Fondasi Hidup Harmoni

Anatomi Visual Simbol-Simbol Dekalog dalam Arsitektur dan Heraldik Inggris

Dekalog tidak hanya hidup dalam teks dan khotbah, tetapi juga diukir pada batu dan kayu, dilukis pada kaca, dan dirajam pada lambang-lambang kebesaran. Di seluruh Inggris, simbol-simbolnya menghiasi bangunan-bangunan publik dan keagamaan, berfungsi sebagai pengingat visual yang konstan tentang fondasi moral masyarakat. Simbol paling umum adalah dua loh batu, sering digambarkan dengan puncaknya yang melengkung, terkadang dengan angka Romawi I hingga X terukir di atasnya.

Ukiran ini sering ditemukan di fasad pengadilan lama, balai kota, dan tentu saja, gereja-gereja katedral. Penempatannya di pengadilan sangat signifikan: ia menegaskan bahwa hukum manusia yang dijalankan di dalam gedung itu harus berjalan seiring dengan hukum ilahi yang lebih tinggi.

Dua loh batu itu sendiri biasanya dibagi: lima perintah pertama (tentang hubungan manusia dengan Tuhan) di loh kanan, dan lima perintah terakhir (tentang hubungan manusia dengan sesama) di loh kiri. Pembagian ini secara visual menyampaikan hierarki dan keseimbangan. Dalam arsitektur Gothic, simbol ini sering ditempatkan di sekitar pintu masuk atau di atas mimbar, area liminal antara yang profan dan yang sakral.

Penggunaannya pada bangunan sekuler seperti pengadilan adalah pernyataan bahwa otoritas sipil mengakui sumber moralitas yang transenden, dan bahwa keadilan duniawi harus mencerminkan keadilan ilahi.

Unsur Heraldik yang Merefleksikan Nilai Dekalog

Dunia heraldik (ilmu tentang lambang kebesaran) penuh dengan simbolisme, dan banyak nilai yang paralel dengan Dekalog diwakili melalui gambar-gambar tertentu pada lambang keluarga bangsawan, kota, atau institusi. Nilai-nilai seperti kejujuran (hukum ke-9), kesetiaan (hukum ke-7), dan kepuasan hati (hukum ke-10) sering diungkapkan.

  • Kunci yang Bersilangan: Sering melambangkan kepercayaan dan kejujuran (seperti penjaga harta atau rahasia). Ini terkait dengan hukum ke-9 tentang kesaksian yang benar dan hukum ke-8 tentang menjaga milik orang lain yang dipercayakan.
  • Burung Merpati: Simbol kesetiaan dan kesucian dalam perkawinan, secara langsung mencerminkan semangat hukum ke-7. Burung merpati sering muncul pada lambang keluarga yang ingin menekankan kesetiaan garis keturunan dan kehormatan rumah tangga.
  • Tangan yang Terbuka atau Memberi: Melambangkan kemurahan hati, kejujuran, dan ketiadaan niat mencuri atau mengingini. Ini adalah antitesis visual dari “covetousness” (hukum ke-10). Sebuah tangan terbuka menunjukkan bahwa tidak ada yang disembunyikan dan tidak ada keinginan untuk mengambil secara tidak sah.
  • Cincin: Simbol kesetiaan dan ikatan yang tak terputus, lagi-lagi mengacu pada kesetiaan dalam perjanjian (perkawinan atau lainnya), terkait dengan hukum ke-7 dan ke-9.

Artefak Seni Dekalog di Berbagai Lokasi di Inggris

Penggambaran artistik dari Sepuluh Firman tersebar di berbagai media dan lokasi di Inggris, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri yang mencerminkan periode dan konteksnya.

Lokasi Medium Seni Hukum yang Digambar Ciri Khas Penggambaran
Katedral Salisbury, Wiltshire Ukuran Choir Stalls (Bangku Paduan Suara) dari abad ke-13 Kesepuluh Hukum (dalam bentuk simbolik) Diukir pada ujung bangku kayu ek (misericord), menggambarkan adegan-adegan naratif yang melambangkan pelanggaran terhadap masing-masing hukum, penuh dengan detail kehidupan sehari-hari abad pertengahan.
Gereja St. Lawrence, West Wycombe, Buckinghamshire Lukisan Dinding (Fresko) abad ke-18 Sepuluh Firman dalam bentuk teks lengkap Tertulis dalam bingkai yang megah di atas lengkungan chancel, menggunakan huruf Romawi yang jelas. Penempatannya yang sentral dan teksual (bukan simbolik) mencerminkan penekanan era Pencerahan pada kejelasan dan aksesibilitas aturan.
Museum Victoria & Albert, London (Koleksi) Panel Kaca Patri (Stained Glass) abad ke-15 dari biara yang dibubarkan Hukum ke-1 dan ke-2 (larangan penyembahan berhala) Menggambarkan Nabi Musa memecahkan loh batu di depan Patung Anak Lembu Emas. Warna kaca yang kaya (merah, biru, emas) digunakan untuk kontras dramatis antara kemurkaan Musa dan kemewahan berhala yang sia-sia.
Gereja St. Mary, Nottingham Ukiran Batu di Fasad Eksterior abad ke-19 Dua Loh Batu (simbol universal) Dipahat dalam relief tinggi di atas pintu utama barat, diapit oleh figur-figur alegori Keadilan dan Kemurahan Hati. Penggambaran neo-Gothic ini menunjukkan kebangkitan kembali minat pada simbolisme agama abad pertengahan selama era Victoria.

Komposisi dalam Manuskrip Iluminasi Abad Pertengahan

Dalam manuskrip iluminasi abad pertengahan yang memuat teks Dekalog, komposisi warna dan tata letak bukanlah hal yang kebetulan. Mereka dirancang untuk menyampaikan pesan hierarki, otoritas, dan ketakjuban. Halaman yang memuat Sepuluh Firman sering diberikan perlakuan istimewa. Teksnya mungkin ditulis dalam huruf yang lebih besar atau dengan tinta emas atau perak yang berkilauan, segera menarik perhatian mata. Inisial huruf pertama, khususnya “T” dalam “Thou” atau “I” dalam “I am the Lord thy God”, sering dihiasi dengan rumit (historiated initial), mungkin berisi gambar Musa menerima loh batu atau Tuhan yang berkuasa.

Penggunaan warna sangat simbolis. Latar belakang mungkin berwarna biru lapis lazuli yang mahal, melambangkan surga dan otoritas ilahi. Huruf emas melambangkan cahaya dan kebenaran Tuhan. Warna merah (vermilion) mungkin digunakan untuk penekanan atau untuk huruf-huruf tertentu, menyimbolkan darah perjanjian atau keseriusan peringatan. Tata letaknya seringkali simetris dan teratur, mencerminkan sifat hukum itu sendiri yang tertib dan absolut.

Gambar dekoratif di sekeliling teks, seperti sulur-sulur atau figur-figur nabi, berfungsi sebagai bingkai yang memuliakan dan mengarahkan pembaca untuk memusatkan perhatian pada kata-kata suci tersebut. Setiap elemen visual bekerja sama untuk menciptakan pengalaman multisensor yang mengesankan bahwa teks yang dibaca ini bukanlah hukum biasa, tetapi firman yang turun dari surga.

Kesimpulan

Jadi, perjalanan 10 Hukum Taurat dalam Bahasa Inggris mengungkap sebuah narasi yang jauh lebih kaya daripada daftar larangan belaka. Ia adalah benang merah yang menjahit keyakinan teologis dengan perkembangan peradaban Barat. Dari konsonan keras dalam kata “kill” yang menggema di pengadilan, hingga metafora “timbangan keadilan” yang akarnya bisa ditelusuri dari larangan ketidakadilan, pengaruhnya bersifat mendasar dan sublim. Ia hidup dalam konflik batin karakter Shakespeare, dalam kode etik pedagang Victoria, dan dalam hiasan katedral Gothic.

Pada akhirnya, mempelajari ini adalah memahami bagaimana sebuah teks suci berubah menjadi kekuatan budaya yang aktif. Ia tidak statis; ia beradaptasi, ditafsirkan ulang, dan terus berdialog dengan zaman. Jejaknya yang tertanam dalam bahasa Inggris modern adalah bukti bahwa kata-kata yang dianggap kuno itu masih memiliki suara, masih membisikkan tentang batas, tanggung jawab, dan tatanan dalam kekacauan dunia manusia.

Pertanyaan Populer dan Jawabannya

Apakah ada satu versi terjemahan Bahasa Inggris yang dianggap paling resmi atau paling akurat?

Tidak ada satu versi yang paling “resmi”. King James Version (KJV) sangat dihormati karena pengaruh sejarah dan sastranya, sementara versi seperti New International Version (NIV) atau English Standard Version (ESV) berusaha lebih dekat pada naskah sumber dengan bahasa Inggris modern. Pilihan versi sering bergantung pada tradisi keagamaan, tujuan studi, atau preferensi pribadi.

Mengapa beberapa terjemahan menggunakan “Thou shalt not” dan yang lain “You shall not”?

“Thou” adalah kata ganti tunggal yang informal dalam bahasa Inggris kuno, digunakan untuk menyapa orang yang dekat atau statusnya lebih rendah. Penggunaannya dalam KJV memberi nuansa langsung, personal, dan otoritatif dari Tuhan kepada individu. “You shall not” lebih modern dan netral, cocok untuk audiens kontemporer, meski mungkin kehilangan nuansa hierarkis dan kesan historis tersebut.

Bagaimana Hukum Taurat dalam bahasa Inggris mempengaruhi ungkapan atau idiom sehari-hari?

Banyak sekali. Frasa seperti “an eye for an eye” (yang meski berasal dari hukum lain), spirit “Thou shalt not kill/steal/bear false witness” yang menjadi dasar etika universal, dan konsep “covet” yang terkait dengan keinginan yang tidak sehat, telah meresap dalam wacana moral, hukum, dan bahkan percakapan biasa, membentuk pemahaman kolektif tentang benar dan salah.

Apakah semua sistem hukum di negara berbahasa Inggris secara langsung mengadopsi 10 Hukum Taurat?

Tidak secara langsung sebagai hukum positif. Namun, prinsip-prinsip dasarnya—seperti larangan pembunuhan, pencurian, dan sumpah palsu—telah menjadi fondasi common law dan etika hukum Barat. Pengaruhnya lebih pada level filosofis dan pembentukan nilai-nilai dasar keadilan masyarakat, bukan penerapan literal teks agamanya.

Di mana saya bisa melihat penggambaran visual 10 Hukum Taurat dalam budaya Inggris?

Penggambaran visualnya banyak ditemukan pada arsitektur gereja-gereja katedral dan pengadilan lama, berupa ukiran dua loh batu di fasad, jendela kaca patri (stained glass), atau mosaik. Simbol-simbol heraldik pada lambang keluarga bangsawan atau kota juga sering mengacu pada nilai-nilai dalam Dekalog, seperti pedang untuk keadilan atau cincin untuk kesetiaan.

Leave a Comment