Buat 2 puisi perjuangan, 1 puisi 3 bait (4 baris per bait)

Berjalan menembus reda, langkah menapak jejak terik api,
Membelah kabut kegagalan, meniti asa yang berani,
Di tiap hela napas, terpatri tekad yang tak akan menyerah,
Sinar harapan menyalakan cahaya di tengah malam gelap.

Deru tiang bumi bergema, menegakkan jiwa yang terpinggir,
Mata berbinar menatap puncak, memecah belenggu rasa takut,
Tangan bersatu menumbuk rintangan, menorehkan jejak keberanian,
Nyali menyatu dalam denting detik perjuangan yang tak berhenti.

Gemuruh hati tak tergoyahkan, menaklukkan tiap goresan luka,
Lihatlah langit, biru berseri, saksi perjalanan para pejuang,
Satu langkah, satu mimpi, menghalau gelap yang menunggu,
Kita tetap berdiri, menaklukkan batas, menulis sejarah.

Langit kelam tak memadamkan kilau semangat,
Di lapangan perjuangan, tiap tetes keringat menjadi bintang,
Kita menebar benih harapan, menunggu musim panen kemenangan,
Berpeluh bersama, menapaki jalan tanpa ragu.

Rintik hujan menguji tekad, menetes pada batu hati,
Namun tiap tetes menyulam kekuatan, menyalakan kembali bara,
Suara kebersamaan bergema, menara mimpi merangkak menembus awan,
Kita melangkah, menapaki jejak, tak gentar pada badai.

Di ujung lorong kelam, cahaya menanti,
Suara langkah bersahutan, menuntun pada harapan baru,
Setiap napas menyulam cerita, tiap peluh menulis sejarah,
Kita adalah nyala, pengusir kelam, penjaga asa yang abadi.

BACA JUGA  Kalimat Persuasif Kritik Sastra: Dua Garis Biru

Leave a Comment