Suku ke-10 dari barisan bilangan 2 20 200 2000 adalah

Suku ke-10 dari barisan bilangan: 2, 20, 200, 2.000, adalah – Suku ke-10 dari barisan bilangan: 2, 20, 200, 2.000, adalah sebuah misteri numerik yang jawabannya ternyata lebih dekat dari yang kita kira. Coba perhatikan deret angkanya sejenak. Ada sebuah ritme, sebuah pola tersembunyi yang jika berhasil kita tangkap, akan membuka pintu untuk memprediksi bukan hanya suku kesepuluh, tapi suku ke-seratus atau bahkan ke-seribu sekalipun. Ini bukan sekadar hafalan, tapi tentang memahami logika di balik urutan bilangan yang tampaknya sederhana itu.

Barisan bilangan seperti ini adalah cerita tentang pertumbuhan yang eksplosif, di mana setiap langkah maju melipatgandakan nilai sebelumnya. Dari 2 menjadi 20, lalu melompat ke 200, dan seterusnya. Pola semacam ini tidak hanya hidup di buku matematika, tapi juga dalam realita di sekitar kita, mulai dari perkembangbiakan sel hingga penyebaran informasi viral. Mari kita bedah bersama polanya dan temukan angka ajaib yang menjadi suku ke-10.

Pengertian dan Konsep Dasar Barisan Bilangan

Dalam matematika, barisan bilangan adalah daftar urutan bilangan yang disusun berdasarkan aturan atau pola tertentu. Setiap bilangan dalam daftar itu disebut suku. Kalau kamu membayangkan deretan angka di papan skor, nomor antrian, atau bahkan daftar harga yang naik secara teratur, itulah esensi dari barisan. Konsep ini bukan sekadar hafalan angka, tapi lebih pada memahami logika di balik urutannya.

Barisan berbeda dengan himpunan bilangan biasa. Perbedaan utamanya terletak pada urutan dan keberulangan pola. Dalam himpunan, urutan tidak penting dan anggota yang sama biasanya tidak ditulis ulang. Sementara dalam barisan, posisi setiap suku sangat krusial. Suku pertama, kedua, dan seterusnya punya tempat yang tetap dan nilainya ditentukan oleh posisinya berdasarkan suatu aturan.

Jenis-Jenis Barisan Berdasarkan Pola

Berdasarkan pola perubahannya, barisan umumnya dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Pengelompokan ini membantu kita untuk merumuskan dan memprediksi suku-suku selanjutnya dengan lebih sistematis.

  • Barisan Aritmatika: Barisan dengan selisih antara dua suku berurutan yang selalu tetap. Selisih ini disebut beda. Contoh: 3, 7, 11, 15, … (beda = 4).
  • Barisan Geometri: Barisan dengan rasio antara dua suku berurutan yang selalu tetap. Rasio ini adalah hasil bagi suatu suku dengan suku sebelumnya. Contoh: 2, 6, 18, 54, … (rasio = 3).
  • Barisan Bilangan Persegi/Kubik: Mengikuti pola pangkat, seperti 1, 4, 9, 16, … (kuadrat dari bilangan asli) atau 1, 8, 27, 64, … (kubik dari bilangan asli).
  • Barisan Fibonacci: Setiap suku adalah jumlah dari dua suku sebelumnya, dimulai dari 0 dan
    1. Contoh: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, …

Cara Mengenali Pola Suatu Barisan, Suku ke-10 dari barisan bilangan: 2, 20, 200, 2.000, adalah

Mengenali pola adalah langkah pertama yang menentukan. Mulailah dengan mengamati hubungan antar suku yang berdekatan. Apakah bertambah dengan bilangan yang sama? Apakah dikali dengan bilangan yang sama? Ataukah polanya lebih kompleks, seperti melibatkan operasi pada posisi sukunya?

BACA JUGA  Menyelesaikan Soal Persegi Panjang ABCD Keliling 64 cm dan Sisi AB 4 cm Lebih Panjang

Perhatikan juga angka-angkanya, apakah berkaitan dengan bilangan prima, kelipatan, atau bentuk lainnya. Dari beberapa suku awal yang diberikan, cobalah untuk menebak aturannya dan uji aturan itu untuk memprediksi satu atau dua suku berikutnya. Jika cocok, kemungkinan besar kamu telah menemukan polanya.

Nah, kalau kamu sudah tahu suku ke-10 dari barisan 2, 20, 200, 2.000, adalah 2.000.000.000, berarti kamu jago pola. Tapi jangan cuma berhenti di angka, coba tantangan lain yang butuh logika seru kayak menghitung tinggi maksimum balon udara dengan fungsi kuadrat ini. Soal seperti itu melatih nalarmu, persis seperti saat kamu menemukan pola untuk menentukan suku ke-10 tadi.

Jadi, kembangkan terus skill berpikirmu!

Mengidentifikasi Pola pada Barisan Numerik Spesifik

Mari kita fokus pada barisan yang diberikan: 2, 20, 200, 2.000, … Sekilas, angkanya terlihat membesar dengan cepat. Jika kita perhatikan dengan saksama, dari 2 ke 20 berarti dikali
10. Dari 20 ke 200 juga dikali
10. Begitu pula dari 200 ke 2.000, lagi-lagi dikali
10.

Polanya sudah jelas: setiap suku berikutnya diperoleh dengan mengalikan suku sebelumnya dengan bilangan 10.

Langkah sistematisnya sederhana: identifikasi operasi dari suku ke suku. Setelah menemukan operasi perkalian dengan 10, kita bisa melanjutkannya. Jadi, setelah 2.000, suku kelima adalah 2.000 × 10 = 20.000. Suku keenam adalah 20.000 × 10 = 200.000, dan seterusnya. Pola perkalian seperti ini adalah ciri khas barisan geometri.

Posisi Suku (n) Nilai Suku Cara Mendapatkan Pola (Rasio 10)
1 2 Suku Awal 2 × 100
2 20 2 × 10 2 × 101
3 200 20 × 10 2 × 102
4 2.000 200 × 10 2 × 103
5 20.000 2.000 × 10 2 × 104

Contoh dalam kehidupan sehari-hari yang mengikuti pola serupa adalah pertumbuhan uang akibat bunga majemuk dengan suku bunga tetap, penyebaran berita viral di media sosial (satu orang memberi tahu sepuluh orang, lalu sepuluh orang itu masing-masing memberi tahu sepuluh orang lagi), atau pelipatgandaan populasi bakteri dalam kondisi ideal dimana satu bakteri membelah menjadi sepuluh setiap periode waktu tertentu.

Menentukan Rumus Suku Ke-n

Setelah pola ditemukan, langkah cerdas berikutnya adalah menyusun rumus umum. Rumus ini seperti kunci master yang bisa membuka nilai suku mana pun tanpa harus menghitung semua suku sebelumnya. Untuk barisan kita, 2, 20, 200, 2.000, …, kita tahu suku pertama (a) = 2 dan rasio (r) = 10.

Rumus umum suku ke-n (U n) untuk barisan geometri adalah U n = a × r (n-1). Hubungannya sangat elegan: posisi suku (n) langsung menentukan berapa kali faktor pengali (r) bekerja. Pangkat (n-1) muncul karena suku pertama tidak dikali rasio, suku kedua dikali rasio sekali, suku ketiga dikali rasio dua kali, dan begitu seterusnya.

Rumus suku ke-n bukanlah sekadar deretan simbol. Ia adalah alat prediksi yang ampuh. Bayangkan ingin mengetahui suku ke-Mustahil kita mengalikan dengan 10 secara manual sebanyak 99 kali. Dengan rumus, perhitungan menjadi mungkin hanya dalam satu langkah: U100 = 2 × 10 99. Ini menunjukkan kekuatan matematika dalam mengatasi kompleksitas dan skala besar.

Mari kita demonstrasikan. Untuk menghitung suku ke-6, kita masukkan n=6 ke dalam rumus: U 6 = 2 × 10 (6-1) = 2 × 10 5 = 2 × 100.000 = 200.
000. Untuk suku ke-8: U 8 = 2 × 10 (8-1) = 2 × 10 7 = 2 × 10.000.000 = 20.000.000. Hasilnya konsisten dengan pola perkalian beruntun yang kita bayangkan.

BACA JUGA  Tentukan KPK dari 36 dan 81 dengan Memfaktorkan Bilangan

Perhitungan dan Verifikasi Suku ke-10

Sekarang kita sampai pada inti pertanyaan: berapa suku ke-10? Menggunakan rumus yang telah kita susun, perhitungannya menjadi sangat lugas. Kita tetapkan n = 10, a = 2, dan r = 10.

U 10 = 2 × 10 (10-1) = 2 × 10 9. Nilai 10 9 adalah 1.000.000.000 (satu miliar). Jadi, U 10 = 2 × 1.000.000.000 = 2.000.000.000 (dua miliar).

Untuk memverifikasi dan meyakinkan diri, kita bisa melanjutkan pola dari suku ke-5 yang sudah kita ketahui: 20.000 (suku ke-5) × 10 = 200.000 (suku ke-6). Lalu 200.000 × 10 = 2.000.000 (suku ke-7). Kemudian 2.000.000 × 10 = 20.000.000 (suku ke-8). Selanjutnya 20.000.000 × 10 = 200.000.000 (suku ke-9). Terakhir, 200.000.000 × 10 = 2.000.000.000 (suku ke-10).

Hasilnya sama persis.

Suku ke- (n) Nilai (Metode Rumus) Nilai (Metode Pola Manual) Verifikasi
5 2 × 104 = 20.000 2.000 × 10 = 20.000 Cocok
6 2 × 105 = 200.000 20.000 × 10 = 200.000 Cocok
7 2 × 106 = 2.000.000 200.000 × 10 = 2.000.000 Cocok
8 2 × 107 = 20.000.000 2.000.000 × 10 = 20.000.000 Cocok
9 2 × 108 = 200.000.000 20.000.000 × 10 = 200.000.000 Cocok
10 2 × 109 = 2.000.000.000 200.000.000 × 10 = 2.000.000.000 Cocok

Efisiensi penggunaan rumus menjadi sangat nyata untuk suku dengan urutan besar. Bayangkan jika kita diminta suku ke-50. Metode manual mengharuskan kita melakukan 49 kali perkalian berantai yang rawan salah. Dengan rumus, kita hanya perlu menghitung U 50 = 2 × 10 49, sebuah tugas yang bahkan bisa dikerjakan kalkulator ilmiah dengan tepat dalam sekejap.

Nah, kalau kamu penasaran suku ke-10 dari barisan 2, 20, 200, 2.000 itu apa, konsep dasarnya sama kayak nemuin pola deret geometri. Biar lebih paham, coba intip dulu contoh konkret cara a. Tentukan rumus suku ke-n dari barisan 2, 4, 8, 16, ! b. Mengacu pada jawaban a, tulislah rumus suku ke-n dari barisan geometri berikut! (i) 8, 16, di sini.

Setelah itu, baru deh kamu bisa dengan mudah nemuin jawaban untuk barisan awal tadi, karena logika berpikirnya sudah kamu kuasai.

Aplikasi dan Variasi Pola Serupa

Pola barisan geometri tidak melulu dengan rasio 10. Ia bisa hadir dalam berbagai bentuk dan rasio, menciptakan kurva pertumbuhan yang berbeda-beda. Berikut tiga contoh variasi barisan baru dengan pola perkalian.

  • Barisan dengan rasio ½ (0.5): 64, 32, 16, 8, … Barisan ini justru mengecil, menggambarkan penyusutan atau peluruhan, seperti sisa zat radioaktif.
  • Barisan dengan rasio 3: 5, 15, 45, 135, … Pertumbuhannya lebih curam dari contoh awal, mirip ledakan populasi tertentu.
  • Barisan dengan rasio -2: 3, -6, 12, -24, … Rasio negatif menyebabkan suku-suku berganti tanda positif dan negatif secara berselang-seling.

Ilustrasi Pertumbuhan Populasi Bakteri

Suku ke-10 dari barisan bilangan: 2, 20, 200, 2.000,  adalah

Source: peta-hd.com

Bayangkan sebuah kultur bakteri di laboratorium. Setiap 1 jam, satu bakteri membelah diri menjadi 10 bakteri baru. Pada jam ke-0, ada 2 bakteri pionir. Setelah 1 jam (jam ke-1), kedua bakteri itu membelah, total menjadi 20 bakteri. Pada jam ke-2, 20 bakteri itu masing-masing membelah, menghasilkan 200 bakteri.

BACA JUGA  Diketahui Suku ke-9 dan ke-21 Adalah 12 dan 72 Tentukan Beda dan Suku Pertama Deret Aritmetika

Pada jam ke-3, jumlahnya meledak menjadi 2.000 bakteri. Pola jumlah bakteri setiap jam membentuk barisan persis seperti yang kita bahas: 2, 20, 200, 2.000, … Ini menunjukkan bagaimana pertumbuhan eksponensial dalam ilmu pengetahuan sering dimodelkan dengan barisan geometri.

Perbandingan dengan Barisan Aritmatika

Perbedaan mendasar antara barisan geometri dan aritmatika terletak pada sifat pertambahannya. Barisan aritmatika tumbuh secara linear, seperti tangga dengan anak tangga yang sama tingginya: 5, 10, 15, 20, … (selalu +5). Pertambahannya stabil dan dapat diprediksi. Sementara barisan geometri tumbuh secara eksponensial, seperti anak tangga yang tingginya berlipat ganda: 5, 10, 20, 40, …

(selalu ×2). Pertumbuhannya mulai lambat, lalu melesat sangat cepat. Dalam jangka panjang, pertumbuhan geometri akan selalu melampaui pertumbuhan aritmatika, sekalipun awalnya dimulai dari angka yang lebih kecil.

Kesalahan Umum dalam Identifikasi Pola

Kesalahan sering terjadi ketika kita terburu-buru mengambil kesimpulan hanya dari tiga suku pertama. Misalnya, barisan 2, 4, 8, … Banyak yang langsung menyimpulkan polanya “dikali 2” (geometri r=2). Padahal, bisa saja polanya adalah “ditambah 2, lalu ditambah 4, lalu ditambah 6” (selisihnya aritmatika), yang akan menghasilkan suku keempat 14, bukan 16. Atau pola lain seperti “dikalikan suku sebelumnya dengan bilangan genap berurutan”.

Inilah mengapa minimal empat suku seringkali diperlukan untuk mengonfirmasi pola yang konsisten, dan menguji prediksi untuk suku berikutnya adalah langkah validasi yang wajib.

Kesimpulan Akhir: Suku Ke-10 Dari Barisan Bilangan: 2, 20, 200, 2.000, Adalah

Jadi, begitulah ceritanya. Menemukan suku ke-10 dari barisan 2, 20, 200, 2000 bukanlah akhir perjalanan, melainkan sebuah pembuktian bahwa dengan memahami sebuah pola sederhana—dalam hal ini dikali 10—kita bisa menguasai sebuah urutan yang panjangnya tak terbatas. Rumus Un = 2 x 10^(n-1) adalah kunci rahasianya, alat ampuh yang jauh lebih efisien daripada mengalikan manual sepuluh kali berturut-turut. Ingatlah prinsip ini, karena pola serupa sering muncul dalam berbagai aspek, mengajarkan kita untuk selalu mencari ‘rasio’ atau aturan main di balik setiap kejadian yang berulang.

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah barisan 2, 20, 200, 2000 termasuk barisan aritmatika atau geometri?

Ini adalah barisan geometri, karena setiap suku diperoleh dengan mengalikan suku sebelumnya dengan bilangan tetap yang disebut rasio, yaitu 10. Berbeda dengan barisan aritmatika yang menambah dengan bilangan tetap.

Bagaimana jika suku pertama barisannya diubah, misalnya menjadi 5, tetapi rasionya tetap 10?

Rumusnya akan berubah menjadi Un = 5 x 10^(n-1). Suku ke-10-nya pun akan menjadi 5 x 10^9 = 5.000.000.000. Prinsipnya sama, hanya nilai awalnya yang berbeda.

Apakah pola perkalian 10 ini selalu menghasilkan angka yang diakhiri nol?

Ya, karena mengalikan dengan 10 berarti menambahkan satu angka nol di belakang. Jika suku pertama adalah bilangan bulat, maka suku berikutnya akan memiliki jumlah nol di belakang yang terus bertambah sesuai pangkatnya.

Dapatkah pola ini digunakan untuk menghitung suku ke-n yang sangat besar, misalnya suku ke-100?

Sangat bisa dan justru itulah keunggulan rumus. Menghitung suku ke-100 cukup dengan rumus Un = 2 x 10^(99), menghasilkan angka 2 diikuti 99 angka nol. Bayangkan jika harus mengalikan manual sebanyak 99 kali, pasti sangat tidak praktis.

Apa contoh konkret pola ini dalam kehidupan sehari-hari selain pertumbuhan bakteri?

Contohnya adalah penyebaran berita hoaks atau konten viral di media sosial (jika satu orang membagikan ke 10 orang, lalu mereka masing-masing membagikan ke 10 orang lagi), atau perhitungan bunga berbunga dengan persentase tertentu yang besar dalam periode waktu yang lama.

Leave a Comment